Klub Haus Buku

29 Juli 2008

Membebaskan Rumah dari Amarah

Filed under: Anak,Pendidikan,Psikologi — opungregar @ 22:39
Tags:

Oleh Wahyudi
Marah adalah perilaku yang manusiawi; sering dianggap wajar tetapi kerap pula dicap sebagai tindakan yang negatif. Ternyata, tanpa kita sadari, perilaku tersebut pertama kali diperkenalkan kepada individu melalui institusi keluarga. Melalui buku ini Carl Semmelroth tak sekadar mengajak pembaca untuk mengetahui seluk-beluk perilaku marah. Namun, ia juga memberi solusi terapi kepada kita untuk menjauhkan perilaku marah mulai dari dalam rumah.

Kita terenyuh saat menonton televisi yang memberitakan kasus kekerasan akhir-akhir ini yang pelakunya adalah kaum muda. Mencuat berita tentang geng motor di Bandung dan geng perempuan ”Nero” di Pati. Ada pula kasus unjuk rasa di Jakarta yang selalu berakhir dengan kericuhan. Semua itu adalah kulminasi dari amarah yang tak dikontrol dalam keseharian.

Masa kanak-kanak merupakan babakan fundamental dalam alur perkembangan manusia. Oleh karena itu, tepatlah kiranya jika berlaku sebuah pemahaman ”seorang anak manusia dilahirkan ke dunia bagai kertas putih”. Jika pengalaman awal seorang anak cenderung positif, maka di masa depan kita bisa berharap si anak selalu mengedepankan segala sesuatu yang positif pula.

Carl Semmelroth adalah doktor psikologi yang sempat menjadi associate professor di Cleveland State University (1972-1975). Selama bertahun-tahun ia mendalami psikologi terapi dan mengakrabkan diri dengan para penderita depresi, fobia, panik, paska-traumatis, dan orang-orang yang bermasalah dalam perkawinan. Dengan pengalaman itulah ia menulis buku berseri dengan mengusung tema Anger Habit (kebiasaan marah). Mengingat setiap manusia pasti bermula dari sebuah keluarga (baca: rumah), maka buku ini bisa dibilang sebagai karya paling penting dari karangan Semmelroth.

Rasa marah merupakan perwujudan insting yang terkait dengan kesiapan fisik terhadap ancaman pihak luar. Secara alamiah, kemarahan menyebabkan berlangsungnya reaksi kimia dalam tubuh hingga jantung berdetak kencang dan volume pasokan darah meningkat ke tangan dan kaki. Maka, rasa marah adalah persiapan bagi seseorang untuk menyerang orang lain secara fisik (hlm. 24). Dengan demikian, kemarahan yang merupakan gejala alamiah manusia haruslah dikontrol agar tak merugikan orang lain.

Semmelroth mengajukan sebuah terapi awal bahwa setiap individu hendaknya melakukan refleksi terhadap kemarahan yang terjadi sepanjang perjalanan hidupnya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui rantai kemarahan –lewat peristiwa apa pertama kali seseorang dimarahi dan siapa yang pertama kali memarahi. Individu yang memiliki sejarah buruk terkait kemarahan dan tidak pernah melakukan refleksi mendalam tentang perilaku marah yang dilakukannya memiliki kecenderungan untuk mudah marah kapan saja.

Hubungan antarindividu secara umum selalu berkenaan dengan kontrol dan otonomi. Sementara komunikasi merupakan saluran dalam berinteraksi yang berfungsi untuk membuat aturan. Setiap manusia senantiasa melangkahkan hidupnya menuju otonomi. Kontrol mulai diperlukan ketika ada benturan antarindividu dalam mencapai otonomi tersebut. Amarah acapkali menyeruak tatkala individu merasa hak otonominya mulai dibatasi oleh kontrol orang lain.

Interaksi yang sehat di dalam keluarga akan menentukan masa depan sebuah masyarakat. Sebab, pada institusi keluarga, seorang anak akan diperkenalkan untuk menggunakan hak otonomi yang dimilikinya dengan sejumlah batasan berupa aturan. Ketika orang tua lebih berperan sebagai pengontrol dengan perilaku yang senantiasa mengandung amarah, anak akan tumbuh dengan kecenderungan sikap egois di masyarakat. Pada titik inilah, aturan yang dibuat oleh orang tua dan anak seharusnya menjadi guiding principle dalam keluarga.

Tentu saja, aturan tersebut harus dibuat dengan mengutamakan kepentingan orang tua dan anak secara seimbang. Pelaksanaan dari sebuah aturan akan lebih efektif jika dilakukan secara bersama. Misalnya, orang tua tidak cukup menyuruh anaknya untuk merapikan kasur setelah bangun tidur namun orang tua seharusnya bersama si anak merapikan kasur. Orang tua selayaknya tak sekadar memberi perintah, tapi turut pula memberi contoh.

Ketika berkomunikasi dengan anak, orang tua seharusnya mengurangi tendensi kepentingannya sendiri. Sesuatu yang baik menurut orang tua, belum tentu baik dalam pandangan si anak. Jika orang tua cenderung memaksakan keinginan kepada si anak, maka perilaku marah bisa dipastikan akan sering muncul. Untuk itulah, Semmelroth menekankan pentingnya peta ”keinginan” dan ”kebutuhan” dibuat oleh orang tua dalam membina interaksi dengan anak.

Berkata-kata dalam nada yang halus bukanlah tanda bahwa komunikasi anak dan orang tua berlangsung harmonis. Komunikasi yang sehat hanya akan terjadi saat orang tua mampu membimbing anak untuk bersikap terbuka tanpa takut ”dihakimi” dengan amarah. Maka, orang tua harus mampu membuka jalan pikiran si anak tentang kedewasaan bersikap melalui perilaku dan kata-kata.

Orang tua pun harus mengikuti perkembangan terkini yang berlangsung di masyarakat. Hal ini dilakukan agar orang tua dapat menyelami jiwa si anak sesuai dengan zaman yang senantiasa berubah. Memaksakan pandangan orang tua yang tak sesuai dengan zaman si anak hanya akan membuat perilaku asketisme negatif (misalnya penggunaan narkoba dan tawuran) berlangsung luas di masyarakat.

Jika hubungan dalam keluarga berlangsung harmonis, amarah tiap individu dapat dikelola dengan baik dari hari ke hari. Anak akan mengetahui bahwa marah merupakan perilaku yang normal saja. Dan, yang lebih penting, anak bisa mengukur kemarahan dalam dirinya sendiri saat bergaul di masyarakat. Hingga amarah niscaya tidak akan dianggap sebagai solusi satu-satunya dalam menyelesaikan persoalan saat si anak telah lepas dari orang tua. (*)
http://www.jawapos.co.id/mingguan/index.php?act=showpage&kat=11&subkat=11
* Fenny Aprilia, alumnus Fakultas Komunikasi Universitas Padjadjaran, anggota Klub Baca Segala Buku Bandung wahyudibaca@gmail.com http://groups.yahoo.com/group/santrikiri

1 Komentar »

  1. Terima kasih, telah mengunjungi blog Klub Haus Buku, informasi dan komentar yang Anda tinggalkan dan apa yang Anda harus sampaikan, apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, sangat bermanfaat bagi kami. Kami ingin terus berinteraksi dengan Anda dan menciptakan hubungan social melalui diskusi online lewat blog ini.
    Kami dari komunitas Klub Haus Buku mencoba membangkitkan kembali sprit Gemar-Membaca Mengasyikkan dan Membikin Hidup Lebih Bermakna. Komunitas ini juga mendiskusikan banyak hal tentang buku dan dunia perbukuan yang telah sedemikian maju dan berkembang pesat di Indonesia.
    Kunjungi terus blog ini dan tinggalkan pesan, saran dan apa pun saja komentar demi kebaikan dan kebersamaan selalu bermanfaat bagi khalayak ramai pilih blog ini untuk posting komentar Anda, kita jadikan ajang diskusi di alamat ini : http://klubhausbuku.WordPress.com, http://klubhausbuku.blogspot.com, http://opungregar’s.Weblog.WordPress.com, http://redingcomunity.WordPress.com, http://my.opera.com/Regard/blog, my.opera.com.Opungregar.blog, ttp://my.opera.com/Regard/blog, Salam, Opung Regar

    Komentar oleh opungregar — 30 Juli 2008 @ 01:36 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: