Klub Haus Buku

7 Juni 2008

Psikologi Tingkah Laku

Filed under: Psikologi — opungregar @ 21:53
Tags:

Disadur Oleh Komunitas Kutu Buku

Pernyataan bahwa perilaku dapat berubah sebagai hasil dari motivasi ekstrinsik seperti: insentif, hadiah, dan hukuman. Para ahli perilaku membela perilaku yang berpengaruh melalui penyelesaian yang sistematik dari pelaksanaan ransangan tanggapan.

Kebanyakan penelitian di lapangan berdasarkan pada karya BF. Skinner di awal tahun 1930. Ia meyimpulkan bahwa : dengan mengendalikan lingkungan tikus dalan sebuah labor ia dapat melatih mereka untuk bersikap secara konsisten. Dari penelitian ini munculah teori yang dirancang untuk melatih manusia.

Instruksi perilaku bergantung pada penggunaan sasaran yang terkendali; dapat diukur, dan dapat diamati : seorang guru (atau organisasi) menetapkan apa sasaran pelajaran akan diperoleh. Sasaran ini tercapai ketika pelajar memberi tanggapan dalam suatu cara tertentu berdasarkan pada rangsangan yang terkendali.

10 Komentar »

  1. Sangat menarik untuk membincangkan bagaimana prilaku bisa berubah melalui sarana-sarana yang disediakan. Para ahli psikologi kelihatannya berusaha keras agar melalui proses belajar mengajar perilaku siswa dapat berubah. Itu artinya peran seorang guru menjadi amat penting dalam proses menuju perubahan perilaku siswa baik dalam kehidupan pergaulan sehari-hari maupun dalam memberi tanggapan terhadap instruksi yang diberikan seorang guru kepada siswanya. Ini tidak saja menyangkut soal pengetahuan. Tetapi juga menyangkut dengan perasaan. Dalam konteks pengetahuan seorang siswa atau sebagai manusia mesti tahu bahwa ia berhadapan dengan lingkungan dunia dalam totalitas ruang dan waktu. Dalam konteks perasaan, seorang siswa atau sebagai individu manusia, juga siswa membutuhkan perluasan cakrawala, termasuk perluasan cakrawala pribadi. Inilah yang oleh Bertrand Russell disebut sebagai reasonableness, yakni menanamkan pengetahuan dan daya nalar, sebagai bagian dari fungsi seorang guru memberi instruksi kepada siswanya. Bagaimana menurut Anda?

    Komentar oleh Klub Haus Buku — 29 Juni 2008 @ 19:34 | Balas

  2. Sejak kita memasuki Abad-21, semakin jelas bagi kita bahwa orang-orang yang berpendidikan tinggi semakin mendapat tempat terhormat dibandingkan dengan masa sebelumnya. Bahwa prospek orang berpendidikan dapat diasumsikan peran mereka lebih dominan. Ini juga merupakan perubahan dalam perilaku yang kita hadapi dalam era sekarang ini. Belajar tentu saja melaibatkan kemandirian yang sering disebut sebagai self-activity. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan motivasi belajar peserta didik dan membangun kerjasama agar para siswa dapat mencapai kedewasaan baik pribadi maupun sosial. Dalam kaitan ini pengalaman pengajar dapat dimanfaatkan dalam arti berbagi antara pengajar dengan peserta didik. Menurut saya guru menjadi pendiagnosa perilaku setiap peserta didik. Dengan demikian peserta didik harus memperoleh pengalaman dan pengetahuan yang cocok dengan pesrta didik. Bagaimana dengan yang lain?

    Komentar oleh Irwandi, SE. M.Si — 29 Juni 2008 @ 20:19 | Balas

  3. Perubahan itu bersifat ilmiah dan karena dianggap sebagai sesuatu yang niscaya. Pandangan demikian mucul dari para ahli filsafat yang sering memperdebatkan antara makna perubahan dan kemajuan. kalau perilaku murid dapat berubah, maka perilaku itu juga harus mengalami kemajuan. Perubahan perilaku dan kemajuan belajar murid maka seorang murid akan mampu menunjang prestasinya dalam belajar. Jadi memang guru harus berupaya menemukan seluruh sifat-sifat yang terdapat dalam diri seorang murid. Dengan kata lain sifat-sifat mana dari seorang murid dapat memberi kesenangan belajar dan sifat-sifat mana yang membuatnya berhadapan dengan kesulitan. Guru seyogyanya menjadi pelindung bagi murid atas kedua sifat-sifat itu. Seperti pengomentar terdahulu yang mengutip BertrandRussell, yang mengatakan bahwa perubahan dalam arti penting adalah sesuatu yang terdapat dalam jiwa. Tentu ada pendapat lain, mungkinkah semua ini dapat diemban oleh guru?

    Komentar oleh Defrimen, S.Pd, M.Si — 29 Juni 2008 @ 20:38 | Balas

  4. Saya sependapat dengan Dr. Wina Sanjaya, M.Pd, yang berpendapat bahwa setiap siswa mempunyai gaya yang berbeda dalam belajar. Jadi kalau kita hubungkan dengan pernyataan “perilaku dapat berubah sebagai hasil dari motivasi ekstrinsik, seperti insentif, hadiah, hukuman dan lain sebagainya, maka sebagai seorang guru bisa melihat type gaya belajar setiap anak didik, yang menurut Bobbi Deporter terdapat tiga type gaya belajar, yaitu type visual, auditorial, dan kinestetis. Gaya belajar visual biasanya seorang siswa baru muncul kecerdesannya apabila ia melihat. Seorang siswa yang memiliki gaya belajar auditorial, baru akan muncul kecerdasannya apabila ia menggunakan pendengarannya. Sementara gaya kinestetik seorang siswa baru mampu menangkap makna apabila melakukan gerakan-gerakan tubuh seperti yang dilakukan para atlet, atau penari. Pendapat kawan-kawan lain?

    Komentar oleh Ratna Sriwina, SE, M.Si — 29 Juni 2008 @ 21:22 | Balas

  5. Sekarang ini memang kita sudah harus memikirkan bagaimana menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan. Ketika misalnya saya sedang mengjar atau menjadi fasilitator untuk pendidikan dan pelatihan pra Jabatan kepada peserta diklat glongan II (dua), saya akan kesulitan bila tidak dapat menangkap karakteristik masing-masing peserta, dan saya, sependapat dengan Ratna Sriwina perlunya mengetahui gaya belajar seperti juga yang dikemukakan Dr.Wina Sanjaya ,M.Pd, dalam bukunya berjudul “Strategi Pembelajaran” : Berorientasi Standar Proses Pendidikan”. Pengalaman pribadi saya sebagai fasilitator, pembelajaran merupakan hal yang sangat kompleks. Untuk menciptakan pembelajaran menyenangkan saya memerlukan banyak keterampilan termasuk keterampilan menciptakan permainan-permainan yang membuat peserta tidak merasa jenuh dan bosan. Teman-teman lain, apa punya pengalaman serupa?

    Komentar oleh Drs. Ahmad Genta, M.Si — 29 Juni 2008 @ 21:36 | Balas

  6. Saya memang salah seorang pengampu materi pokok “Motivasi Pegawai Negeri Sipil”. Keterampilan dan penguasaan kelas nampaknya lebih dominan, karena itu adalah sangat tepat kalau kita sebagai fasilitator dalam pelatihan atau pendidikan nonformal mengantongi sejumlah game yang bisa dimainkan dan menunjang proses belajar mengajar dalam kelas. Jadi menurut saya desain pembelajaran juga sangat berperan dalam proses menuju perubahan sikap yang kita harapkan terjadi pada diri seorang peserta didik. Bahwa penguasaan kelas yang saya maksud adalah pengelolaan kelas yang dituntut dari seorang fasilitator untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif. Mengelola kelas inilah menurut Dr. E. Mulyasa, M.Pd, prinsip yang perlu diperhatikan, kehangatan dan keantusiasan, variasi, keluwesan, tantangan dan penekanan-penekanan pada hal positif, serta penanaman disiplin diri. Apa ada pendapat lain?

    Komentar oleh Drs. Ahmad Genta, M.Si — 29 Juni 2008 @ 21:50 | Balas

  7. Bagi saya pernyataan di atas adalah sangat luar biasa, sekaligus menjadi cambuk bagi setiap tenaga pengajar, fasilitator, guru, doses, atau sebutan lain yang setiap kali berhadapan dengan sejumlah orang yang kita harapkan akan terjadi perubahan perilaku. Tugas ini patut diakui bukanlah tugas yang mudah, melainkan tugas yang teramat rawan terhadap penilaian orang termasuk penilaian peserta didik itu sendiri. Dalam hal ini beban moral lebih sarat ketimbang beban membuat bahan ajar itu sendiri. Elaine B. Johnson, PH.D, misalnya mengatakan bahwa guru adalah pemimpin kelas yang dapat menghubungkan informasi baru dengan kehidupan siswa melalui banyak cara dengan penuh makna. Elanie, nampaknya mencoba mengefektifkan pembelajaran dengan mengoptimalkan pemakaian otak manusia. Elanie B. Johnson adalah penggagas utama “contectual Teaching and Learning”, sebuah sistem menyeluruh, terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan. Mana lebih penting?

    Komentar oleh Dra. Ayang Primawati, M.Pd — 29 Juni 2008 @ 22:13 | Balas

  8. Di dalam karya lain, Dr. Wina Sanjaya, mengemukakan bahwa ada empat kekeliruan dalam proses belajar mengajar. Pertama, ketika mengjar guru tidak berusaha mencari informasi, apakah materi yang diajarkan sudah dipahami atau belum. Kedua, dalam proses belajar mengjar guru tidak berusaha mengajak berpikir kepada siswa. Komunikasi hanya terjadi satu arah. Ketiga, guru tidak berusaha mencari umpan balik mengapa siswa tidak mau mendengarkan penjelasannya. Keempat, guru menganggap bahwa ia adalah orang yang paling mampu menguasai pelajaran dibandingkan dengan siswa. Penjelasan lebih lanjut tentang ini baca buku “Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi” karangan Dr. Wina Sanjaya, M.Pd. Kalau memang begitu kejadiannya, maka tidak mengherankan kalau ada beberapa sekolah yang 100% siswanya tidak lulus dalam ujian nasional.

    Komentar oleh Drs. Adripen, M.Pd — 29 Juni 2008 @ 22:34 | Balas

  9. Robert Greenleaf berpendapat bahwa, belajar dari pengalaman, berarti mengenal dirinya sendiri. Bahwa seseorang yang ingin meniti karir dan melaksanakan pekerjaanya, bercita-cita untuk menjadi pemimpin, maka seseorang itu harus lebih dahulu mengenal dirinya sendiri, kemudian lingkungannya,dalam hal ini bukan hanya lingkungan kerja, tetapi juga lingkungan dimana seseorang itu hidup. Inilah arti sesungguhnya bagi Robert Greenleaf yang landasan dan menjadikannya sebagai tanda kehidupan yang dimulai semenjak masa awal kelahiran seseorang.

    Komentar oleh Insan Adha — 24 Juli 2008 @ 22:51 | Balas

  10. Multiple Intelligences atau kecerdasan jamak adalah kemampuan seseorang yang meliputi kecerdasan-kecerdasan intelektual yang terdiri dari aspek kinetis – musical – visual spatial – interpersonal – intrapersonal – logika – bahasa dan naturalis. Aspek tersebut pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecerdasan otak (IQ), emosional (EQ) dan spiritual (SQ). Untuk mendapatkan Multiple Intelligence tersebut, semua jenis kecerdasan harus dirangsang pada diri seorang anak sejak usia dini Untuk itu anak-anak memerlukan media belajar yang menyenangkan dan kreatif.

    Komentar oleh Indonesia Tera — 26 Agustus 2008 @ 07:46 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: