Klub Haus Buku

14 September 2008

Kisah Seru Pencaplokan Perusahaan

Filed under: Kajian Strategis,Komentar Buku,Resensi Buku,Uncategorized — opungregar @ 21:04
Tags:

Sumber : Harian Kompas, Minggu, 14 September 2008 | 01:16 WIB

M GUNAWAN ALIF

Ketika Lakshmi Mittal, orang kelima terkaya di dunia, berniat membeli 49 persen saham Krakatau Steel dengan penawaran senilai 10 miliar dollar Amerika Serikat, pro dan kontra pun terjadi.

Menteri BUMN Sofyan Djalil dan Kepala BKPM M Lutfi mendukung masuknya Mittal dengan harapan kinerja Krakatau Steel menjadi lebih baik. Maklum, hingga semester pertama tahun ini lonjakan impor baja telah mencapai 4,3 miliar dollar AS. Alangkah eloknya jika hal itu bisa disediakan sendiri di dalam negeri.

Namun, banyak pula yang menolak kehadiran Mittal, mulai dari karyawan dan manajemen Krakatau Steel hingga sejumlah pakar dan pengamat bisnis, yang lebih menyarankan untuk menjual saham melalui penawaran kepada masyarakat (IPO).

Bagi Mittal, kondisi semacam ini bukan yang pertama yang harus dihadapinya. Cold Steel, yang ditulis oleh Bouquet dan Ousey (2008) menjelaskan bagaimana ia merebut sejumlah perusahaan besi dan baja di banyak pelosok dunia. Dukungan yang kuat dari sejumlah lembaga keuangan global memungkinkan Mittal melakukan ekspansi bisnis yang membuatnya sebagai bagian dari lima orang terkaya di dunia.

Sejak Barbarian at the Gate (Burrough dan Helyar, 1990) yang menceritakan dengan rinci lika-liku hostile takeover RJR Nabisco, maka Cold Steel merupakan kisah perburuan Mittal untuk memperoleh sejumlah perusahaan baja yang tidak memiliki kinerja optimal untuk dicaplok dan kemudian dipoles agar beroperasi menguntungkan.

Kedua pengarang berhasil menghidupkan kenyataan dengan menggambarkan sejumlah langkah politik, ekonomi, serta pengelolaan isu dan komunikasi yang harus diambil Lakshmi Mittal dan anaknya, Aditya Mittal, untuk mencapai tujuannya.

Buku ini menggambarkan bagaimana pemerintah di sejumlah negara mengalami kesulitan karena perusahaan baja yang mereka miliki tidak beroperasi secara menguntungkan. Suatu kondisi rawan yang akan mengundang masuk predator asing untuk menguasainya.

Mittal sesungguhnya memulai bisnis baja globalnya dari Jawa Timur, yang dalam tahun pertama operasinya (1978) memproduksi 26.000 ton, dengan laba sebesar 1 juta dollar AS. Sebelas tahun kemudian, produksinya sudah mencapai 330.000 ton, yang memberinya keyakinan untuk memulai akuisisi globalnya.

Ia memulai dari Trinidad dan Tobago, ketika pabrik baja ISCOTT terancam bangkrut. Pengelolaannya saat itu dibantu oleh 60 manajer Jerman yang bergaji 20 juta dollar AS per tahun. Dalam kondisi itu, perusahaan merugi 10 juta dol,ar AS per bulan. Mittal pun menawarkan ke Pemerintah Trinidad dan Tobago, ”Berikan perusahaan untuk saya kelola dan setiap bulan saya akan menyetor 10 juta dollar AS (hal 30).”

Mittal segera melakukan efisiensi. Manajer Jerman diganti dengan manajer India yang hanya digaji 2 juta dolar per tahun, hanya 10 persen dari gaji manajer Jerman. Ketika perbaikan dilakukan (1989), produksi ISCOTT hanya 420.000 ton, empat tahun kemudian produksinya hampir mencapai satu juta ton. Dan, Mittal mengakuisisi pabrik baja itu.

Dalam upaya memburu perusahaan-perusahaan baja di segenap penjuru bumi, Mittal harus berhadapan dengan sejumlah kepala negara yang ikut memberi kata putus terhadap perusahaan milik negara.

Salah satu yang dapat kita contoh adalah apa yang dilakukan Presiden Ukraina Viktor Yushchenko. Ia membatalkan tender KKN senilai 800 juta dollar AS dari kroni presiden sebelumnya bagi pabrik baja utama Ukraina: Kryvorizstal. Lalu melakukan tender terbuka yang sangat transparan. Khalayak umum dapat menyaksikan secara langsung melalui siaran elektronik tawaran yang disampaikan perusahaan-perusahaan baja yang berminat melakukan akuisisi.

Di sinilah Mittal harus bersaing dengan Arcelor, salah satu produsen baja terbesar di Eropa. Penasihat Presiden Yushchenko memperkirakan Kryvorizstal maksimal akan terjual seharga 3 miliar dollar AS. Namun, persaingan terbuka antara Mittal dan Arcelor membuat harga terus terkerek naik dan akhirnya dimenangkan oleh Mittal dengan harga 4,84 miliar dollar AS. Ini berarti lebih enam kali lipat dari harga yang dibayarkan kroni presiden sebelumnya dan nilai tunai yang didapat 20 persen lebih banyak dari semua dana privatisasi Ukraina sebelumnya.

Arcelor Mittal

Menyadari kehadiran Arcelor membuat perburuan pabrik baja menjadi lebih mahal, Mittal memulai perang besarnya untuk melakukan hostile takeover terhadap pesaingnya itu. Sebuah perburuan yang melibatkan banyak negara, sekutu, dan musuh yang perlu dipengaruhi dengan sejumlah deal yang menguntungkan bagi masing-masing pihak.

Mittal, misalnya, harus menemui Presiden Perancis Jacques Chirac dan Wakil Perdana Menteri Spanyol Pedro Solbes karena Arcelor memiliki sejumlah pabrik di Perancis dan Spanyol serta Perdana Menteri Luksemburg, Jean-Claude Juncker, tempat Arcelor bermarkas. Masih pula dilengkapi dengan menghadapi sejumlah menteri yang berhubungan dengan hal itu dan parlemen.

Dijelaskan bagaimana Arcelor harus mencari konsultan hukum, konsultan merger dan akuisisi, serta konsultan komunikasi untuk mempertahankan diri. Termasuk di sini apa yang dilakukan tim komunikasi Mittal dari Publicis, Jean-Yves Naouri, yang meminta wartawan Le Monde untuk mengangkat satu kutipan yang dianggap akan merugikan Arcelor (hal 116).

Mittal juga melengkapi pasukannya dengan konsultan yang sama tangguhnya, dengan suatu pertaruhan penting senilai 188 juta dollar AS—1 juta dollar AS per hari selama masa berburu—untuk membayar para konsultan ini agar dapat merebut mangsa yang diincar.

Ia beruntung didukung Menteri Perdagangan dan Industri India Kamal Nath yang menulis surat ke Komisioner Perdagangan WTO Peter Mendelson bahwa upaya menghalangi upaya merger Arcelor-Mittal sama artinya dengan menghalangi upaya WTO dalam mendorong upaya investasi lintas negara.

”Tidak seharusnya seorang investor dinilai berdasarkan warna kulitnya. Reaksi semacam ini memperlihatkan Eropa tidak siap menghadapi globalisasi yang mereka trompetkan,” tuturnya kepada wartawan (hal 138). Presiden Mammohan Singh juga tak lupa membicarakan hal ini ketika Presiden Chirac berkunjung ke India.

Perang opini dan isu memang sangat terasa di masing-masing pihak. Federasi Karyawan Baja Eropa menyampaikan penolakan mereka terhadap akuisisi Mittal. Mereka terus berupaya melobi para politisi untuk menolak hostile takeover ini.

Arcelor sendiri terus berusaha memperoleh dukungan finansial dari sejumlah institusi keuangan dan sekaligus berusaha mencari white knight, ksatria putih, dalam bentuk perusahaan baja terkemuka lainnya yang mau memberikan tawaran tandingan yang lebih baik dibandingkan dengan dark knight, si ksatria hitam.

Sejumlah ksatria putih datang dan pergi karena pengaruh dan penawaran dari masing-masing pihak. Termasuk di antaranya ThysenKrupp dari Jerman dan SeverStal dari Rusia. Sejumlah deal dan kontra deal bermunculan. Di antara pembicaraan dan perselingkuhan itu, sejumlah investor ikut menambang keberuntungan seiring dengan naiknya nilai saham dari perusahaan yang diperebutkan.

Akhirnya Arcelor jatuh juga ke pangkuan Mittal setelah ia menaikkan tawarannya dari harga semula sebesar 28 dollar AS per saham menjadi 40,40 dollar AS. Pihak manajemen tak lagi mempunyai cara untuk menghalangi Mittal karena pemilik saham Arcelor merasa memperoleh keuntungan besar dengan tawaran itu. Pemerintah Luksemburg yang sebelumnya keras menolak akhirnya terpaksa menerima ketika Mittal memastikan tak akan memindahkan kantor pusat Arcelor Mittal dari negara kecil itu. Mittal juga memastikan akan melaksanakan keterbukaan dan praktik good corporate governance dalam operasinya. Untuk semuanya ini, saham Pemerintah Luksemburg terdilusi hingga tinggal 3 persen dari 6,1 persen yang sebelumnya mereka miliki. Imbalannya, negara ini memperoleh dana tunai sebesar 600 juta dollar AS.

Sementara Arcelor-Mittal menjadi produsen baja terbesar di dunia dengan kapasitas produksi 10 persen dari total produksi dunia. Suatu kapasitas yang menurut Mittal harus terus diperbesar agar perusahaan dapat memiliki sustainable competitive advantage.

Buku ini memberikan pelajaran bahwa di dunia yang semakin terbuka sudah tak ada lagi tempat bagi perusahaan-perusahaan milik negara yang hanya menjadi parasit. Dorongan ke arah privatisasi yang semakin besar ini harus dapat dijawab oleh pengelola BUMN untuk dapat beroperasi secara inovatif dan menguntungkan. Suatu hal yang hanya mungkin terjadi jika mereka tidak diganduli oleh beragam vested interest dari sejumlah faksi dan kelompok untuk semata keuntungan kelompok mereka.

(M Gunawan Alif, Pengajar Brand Management dan Komunikasi Pemasaran di Pascasarjana Manajemen FE UI, MM UI, dan Binus Business School)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: