Klub Haus Buku

13 Oktober 2008

Pendidikan SastraTerpinggirkan : Perlu Diselenggarakan Olimpiade Sastra untuk Siswa

Filed under: Mutu,Pendidikan,Sastra,Ujian Nasional — opungregar @ 19:32
Tags:

Sumber : Kompas, Senin, 13 Oktober 2008 | 00:56 WIB via email Tobing Jr
Jakarta, Kompas – Sastra masih terpinggirkan di dalam dunia pendidikan yang cenderung mengedepankan ilmu eksakta. Padahal, pendidikan sastra sangat penting untuk pembentukan karakter. Olimpiade sastra dipandang dapat menjadi salah satu upaya mengedepankan sastra.

Pengamat sastra dari Universitas Indonesia, Maman S Mahayana, mengatakan, Sabtu (11/10), tersisihkannya sastra, juga bidang ilmu humaniora lainnya, tak lepas dari penekanan kebijakan pembangunan yang bersifat fisik dan adanya kebutuhan konkret terhadap ilmu eksakta.
Terutama pada awal pembangunan, tahun 1950-an. Namun, dalam perkembangannya, ilmu eksakta jauh lebih dihargai daripada ilmu humaniora dan sosial.

Hal itu dikukuhkan oleh pandangan masyarakat. ”Di sekolah, siswa jurusan Ilmu Pengetahuan Alam dianggap lebih cerdas daripada Ilmu Pengetahuan Sosial. Padahal, ilmu tidak dapat dipandang demikian karena secara holistik berkaitan dan saling melengkapi atau berkedudukan sejajar,” ujar Maman.

Sebagian masyarakat juga berpandangan sastra seakan membuang waktu dan tidak ada gunanya. Padahal, sastra berperan besar menanamkan nilai-nilai dan semacam investasi moral masa depan mengingat sastra berbicara tentang manusia dan kemanusiaan. Persoalan lain, di dalam dunia pendidikan, adalah guru cenderung mengajarkan sastra dari aspek teori, bukan apresiasi. Ujian dan ulangan juga tidak menekankan apresiasi, tetapi hafalan dengan memberikan soal-soal pilihan ganda.

”Untuk siswa sekolah dasar dan menengah pertama seharusnya pembelajaran sastra menekankan agar anak membaca dan memberikan tanggapan terhadap karya. Tentu akan terjadi perbedaan penafsiran yang justru akan melahirkan sikap menghormati pendapat orang lain. Dalam apresiasi tidak ada
istilah benar salah, tetapi mementingkan argumentasi dan alasannya. Mereka juga akan terdorong mempelajari karya lain guna mendukung gagasannya,” ujarnya.

Merangkum banyak aspek Sastrawan Putu Wijaya mengatakan hal senada. ”Orang cenderung merasa sastra
semacam hiburan dan melupakan sastra sebagai ilmu pengetahuan. Padahal, di dalam sastra terdapat segala macam ekspresi, misalnya, terdapat bahasa lisan, isyarat, tubuh, dan rupa. Sastra juga merangkum banyak aspek mulai dari agama, sejarah, antropologi, bahkan fisika,” katanya.

Putu mencontohkan, pengamat sosial politik Indonesia dari Universitas Cornell, Prof Benedict Anderson, menggunakan cerita-cerita pendek dalam telaah politiknya. Dalam karya Putu berjudul Nyali, misalnya, terlihat potret Indonesia pada 30 September 1965. Kaitan sastra dengan ilmu sosial sangat dekat.

Selama ini sastra hanya dianggap sebagai cerita. Sastra juga diajarkan bersama Bahasa Indonesia. Padahal, sastra merupakan ilmu tersendiri dan mencakup banyak dimensi. Ketika ditumpangkan dengan pelajaran Bahasa Indonesia, sastra berhenti pada hafalan-hafalan.

Olimpiade sastra
Maman juga berpendapat, olimpiade sastra dapat menjadi ajang mengangkat sastra di sekolah dan meningkatkan apresiasi terhadap sastra. Selama ini, di dunia pendidikan, olimpiade yang diselenggarakan lebih kepada bidang-bidang ilmu eksakta. Hanya saja penilaian dalam bidang sastra
bersifat kualitatif. ”Siswa dapat diberikan puisi untuk kemudian diapresiasi dan juri akan menilai apresiasi tersebut berdasarkan alasan dan argumennya. Apresiasi itu juga dapat dilihat sejauh mana memberikan
pencerahan baru dan menampilkan sisi yang selama ini tidak dilihat sehingga kekayaan teks dapat terungkap,” ujar Maman.

Penilaian berdasarkan kriteria tertentu dengan landasan teoretis yang disepakati dan menjadi pegangan obyektif. Tentu saja ada penilaian subyektif dalam menilai suatu karya sastra. Penilaian diumumkan dan terbuka untuk didebat. Dengan demikian, baik murid maupun juri menghargai perbedaan pendapat dan belajar memberikan argumentasi.

Putu Wijaya berpendapat bahwa olimpiade sastra merupakan ide yang menarik untuk dicoba. Terlebih lagi, sekarang, masyarakat tertarik dengan hal-hal yang populer. Akan tetapi, sebetulnya telah terdapat banyak festival sastra dan kompetisi yang digelar, hanya saja sifatnya tidak mencari juara. Putu mengatakan, sekalipun sastra merupakan dunia kreatif yang terkadang bisa sangat subyektif dan terus berkembang
nilai-nilainya, tetap saja dapat dilakukan penilaian karya. Penilaian terhadap suatu karya dilihat secara utuh. (INE)

5 Komentar »

  1. “sastra berperan besar menanamkan nilai-nilai dan semacam investasi moral masa depan mengingat sastra berbicara tentang manusia dan kemanusiaan”.

    Tepat membidik sasaran, itulah yang terjadi kini di Indonesia, selain mengalami krisis ekonomi, kita juga mengalami krisis moral. Dan suatu kesalahpahaman besar yang berlanjut dimana pengajaran Bahasa Indonesia selalu dikaitkan dengan sastra. Dan dampak buruk dari itu semua terhadap perkembangan sastra Indonesia telah nyata terjadi apabila kita menyadarinya. Kita coba paparkan satu per satu.

    Krisis moral,
    Tidak dapat dipungkiri bahwa kita seharusnya bangga atas prestasi yang telah diukir oleh putra-putri Indonesia yang telah berhasil mengharumkan nama bangsa dipentas Olimpiade, terutama dalam bidang ilmu eksakta. Itu menunjukkan bahwa kita mengalami perkembangan terhadap ilmu tersebut dan membuktikan bahwa kini di Indonesia sudah terlahir lebih banyak lagi generasi-generasi yang lebih pintar.
    Tapi di sisi lain coba kita perhatikan secara realistis, banyak orang pintar yang “pintar” menyalahi etika/moral (baik dalam lisan maupun tindakan) dalam kehidupannya. Memang harus diakui bahwa itu berpengaruh dari kurangnya pendidikan terhadap ilmu bahasa, sosial ataupun humaniora. Ambil contoh, ada seseorang yang pintar dan berkedudukan, ia juga mengerti tentang ilmu humaniora lainnya tentu kata-kata “Bodoh kamu, mengerjakan begini saja tidak becus!!” hanya akan menjadi cerita langka dan akan naik daun kata-kata “Yang kamu kerjakan ini kurang benar, tolong kerjakan lagi lebih teliti.”.
    Sayangnya kalimat yang terakhirlah yang kini menjadi sesuatu yang langka didengar oleh telinga kita semua.

    Kesalahpahamahan besar,
    Bahasa Indonesia adalah bahasa negara dan menjadi bahasa pemersatu bangsa. Itu saja! Dan tentu ditiap-tiap bahasa memiliki “rumus-rumus” tersendiri agar terangkai menjadi satu kalimat dan susunan bahasa yang benar. Tapi itu jangan dipaksa untuk dikaitkan dengan ilmu sastra yang jelas berbeda. Sastra adalah bentuk indah dari rangkaian bahasa yang ada. Apapun itu bahasanya, bukan begitu?
    Masalahnya disini, entah pemerintah bidang pendidikan, entah orang-orang malas untuk mengoreksi tentang sastra dalam dunia pendidikan. Yang pasti disini terjadi adalah pemaksaan untuk sesuatu yang tidak tepat bahkan sangat tidak tepat untuk perkembangan pendidikan bagi suatu bangsa.
    Memang untuk bahasa Indonesia dan sastra untuk lebih detail dapat kita pelajari di bangku universitas, tapi pendidikan etika/moral itu baiknya ditanamkan sejak dini, bung!!!!! Ditambah lagi dengan harga pendidikan yang sangat mahal dibumi yang sudah merdeka selama 63 tahun ini. Sangat mahal dan tidak sebanding dengan pendapatan sebagian orang di bangsa ini.

    Bersambung…

    Komentar oleh ghaniyapaong2110 — 8 November 2008 @ 13:04 | Balas

    • Hi Gania, komentar Anda bagus sekali. Infonya bersambung. Tapi setelah ditunggu belum muncul. Kapan ya dikirim komentarnya tentang sastra?

      Komentar oleh opungregar — 6 Mei 2009 @ 02:35 | Balas

  2. Saya jadi teringat dengan buku Gunawan Muhammad yang berjudul, “Seks, Sastra dan Kita” yang terbit pada tahun 1980. Kebetulan buku tersebut, saya dapati diperpustakaan pribadi seorang kenalan. Gunawan Muhammad berpendapat, “salah satu ciri kesusateraan kita dewasa ini ialah bahwa ia menjadi gelisah dengan publik yang hadir dihadapan dan sekitarnya. Kesusateraan kontemporer kita, dalam derajat tertentu, adalah kesusasteraan yang self conscious, yakni sadar diri.
    Menurut Gunawan Muhammad semua itu terjadi,karena terjainya perubahan sifat medium serta khalayak. Ini tidak saja membawa pengaruh kepada penulis sastra modern,tetapi juga terhadap apa yang kita butuhkan dari setiap hasil sastra modern dengan segala kecenderungannya?

    Komentar oleh Wina — 9 November 2008 @ 01:46 | Balas

  3. Kadang-kadang, fenomena psikologis dan fenomena sosiologis terdapat titik korelasi. Dalam hal ini kita dituntut untuk bisa lebih piawai membedakan kedua fenomena tersebut. Bahwa kondiri psikologis yang dirasakan oleh masyarakat berbeda dengan yang dirasakan oleh individu. Inilah yang oleh Emil Durkheim disebut penggambaran intelektualitas individu dengan intelektualitas kelompok. Fenomena-fenomena moral juga mengalami hal sama, bahwa kumpulan prinsip-prinsip moral yang secara esensial memang tidak ada itu, maka menurut Emil Durkheim fenomena sosial dan psikologis ketika para moralis membuat ukuran yang lahir dari kewajiban diri mereka sendiri, tidak mungkin menjadi objek etika. Belenggu-belenggu moral itu sendirilah sebenarnya yang kembali perlu kita hancurkan.

    Komentar oleh Insan — 9 November 2008 @ 02:08 | Balas

  4. Kebanyakan manusia masa kini tidak lagi membaca kesusasteraan, lantaran mereka sibuk dengan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi saat ini. Mereka merasa telah terputus ikatan tradisionalnya dengan masa lampau. Termasuk tidak adanya persamaan antara yang tradisional dengan yang modern.Sehingga mereka merasa tidak ada legi cermin di balik sebuah karya santra. Padahal dalam karya-karya santra justru akan terlihat potret kemanusiaan. Sehingga benteng moral masyarakat menjadi sedemikian rapuh dan menjadi lemah. Akibatnya potret kehidupan manusia berubah menjadi sesuatu yang tidak manusiawi.

    Komentar oleh Afrizal — 9 November 2008 @ 02:24 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: