Klub Haus Buku

7 Juni 2008

Pelayanan Sektor Pendidikan

Filed under: Pendidikan — opungregar @ 21:24
Tags:

Oleh Aminuddin Siregar

Tahun 1983, pemerintah melakukan perubahan terhadap politeknik dengan memberikan status persamaan dengan universitas lain. Dan pemerintah tidak lagi melakukan pengawasan terhadap politeknik. Sehingga, dalam waktu yang sama, sekolah teknik mulai menggantungkan dana/pendapatan mereka dari pembayaran biaya pendidikan dari para siswa dan pemerintahpun mulai mengurangi pemberian dana terhadap sekolah teknik. Kondisi ini menyebabkan sekolah teknik lebih mirip usaha bisnis dan ini berbeda dari status sebelumnya.

Di beberapa sekolah, para staf pengajar dan dosen profesional melibatkan diri mereka dalam masalah perekonomian. Dan hal ini tidak bisa dihindari. Pemerintah pun melakukan hal yang sama, dengan menyatukan keikut sertaan pengusaha dalam pemerintahan. Kerjasama yang baru ini menyebabkan timbulkan pengawasan yang ketat terhadap para staf pengajar. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan peranan para staf tersebut dan juga hubungan mereka dengan atasan mereka.

Pada tahun 1988, kerjasama untuk menghapus sistem pendidikan London yang terdahulu (yang selalu mendapat bantuan dan pengawasan dari pemerintah) muncul secara bersamaan. Dan mulailah diperkenalkan sekolah dengan pengelolaan sendiri dan juga pendanaan sendidri yang mana nantinya, sebagian dari dana tersebut disalurkan untuk keperluan daerah mereka. Hal tersebut memungkinkan sekolah-sekolah teresbut membebaskan diri mereka dari pengawasan pemerintah. Dan mereka juga menetapkan kurikulum yang sama dengan memberikan ujian/tes kepada siswa sesuai dengan tingkatan usia mereka. Disamping itu, didirikan pula lanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Peranan pendidikan juga melahirkan usaha untuk mengurangi pengawasan terhadap daerah melebihi sektor pendidikna dan untuk meningkatkan kualias terhadap science dan ilmu pengetahuan dengan demikian juga sekolah negeri. Usaha ini diperkinalkna untuk mengikat kerja sama antara dunia pendidikan dengan dunia usaha. Khususnya bagi sekolah-sekolah yang gagal mengarahkan pra siswnya untuk mendalami bidang bisnis demikian juga dengan para orang tua yang tidak menyetuji dengan hal-hal mewah seperti pelajaran musik dan hal-hal lainnya.

Menurut Kicron Walsch perubahan sistem pendidikan merupakan masa transisi dari keprofesionalan disini didefinisikan suatu sistem pendidikan dimana seorang guru mempunyai wewenang untuk melawan pemerintahan yang berdasarkan terhadap penindasan. Dan pengawasan yang dilakukan terhadap keprofesonilan guru (apakah itu dari pelaku politik, pengawas pendidikan atau DES) secara tidak langsung bisa mengurangi keprofesionalan itu sendiri.

Namun, selalu ada keragunan dan ketidak tenangan diantara mereka. Khususnya mengenai keprofesionalan para pengajar tersebut dalam sistem pengajaran mereka. Para inspektorate menyatakan bahwa tidak ada yang perlu diragukan mengenai keprofesionalan para guru tersebut dan para pelaku politk meminta pemerintah memberikan perincian peristiwa-peristiwa yang terjadi selama proses pendidikan itu berlangsung. Dengan pertimbangan bahwa dana pendidikan tersebut berasal dari dana masyarakat. Pertanyaan tersebut sebenarnya tidak begitu penting dibanding persaingan untuk menarik masyarakat ikut serta mengawasi sektor pendidikan ini.

Ini hanya bisa diakukan oleh para guru dan pemerintah. Sebagai contoh : para pengusaha mungkin merasa bahwa mereka mempunyai kewajiban yang sama dalam dunia usaha, yang juga mereka dapatkan dari pendidikan. Dan itu bisa saja berupa dasar membaca, mengenal angka, ketepatan dan keinginan untuk menerima petunjuk. Para guru mungkin merasa bahwa itu adalah dasar-dasar yang penting. Tetapi, tidak semuanya begitu :

Mereka mungkin lebih mengharapkan kreatifitas dan imajinasi dari para siswa. Seandainya, kebijaksanaan pendidikan atau sekretaris negara bidang pendidikan menginginkan untuk memasukkan dasar berhitung lebih dari kreatifitas dan mengharapkanhalt ersebut terjadi maka itu bukanlah mengarah kepada “kepemimpinan” tetapilebih kepada “keprofesionalan”. Dan akan lebih baik jika sekretaris negara melakukan pengawasaan untuk menarik para pengusaha ikut serta dalam masalah pendidikan.

Secara umum, perubahan tersebut melemahkan rencana pendidikan. Dasar utama dalam sistem berusaha keras untuk bertahan di tengah persaingan dengan lembaga pendidikan yang lain.

Kebijaksanaan-kebijaksanan yang lain, seperti Dewan Essex County menyediakan dana yang cukup besar untuk sejumlah sekolah. Meskipun dalam hal dana tersebut telah ditetapkan (15 % menjelang April 1993). Itu berarti, pelayanan seperti bantuan kurikulum dan pelatihan telah diberikan kepada sekolah-sekolah. Dengan pilihan tersebut, banyak sekolah memutuskan untuk mengusahakan pelayanan bagi mereka. Dan pasaran dalam negeri telah memproduksi dan mejual hasil produksi mereka. Kenyataanya hubungan antara kebijaksanan pendidikan dan sekolah-sekolah telah bertolak belakang dan sekolah-sekolah berada dalam pegawasan.

Dalam tahap selanjutnya perubahan pendidikan ditetapkan dalam kesepakatan. Perananan pendidikan pada tahun 1992 benar-benar dilaksanakan oleh pimpinan di bidang pendidikan untuk memberikan kebebaasn kepada sekolah-sekolah. Hal ini dilakukan 5 tahun perpindahan kekuasaan dari pimpinan daerah kepada pimpinan majesty. Kesepakatan itu menyatakan bahwa ada usaha bersama untuk meningkatkan standar di sekolah-sekolah. Pengawasan terhadap kurikulum dan ujian-ujian yang diberikan dilakukan oleh pengawasan pendidikan. Dan dilain pihak bidang bendaan bagi sekolah-sekolah juga melakukan pengawasan terhadap penyaluran dana kepada sekolah-sekolah yang telah ditetapkan.

Pemberian dana pendidikan dalam suatu daerah benar-benar dipenuhi, dimana 75 % dari sekolah yang dituju akan mendapat 10 % bagi tiap-tiap sekolah tersebut. Padahal proses dalam pemberian dana tersebut tidaklah mudah karena bersamaan dengan merubah karakteristik dari sekolah itu.

Sejumlah besar perubahan ini untuk menyelaraskan pelayanan pendidikan. Pengawasan memberikan cara kepada pemerintah puat untuk melakukan pengawasan secara penuh. Pendiidkan Akademik bersaing untuk mendapatkan para mahasiswa dan dana tersebut berasal dari bantuan dari beberapa pengusaha. Penggabungan antara pengawasan pusat dengan persaingan paar telah menggantikan pengawasan terhadap daerah. Bagi orang tua dan sisa yang terlibat dalam kegiatan ini tidak bisa menentukan posisi mereka apakah di dalam sistem pendiidkan lokal atau tidak. Hal ini menyebabkan dibuatnya suatu prosedur untuk memilih anggota-anggota yang berwenang dalam komite pendidikan. Dibawah sistem pengawasan departemen pendidikan hanya masyarakat daerah yang tertarik dengan sekolah negeri. Akibatnya hal tersebut benar-benar dikontrol oleh pemerintah. Sekolah paruh waktu selalu tidak diinginkan dalam dunia pendidikan dan berbeda sekali dengan sekolah formal.

Hasil dari pendekatan politik pasar terhadap pendidikan sangat dramatis sekali. Persaingan antar sekolah tidak berdasarkan biayanya tetapi hal tersebut dihubungkan dengan keaneka ragaman sekolah itu sendiri. Kesepakatan di atas menyatakan pengenalan terhadap sekolah itu sendiri berdasarkan pertumbuhan atau banyaknya sekolah yang tersedia. Itulah sebabnya mengapa dikatakan bahwa sekolah itu berusaha untuk menarik (memilihj) siswa-siswa terbaik sehingga hasil ujian mereka lebih baik dari yang lainnya. Inilah yang paling menarik bagi akademis untuk melihat kedepan dalam melakukan perubahan terhadap karakter siswa itu sendiri. Dan mereka akan menjadi sekolah dasar.

Sekolah yang sangat sedikit menarik minat para siswa akan kehilangan nilai akademisnya dan ini sngat sulit untuk menjual nilai penting mereka seperti akademik yang rendah kerja sama yang kurang, orang tua dan guru dan lain-lain. Hal ini menyebabkan mereka lebih berkonsentrasi dalam menerapkan aspek-aspek pilihan dalam kurikulum tersebut. Mereka akan menjadi sekolah lanjutan yang modern. Sekolah-sekolah membedakan diri mereka dari yang lainnya akan menyediakan perlengkapan teknoogi dan bisa saja menjadi sekolah teknik.

Bagi penduduk yang daerahnya mengalami kemunduran akan terjadi maalah yang besra bagi lembaga sekolah seperti jumlah murid yang sedikit, kurang tertariknya para murid, biaya yang besar dan hasil yang tidak memuaskan. Padahal dukungan dari para murid adalah bagian penting dari pendidikan, seperti yang dikemukakan oleh pakar psikologi pendidikan. Hal tersebut juga ditujukan terhadap kondisi pasar. Pemerintah mengharapkan dengan meningkatnya sektor-sektor swasta akan meningkatkan pula penyediaan terhadap pelayanan (HMSO, 1992, paragraf 6.8). pendekatan pada sektor perekonomian terhadap anak-anak sangat dibutuhkan sekali.

Walaupun dalam kenyataanya sektor swasta ini tidak begitu memegang peranan penting bagi mereka, seperti yang dikemukakan dalam kesepakatan bersama tersebut. Karena sektor perekonomian tersebut dijalankan oleh para profesional yang mana mereka merobah suatu kebijaksanaan pendidikan dan menerapkan bagi mereka sendiri.Perekonomian tidak menentu (berubah). Persaingan antar sekolah akan menambah perbedaan diantara mereka dan akan mengurangi masukan dalam bidang pendidikan. Pemerintah juga menetapkannya dalam kesepakatan bersama di atas yang mereka sebut dengan “kegagalan sekolah”.

Didalam penelitian, kegagalan sekolah itu disebabkan oleh lemahnya pengawasan dan kurangnya jiwa kepemimpinan. Jalan keluarnya adalah dengan merubah sistem kepemimpinan sekolah tersebut menjadi organisasi kependidikan.Pengaruh dari perubahan kepemimpinan ini sangatlah besar. Bagi departemen pendidikan akan menerapkan aturan baru yang mewajibkan penyediaan tenaga-tenaga terlatih yang baru. Perencanaan anggaran untuk sekolah-sekolah benar-benar merupakan tugas bagi departemen pendidikan.

Untuk itulah LEAS telah mengadakan suatu perubahan dalam peranan para profesional untuk mengabdikan jasa mereka kepada sekolah-sekolah. Dipihak lain mereka telah memberikan otonomi sendiri terhadap sekolah-sekolah teresbut. Dan bagi sekolah-sekolah negeri diberikna pengarahan untuk menjalankan organisasi mereka seperti layaknya bisnis.

8 Komentar »

  1. Saya membaca sebuah buku menarik tentang pendidikan yang ditulis oleh seorang profesor dari Australia, saya sangat ingin menterjemahkan buku tersebut dan memasarkannya di Indonesia.
    Apakah ada eman-teman yang dapat membantu memberikan informasi teang hal-hal
    yang terkait dengan pembelian copy right untuk di terjemahkan dan dipasarkan di Indonesia? Dimana saya bisa mendapatkan informasi tentang ini.
    Terima kasih,
    Eka Simanjuntak

    Komentar oleh Eka Simanjuntak — 16 Juli 2008 @ 10:49 | Balas

  2. Hal penting lainnya dalam mengamati pendidikan adalah yang menyangkut, disain pelajaran yang dipusatkan pada kemampuan berpikir (intellect). Pada tingkat dasar (elementary grade level)disain pelajaran yang dipusatkan terdiri dari kemampuan berbahasa dan berkomunikasi, studi-studi sosial, matematika, ilmu alam dan seni. Pada tingkat kedua (scondary level), pelajaran akademik yang tradisional terdiri dari Bahasa Inggeris, matematika,ilmu alam, studi-studi sosial dan bahasa asing. Walaupun pembagian subjek ini kemungkinan tidak berubah, namun konten dan pengalamannya secara spesifik dapat dan akan berubah.Komentar Anda?

    Komentar oleh Insan Adha — 24 Juli 2008 @ 23:35 | Balas

  3. Neil Postman dalam bukunya “Matinya Pendidikan: Redefinisi Nilai-nilai Sekolah”, berujar, bahwa ada beribu-ribu cara bagaimana kita bisa menemukan hubungan antara dan realitas?. Postman menyarankan bahwa, buku terbaik untuk membangkitkan ketertarikan dalam suatu mata pelajaran adalah karya Hellen Keller yang berjudul ‘The Story of My Life”. Karena di dalamnya menguraikan banyak hal tentang simbol-simbol dan proses-proses abstraksi bekerja menciptakan dunia. Lalu, setiap mata pelajaran , mulai dari pelajaran sejarah, biologi hingga matematika– para pelajar harus diajarkan, keseluruhan wacana yang memperbandingkan suatu mata pelajaran, secara eksplisit dan sistematis.

    Komentar oleh Ebyuleris — 25 Juli 2008 @ 00:28 | Balas

  4. Keuangan dan mutu pendidikan mempunyai hubungan yang erat. Bahwa jumlah uang yang dipergunakan bagi pendidikan cukup untuk mempertahankan pertumbuhan sistem sekolah untuk meningkatkannya, sebagaimana dikemukakan oleh C.EBeeby. Menurutnya gaji guru yang rendah, pengeluaran belanja pkok tinggi, beban berat yang dipikulkan dipundak orang tua, belum lagi masalah lain yang juga sangat mempengaruhi tingkat perkembangan pendidikan yang tidak dapat mengikuti berbagai kemajuan dan perubahan yang begitu cepat terjadi.

    Komentar oleh Yunasri, SE, M.Si — 25 Juli 2008 @ 00:50 | Balas

  5. Kemampuan orang tua dan masyarakat untuk membiayai pendidikan juga sangat berbeda-beda dari satu daerah dengan darah lain. Sehingga tidak mengherankan kalau banyak sekolah yang pada Ujian Nasional tempo hari ada puluhan sekolah yang muritnya tidak satu pun yang lulus. Banyak sebab-sebab hambatan pembahruan yang mengakibatkan mutu pendidikan di Indonesia belum seperti yang diharapkan baik oleh masyarakat maupun oleh anak didik itu sendiri. Itu sebabnya Torsten Husen menyarankan agar mengubah strategi pembaharuan. Karena itu para guru sudah waktunya untuk berinovasi. Karena inovasi merupakan strategi perubahan. Bagaimana menurut Anda?

    Komentar oleh Neni Emilda — 25 Juli 2008 @ 00:51 | Balas

  6. Sekolah yang sangat sedikit menarik minat para siswa akan kehilangan nilai akademisnya dan ini sngat sulit untuk menjual nilai penting mereka seperti akademik yang rendah kerja sama yang kurang, orang tua dan guru dan lain-lain. Hal ini menyebabkan mereka lebih berkonsentrasi dalam menerapkan aspek-aspek pilihan dalam kurikulum tersebut. Mereka akan menjadi sekolah lanjutan yang modern. Sekolah-sekolah membedakan diri mereka dari yang lainnya akan menyediakan perlengkapan teknoogi dan bisa saja menjadi sekolah teknik.

    Komentar oleh Lina MIsna — 25 Juli 2008 @ 01:17 | Balas

  7. Persoalannya asumsi-asumsi apa yang dapat kita tentukan dalam membangun sistem pendidikan kita di Indonesia kini dan di masa datang. Ada yang berpendapat bahwa untuk hal itu diperlukan upaya yang tidak terputus. Dengan kata lain berkesinambungan seperti halnya ketika kita menjalani proses pendidikan di bangku sekolah. Demokrasi pendidikan harus menciptakan ruang selebar-lebarnya bagi siapa saja yang ingin menimba ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Dengan demikian pendidikan dapat berfungsi sebagai faktor mobilitas sosial

    Komentar oleh Indria Sari — 25 Juli 2008 @ 01:21 | Balas

  8. Terima kasih, telah mengunjungi blog Klub Haus Buku, informasi dan komentar yang Anda tinggalkan dan apa yang Anda harus sampaikan, apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, sangat bermanfaat bagi kami. Kami ingin terus berinteraksi dengan Anda dan menciptakan hubungan social melalui diskusi online lewat blog ini.
    Kami dari komunitas Klub Haus Buku mencoba membangkitkan kembali sprit Gemar-Membaca Mengasyikkan dan Membikin Hidup Lebih Bermakna. Komunitas ini juga mendiskusikan banyak hal tentang buku dan dunia perbukuan yang telah sedemikian maju dan berkembang pesat di Indonesia.
    Kunjungi terus blog ini dan tinggalkan pesan, saran dan apa pun saja komentar, demi kebaikan dan kebersamaan selalu bermanfaat bagi khalayak ramai pilih salah satu blog ini untuk posting komentar Anda, di alamat ini : http://klubhausbuku.WordPress.com, http://klubhausbuku.blogspot.com, http://bookhunerclub.yahoo/group.com, http://my.opera.com.Opungregar.blog, http://opungregar’s.Weblog.WordPress.com, http://redingcomunity.WordPress.com, http://my.opera.com/Regard/blog
    Salam, Opung Regar

    Komentar oleh opungregar — 30 Juli 2008 @ 02:17 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: