Klub Haus Buku

16 Agustus 2008

Sambutan Penerbit untuk Pementasan Ketoprak Putri Cina

Filed under: Novel,Sastra — opungregar @ 21:25
Tags:

Oleh Wandi S Brata*
SASTRA adalah cermin dan wujud semi-wadag dari kebudayaan. Ia lahir dari sastrawan yang gelisah atas kondisi masyarakat yang menjadi konteks hidupnya. Ia merefleksikan kondisi itu dan menggambarkannya. Dan tidak hanya menggambarkan, tetapi juga memberi alternatif arah yang lebih bermakna, walau sang sastrawan tidak berpretensi ingin mengajar-ajari pembacanya. Karena itu, sastra yang memang bermutu tak pelak merupakan potret sosial, yang sekaligus berisi perenungan dan penyadaran yang memunculkan dalam diri pembacanya mutiara kebijaksanaan untuk melampaui kondisinya yang mengungkung dan membatasi. Itulah yang disodorkan kepada kita oleh Sindhunata, antara lain juga lewat novelnya Putri Cina.

Mungkin karena sang novelis juga pastor, ia akrab dengan tema “dari debu kembali ke debu” untuk menggambarkan begitu terbatas dan sementaranya eksistensi ragawi yang sering dikutip pendeta ketika melepas orang mati. Hanya saja, kali ini Sindhunata tidak sedang mengutip kitab suci, tapi sajak klasik T’ao Ch’ien, untuk membingkai narasinya. Eksistensi dan identitas ragawi itulah yang justru menjadi sumber kegelisahan Putri Cina, karena “ia tidak punya akar/diterbangkan ke mana-mana/seperti debu berhamburan” .

Roh Kebebasan yang terpaksa berdimensi ragawi itu pula yang menjadi sumber kegelisahan dan kekecewaannya, sehingga ia bertanya tanpa jawab, “Kita datang ke dunia ini sebagai saudara, tapi mengapa kita mesti diikat pada daging dan darah?” Roh Kebebasan terpaksa menyandang daging dan darah yang mewujudnyatakannya secara wadag dan memberinya identitas cuma sedalam kulit, sekaligus membatasi, dengan segala stigmanya.

Putri Cina hanya representasi kaumnya. Merasa gamang tanpa akar, terpaksa menerima fakta menyandang identitas kultural dan ragawi tertentu, terserak di tempat yang terasa salah, dan dikambing-hitamkan. Itulah konteks hidup dan pergulatannya. Kalau Viktor Frankl gundah dengan man’s search for meaning, pencarian manusia akan makna, Putri Cina gundah dengan pencarian akan identitas. Dalam pergulatan mencari identitas itu ia merasa seperti debu yang terbang dibawa angin, terserak di luar kuasanya, karena ternyata identitas itu menjadi permainan politik diskriminasi yang kejam. Sejak bab pertama kita diharu biru oleh kepedihan Putri Cina yang “kehilangan wajah”, dan hanya menemukan wajah mawar hitam, yang bagi Sindhu adalah bunga kematian. Kelopak-kelopaknya ringkih, mudah lepas dan terbang oleh tiupan. Warna kematian tersandang padanya.

Lewal novelnya Sindhu menggeluti dan dengan indah memaparkan tragika. Mitos dan data sejarah hanya sarana baginya. Ia ramu keduanya menjadi sajian kisah sedih yang memikat. Barangkali itu juga pengalaman pribadinya. Dengan kulit gelap, bahasa Jawa yang medhok, dan kesukaannya pada wayang, siapa sangka dirinya adalah Cina? Konon ia pernah krisis identitas, dan menyangkal kecinaannya. Konon pula ia mengalami semacam pembalikan sikap pada saat belajar di Jerman dan mulai tertarik pada novel-novel bertema pencarian tanah leluhur, simbolik dari kerinduan pada akar-akar terdalam, karya pengarang imigran Yahudi. Mungkin pergulatan kaum pelarian Yahudi itu sedikit banyak mewakili pergulatan diri dan kaumnya. Sembunyi dari kejaran Nazi, pelarian Yahudi itu sampai akhir hayat menyembunyikan identitas kultural mereka dan dengan demikian mencabut sendiri akar-akar terdalam yang memberi mereka kehidupan yang bermakna.

Kendati demikian, terlalu dangkal anggapan kita bila mengatakan Putri Cina hanya berkisah tentang tragika. Ada harapan yang membentangkan panggung baru bagi sebuah kebersamaan yang bermakna. Dasarnya adalah cinta, suatu kekuatan dahsyat yang sepintas tampak lemah, tetapi nyatanya justru menghidupkan dan menghidup-hidupi. Dalam cinta, Giok Tien menemukan identitas makna keberadaannya. Dalam cinta pula Gurdo Paksi menemukan identitas sejatinya sebagai Setyoko. Dalam cinta itu luluh segala perbedaan. Bahkan hanya dalam cinta itu harta, kegagahan, keperkasaan, dan kuasa memiliki makna. Tanpa cinta, semuanya itu bagai keris Kyai Pesat Nyawa. Keris yang selama ini menjadi andalan kedigdayaan Joyo Sumengah itu justru membawa ke kehancurannya.

Cinta pula yang membangkitkan raga-raga mati dari kubur. Sebagai Roh Kebebasan mereka yang dikerangkai oleh raga mati itu terbang sebagai kupu-kupu bebas. Kupu-kupu itu bukan kupu-kupu dengan beban perbedaan yang memisahkan, tetapi kupu-kupu kesamaan cinta yang mempersatukan. Karena tersentuh oleh cinta dan kasih sayang, menurut sang sastrawan, kematian pun menjadi telaga kehidupan yang amat indah, sehingga dari kematian itu justru turun hujan berkah dan kedamaian bagi dunia.

Bahwa menyeruaknya cinta sejati itu oleh Sindhu dimunculkan dalam konteks keheningan kubur, ketika Giok Tien dan Gurdo Paksi mengirim bunga peringatan empat puluh hari meninggalnya Giok Hong dan Giok Hwa, barangkali ia ingin mencuatkan kembali kebijaksanaan kuno bagi orang yang ingin mencari kesempurnaan. Kebijaksanaan itu secara amat ringkas menjadi motto hidup Mother Teresa:

Keheningan menuntun ke doa Doa mengembangkan cinta Cinta membuahkan pelayanan Pelayanan mendatangkan damai.

Barangkali itu pulalah yang menjadi dasar pemikiran Sindhu bahwa berkah cinta yang membuahkan kedamaian itu adalah buah doa. Ia akhirnya menukik ke spiritualitas, bahwa eksistensi manusiawi ini hanya sungguh bermakna bila dilandasi cinta, yang dihidup-hidupi dan dipelihara dengan sikap panembah kepada Dia Yang Melampaui Segala.

Menemukan cinta dan kesejatiannya, Putri Cina bahkan mengabaikan pertanyaan awalnya. Lantas, sebagai Roh Bebas, dari awan-awan ia ikut bernyanyi bersama anak-anak Cina di Tanah Jawa.

Di dunia ini semua manusia menanggung nasib yang sama, karena kita semua hanyalah debu,Cina dan Jawa, sama-sama debunya.Mengapa kita masih bertanya, siapakah kita?Toh dengan dilahirkan di dunia, kita semua adalah saudara?

Sebagai doktor filsafat, dengan kalimat terakhir itu Sindhu menyeruakkan perspektif baru. Faktisitas meng-ADA, dalam wadag tertentu, dalam konteks dan kekayaan kultur tertentu, yang semula dihayati sebagai sesuatu yang membedakan, justru dia sodorkan sebagai dasar kokoh persaudaraan. Dengan segala perbedaannya, fakta kelahiran itu sendiri menegaskan bahwa kita adalah sesama saudara, yang sama-sama sedang meng-ADA, meng-ALAM. Dan panggung kebersamaan kita akan mendapat makna yang sebenar-benarnya bila kita menjunjung nilai-nilai cinta yang menyatukan segala perbedaan.

Putri Cina sungguh luar biasa. Tidak berlebihan bahwa novel yang kami terbitkan September 2007 dan dicetak ulang sebulan kemudian itu dinobatkan oleh komunitas sastra Bandung “Nalar” sebagai karya sastra paling bermutu. Sebagai penerbit kami ikut bangga dan mengucapkan selamat kepada Sindhu.

Tepat sekali bahwa novel ini dipentaskan untuk menandai 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Dengan karya literernya itu Sindhu memberikan perspektif yang amat bermakna bagi kebangkitan kita, baik sebagai individu, maupun sebagai bangsa. Novelnya penuh inspirasi bagi hidup kebersamaan kita, karena renungan cinta yang menjadi akhir narasinya itu menjadi semacam antidot bagi permainan di panggung politik yang selama ini berlumur darah dan pengkhianatan.

Dari debu, memang kembali ke debu, tapi ada buah-buah cinta manis di antaranya. Bagi kami, tragika Putri Cina juga merupakan optimisme untuk membangun kebersamaan yang lebih bermakna di masa depan.
Jakarta, 15 Mei 2008
* Wandi S Brata, Wakil Direktur Eksekutif Gramedia Pustaka Utama

1 Komentar »

  1. A poetry book by Olin Monteiro. Perempuan Langit ke Timur Kumpulan Puisi Olin Monteiro Kelompok Perempuan Bukan Penyair dan Yayasan Jurnal Perempuan
    mata perempuan : to all tired mom mata perempuan itu sembap dibawa pagi
    menggapai pekatnya kabut di pintu ketika pagi mencoba bangun mata perempuan sembap seperti malam lembap tak sanggup mampir ke palung jiwa-jiwa terperangkap
    mata perempuan tiap sudutnya menahan getir diiringi rinai tawa hujan saksikan pohon hidup tumbuh meninggi
    Cibubur, Juli 2007
    http://menitiangin.wordpress.com

    Komentar oleh Olin Monteiro — 16 September 2008 @ 09:10 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: