Klub Haus Buku

2 September 2008

Membaca dan Gelombang Informasi

Filed under: Gemar-Membaca,Komentar Buku — opungregar @ 23:06
Tags:

Oleh Aminuddin Siregar

Dewasa ini gelombang informasi seakan tidak dapat dibendung. Baik kemunculan maupun kehadirannya di tengah kehidupan kita yang dari waktu kewaktu terus mengalami kemajuan. Sehingga tingkat kecepatan dan ketepatan membaca dan menggunakan bahan bacaan sangat diperlukan setiap orang, apabila seseorang itu menyadari betapa pentingnya bahan bacaan buku yang dapat meningkatkan kinerja dan mencapai ciita-cita dan impian masa depan mereka.

Keragaman informasi yang stiap hari muncul dihadapan kita, merupakan kejadian yang telah menandai hidup kita sehari-hari dan membikin hidup kita dihadapkan pada sejumlah kesulitan dalam menanganinya. Kompleksitas keseharian hidup kita yang demikian menjadi kian rumit.

Untuk menjadi menjadikan hidup lebih survive dalam kehidupan dan profesional  di bidang apa pun saja, kita dituntut untuk lebih banyak membaca berbagai bacaan yang juga amat beragam. Semua itu mesti kita selesaikan dalam waktu yang relative singkat dan terbatas pula.

B ayangkan, kita harus membaca sebuah naskah yang telah disiapkan, sementara kita juga mesti menyediakan waktu baca koran, e-mail, laporan kegiatan, rincian  tugas ,  membaca perundang-undangan, dan sejumlah bahan bacaan lainnya yang rumit.

Dalam kaitan itulah kita dituntut agar lebih siap, dan sanggup membaca tidak saja secara efektif, tetapi juga cepat, sekaligus mengambil makna dari semua bacaan yang kita selesaikan itu. Saat bersamaan kita memerlukan petunjuk dan latihan membaca cepat, sehingga kita dapat  pula engkomunikasikannya secara efektif kepada orang lain yang membutuhkannya.

Berbagi pengetahuan dengan orang lain bagi sebagian orang sangat mengasyikkan. Karena prinsip mereka dalam berbagi adalah sebuah amal perbuatan yang mereka percaya, bahwa dengan berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman itu akan menambah banyak lagi pengetahuan dan pengalaman yang bias mereka peroleh.

Sehingga tidaklah terlalu mengherankan kalau di antara kita, banyak yang dengan senang hati dan penuh keikhlasan untuk memberi dan menyampaikan serta mengkominikasikannya dengan orang lain.

Banyaknya publikasi yang menyerbu kehidupan kita dewasa ini, sudah barang tentu memerlukan keahlian membaca tepat waktu, cepat, agar kita dapat menyesuikan gelombang informasi yang sedemikian besar untuk kebutuhan kita.

Dalam kaitan inilah antara lain kegiatan gemar-membaca perlu mengajak siapa saja yang ingin berdiskusi tentang buku dan bahan bacaan lainnya. Mengulas berbagai macam metode, cara dan teknik membaca cepat yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing individu, baik sebagai anggota suatu komunitas maupun secara bersamaan sebagai bagian dari keseluruhan masyarakat.

4 Komentar »

  1. Hallo semuanya, salam kenal
    Nama saya Lina, Kami dari jaringan Kutubuku Network. Kutubuku Network
    adalah jaringan pendukung keberadaan dan operasional taman bacaan anak dan
    perpustakaan anak di berbagai wilayah di Indonesia. untuk lebih detailnya,
    silahkan berkunjung ke “pondok” kami di: http://kubunetwork.multiply.com
    Saat ini kami sedang mengumpulkan buku bacaan untuk anak anak, buku cerita,
    majalah dan lain lain. Jika kiranya Bapak/Ibu memiliki buku anak anak untuk
    di sumbangkan mohon kiranya untuk dapat menghubungi kami di email ini.
    Kami tunggu partisipasinya.Terima kasih,
    The Children make me knock at your door, hope you will open. Lina

    Komentar oleh Kutubuku Network — 2 September 2008 @ 23:24 | Balas

  2. Kenapa harus membaca puisi Olin? Karena di tangan Olin, puisi kembali
    meledakkan suara sunyi seorang pribadi, percakapan gelisah dengan diri
    sendiri. Di tengah zaman yang hiruk pikuk dan anonim, suara pribadi
    menjadi pemberontakan terhadap kemapanan diri dan kemapanan sosial.
    Seni adalah pemberontakan individual, dengus pemberontakan itu bertiup
    keras dari puisi Olin.
    M.Fadjroel Rachman (Kolumnis Kompas, penyair Dongeng untuk Poppy, dan novelis Bulan Jingga dalam Kepala)

    Komentar oleh Olin Monteiro — 16 September 2008 @ 09:26 | Balas

  3. Membaca puisi-puisi olin hanya tercetus satu kata; luas! Bukan kata luas yang disampaikan dengan intonasi santai, tapi dengan tanda seru dan mimik muka tercengang. Saya pernah membaca tulisan-tulisannya terdahulu, dan betapa satu, dua tahun menumbuhkembangkan pikirannya begitu luas. Sejujurnya dengan tulisannya, saya lebih mudah memahami dunia Olin ketimbang membaca buku yang diberikannya. Well, jangan-jangan buatku segala macam ensiklopedia dan googling tak lagi berarti. Hanya perlu tulisan Olin yang maha luas saja. Keep on writing dear. Aurelia Tiara Widjanarko, presenter, penyair, dosen muda dan entrepreneur.

    Komentar oleh Olin Monteiro — 16 September 2008 @ 09:28 | Balas

  4. Tak banyak penyair ketimbang novelis, seperti tak banyak penyair berjenis kelamin perempuan dihadapan penyair berjenis kelamin lelaki.
    Dalam karya para perempuan, tak pelak suasana bathin akan menggores warna puisi mereka. Sebagian datang dari kesadaran metakognisi, namun Carolina menggoreskan dengan konsientisasi (conscientization) ideologi feminisme secara sadar,
    seperti yang mewarnai puisi-puisinya dalam makna penguatan (affirmative) bagi perempuan lainnya. Berapa banyak yang seperti dia?
    BJD Gayatri, aktifis Chandrakirana, konsultan lembaga dana & penulis.

    Komentar oleh Olin Monteiro — 16 September 2008 @ 09:30 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: