Klub Haus Buku

13 Oktober 2008

Pane dalam Drama Airlangga

Filed under: Gemar-Membaca,Menulis,Pendidikan,Sastra — opungregar @ 19:42
Tags:

Dari : Denny Prabowo, Oct 9, ‘8 12:46 AM
For everyone Sanoesi Pane, dalam banyak hal merupakan antipode dari Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Pertentangan pemikiran mereka tercatat dalam buku Polemik Kebudayaan yang disusun oleh Achdiat K. Mihardja. Kalau STA mengatakan: sekarang tiba waktunya mengarahkan pandangan kita ke Barat . Sanoesi Pane justru sebaliknya. Ia mencari ke zaman Indonesia purba dan kebudayaan Hindu. Perkembangan filsafat hidupnya sampai pada sintesa Timur dan Barat, persatuan rohani dan jasmani, akhirat dan dunia, idealisme dan materialisme.

Pandangannya tersebut tak lepas dari pengalamannya melawat ke India selama setahun untuk memperdalam kebudayaan di sana. Ajaran agama Hindu itu begitu lekatnya dengan kehidupan Sanusi Pane sehingga masalah keduniaan tidak begitu ia perhatikan. Ia bahkan merasai sendiri kehidupan tanah asal agama Hindu itu. Pandangannya itu kemudian mempengaruhi semua karya-karyanya.

Airlangga adalah drama tiga babak yang terbit pertama kali tahun 1928 dengan bahasa Belanda di majalah Timboel. Ketika pesta pernikahan Airlangga dengan Dharmawangsa Teguh sedang berlangsung, tiba-tiba kota Watan diserbu Raja Wurawari yang berasal dari Lwaram, yang merupakan sekutu kerajaan Sriwijaya. Dalam penyerbuan itu, Dharmawangsa Teguh tewas. Airlangga melarikan diri ke hutan pegunungan wanagiri bersama pembantu setianya, Narottama.

Selama tiga tahun tinggal di hutan, Airlangga didatangi utusan rakyat yang memintanya membangun kembali kerajaan Medang. Begitulah, Airlangga kemudian membangun imperiumnya di Pulau jawa. Peperangan demi peperangan dilaluinya dengan kegemilangan. Namun, imperium Kahuripan yang merupakan karya terbesar hidupnya itu terancam perpecahan. Sanggrama Wijayattunggadewi menolak naik takhta dan memilih jalan sunyi sebagai petapa bernama Dewi Killi Suci. Terjadi kekacauan besar di Kahuripan. Perpecahan antara kedua putranya hanya tinggal menunggu waktu. Apa yang akan dilakukan oleh Airlangga? Dari sinilah kita bisa melakukan pembacaan terkait dengan pandangan hidup Sanoesi Pane.

Sintesa antara Timur dan Barat, idealisme dan materialisme yang menjadi sikap hidup Sanoesi Pane, terasa sekali di dalam penokohan Airlangga yang digambarkan sebagai seniman pemikir di atas singgasana raja. Dialektika idealisme dengan materialisme juga bisa kita temukan dalam dialog antara tokoh Sanggarama Wijayattunggadewi dengan Arya Bharad.

Sanggrama Wijayattunggadewi

Hanya dalam kesepian ada ketenangan bagi saya:
Saya ingin menjadi seorang pertapa, tanpa kesukaran, tanpa derita.

Pandangan Sanggrama itu dibantah oleh tokoh Arya Bharad lewat pertanyaan yang dilontarkannya.

Arya Bharad

Apakah Anda maksudkan, bahwa dalam kesombongan pengasingan diri,
Dalam keangkuhan membisu Anda dapat mengabdi?
Kebebasan untuk diri sendiri itu mudah didapatkan,
Tetapi katakan kepada saya: bagi orang lain apakah faedah Anda,
Bila kesusahan duniawi tidak Anda dengarkan?

Begitulah pandangan Sanoesi Pane tentang kehidupan. Puncak dari pemikirannya itu memang tidak berada di dalam buku Airlangga, tetapi pada buku drama lainnya yang juga diterbitkan oleh Balai Pustaka, Manusia baru.

Namun, untuk mengikuti perkembangan pemikiran Sanoesi Pane, Airlangga bolah dijadikan sebagai titik awal pembacaan. Sebab itulah, Balai Pustaka menerbitkan kembali drama yang mencatat sebuah masa menjelang turun takhtanya Airlangga. Selamat membaca!

Balai Pustaka, 8/9/2008

http://sastrabalaipustaka.multiply.com/journal/item/10/Pane_dalam_Drama_Airlangga

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: