Klub Haus Buku

24 Agustus 2008

­­Pemikiran Ke Arah Regenerasi Kepemimpinan

Filed under: Politik Nasional — opungregar @ 02:34
Tags:

Oleh Aminuddin Siregar

Masa awal reformasi yang nampak sangat positif untuk melakukan berbagai perubahan, telah memberi harapan baru bagi terwujudnya kepemerintahan yang baik dan benar. Semangat yang dibuahkan oleh reformasi itu, membuat antuasiasme tokoh-tokoh muda untuk tampil sebagai pemimpim nasional. Akan tetapi, untuk bisa tampil bukanlah perkara mudah. Baik secara politik maupun cultural, social dan psikologis.

Benar, bahwa dinamika kehidupan politik kita sudah sangat demokratis, bila dibandingkan masa sebelum reformasi. Namun, secara politik tetap saja seseorang yang ingin tampil terganjal oleh mekaninsme pencalonan melalui partai politik yang ada. Bukan saja oleh prosedur dan tingginya cost politic yang mesti ditanggung oleh seorang calon, melainkan lantaran kendaraan politik yang tidak selalu siap menampung calon sekalipun punya gagasan cerdas dan visi yang cemerlang. Akan semakin runyam bila tidak ada dukungan finansial yang memadai.

Sementara secara kultural juga boleh dikatakan masih saja kurang mendukung lantaran paradigma budaya politik kita belum bergeser dari pola paternalis dan model kepolitikan yang figuratif. Padahal dalam setiap sistem politik yang ada fungsi perekrutan politik mesti dimasukkan dalam budaya politik yang lebih luas cakupannya. Alhasil tokoh muda yang tampil akan kewalahan, lantaran sistem perekrutan politik yang dianggap semu dan acapkali terabaikan, sehingga tidak nampak kader potensial untuk dimajukan.

Kini perpolitikan kita, memang sangat menjanjikan bagi siapa pun saja untuk tampil sebagai kandidat. Apakah itu sebagai kandidat calon Gubernur, Bupati atau Walikota, termasuk untuk menjadi anggota dewan baik pusat maupun daerah. Hanya saja, para kandidat tidak bisa memainkan peranan baik sebagai aktivis maupun sebagai pemimpin lantaran tidak direkrut dan disosialisasikan sejak awal. Para kader seakan-akan berada di luar wadah politik, atau berada dipinggaran lembaga politik yang ada seperti partai politik, organisasi massa dan semacamnya.

Pergantian kepemimpinan nasional, yang dinilai sangat demokratis itu, misalnya, semakin membuat publik percaya akan terjadi kejutan-kejutan besar dalam menciptakan perubahan di semua bidang kehidupan. Sehingga banyak orang bertanya-tanya, apakah niatan presiden melakukan perombakan eselon I di jajaran departemen merupakan bagian dari reformasi birokrasi ? Sementara itu, adanya upaya ke arah regenerasi kepemimpinan ditingkat lokal, diharapkan akan menampilkan birokrasi yang berish dan berwibawa.

Tokoh Muda

Niatan untuk menampilkan tokoh-tokoh muda menjadi pemimpin nasional, muncul dari kalangan pro reformasi. Sementara kalangan status quo, tidak memberi reaksi, atau berkomentar, apakah sudah saatnya untuk tampil sebagai pemimpin nasional. Kedua kalangan ini tentu punya alasan sendiri-sendiri, misalnya mengapa mesti tokoh muda dan kenapa kalau generasi sebelumnya.

Kesadaran baru tiba-tiba saja muncul, ketika kandidat calon Presiden Amerika Serikan Barack Obama melangkah ke Gedung Putih. Obama memang tergolong muda dalam dunia perpolitikan Amerika disbanding senior-seniornya baik dalam partai maupun dalam jajaran lawan-lawan politiknya. Dorongan dan himbauan moral muncul tatkala bangsa Indonesia memperingati hari kebangkitan nasional.

Tentu saja hal ini sangat positif bagi kaum muda. Hanya saja secara politik sebenarnya kita minus kader muda ketika kita dihadapkan pada usaha menampilkan kaum muda yang secara politik juga cerdas dan punya keberanian. Walaupun di antaranya ada satu dua. Tetapi ada saja yang beranggapan bahwa yang benar-benar kader politik dan berasal dari partai politik sangat langka.

Tokoh-tokoh muda yang sekarang muncul di pentas perpolitikan kita, baik pada tingkat nasional maupun local, merupakan suatu harapan. Mereka yang punya keberanian untuk tampil juga karena alasan bahwa mereka itu kebanyakan adalah public figure yang sudah sangat akrab dimata masyarakat. Ini memang satu modal yang tidak ada salahnya untuk dimanfaatkan.

Lalu harapan banyak orang yang tetap menggantung di pundak pergulatan politik tetap membayang-bayangi kemuraman akan wujud nyata pembelaan terhadap sekelompok besar masyarakat miskin. Masyarakat miskin ini senantiasa ada perbaikan dan ikut merasakan kemajuan itu baik dari sisi pendidikan, ekonomi dan kesehatan, termasuk di dalamnya kualitas kesejahteraan rakyat.

Apa pun alasannya banyak orang berharap agar tokoh muda sudah saatnya untuk memperlihatkan kualitas mutu mampu politiknya. Menampilkan kualitas mutu mampu kepiawaiannya merangkul masyarakat untuk secara bersama meningkatkan derajad kesehatan, derajat kesejahteraan, derajat pendidikan masyarakat Indonesia, dan derajat melek politik rakyat yang dari waktu ke waktu mesti ditingkatkan.

Kalau ditanya kenapa sejauh itu, lantaran hal ini merupakan bagian dari tanggung jawab politik dan kepercayaan yang diberikan rakyat kepada siapa saja yang akan menjadi pemimpin masa depan dan yang menjadi wakil mereka yang sungguh-sungguh dapat menyuarakan aspirasi mereka, seperti yang selama ini diimpikan oleh seluruh rakyat Indonesia. Langkah Obama memang layak ditiru dan dipelajari oleh tokoh muda Indonesia.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: