Klub Haus Buku

7 Juni 2008

Bagaimana Orang Dewasa Belajar

Filed under: Pendidikan — opungregar @ 21:01
Tags:

Penerjemah :Komunitas Klub Haus Buku

Agar mencapai tahap pembelajaran, anda seharusnya mengerti sesuatu tentang bagaimana anda belajar. Artikel berikut ini akan memperkenalkan kepada anda beberapa hal yang signifikan tentang bagaimana orang belajar.

Belajar dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan atau pengalaman dalam mendapatkan ilmu pengetahuan atau keahlian. Memori menegaskan suatu kapasitas dalam menyimpan, mengeluarkannya kembali dan berakting/ mengaktingkan ilmu pengetahuan tersebut. Belajar membantu kita untuk bergerak dari awam menuju pakar dan membuat kita mampu untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan kemampuan.

Belajar memperkuat otak dengan membangun jalur-jalur baru dan meningkatkan koneksi yang kita andalkan ketika kita ingin untuk belajar lebih banyak lagi. Definisi yang lebih kompleks menambah kata-kata seperti pemahaman dan penguasaan melalui pengalaman atau belajar.

Secara ilmu alat-alat tubuh, belajar yaitu pembentukan kesatuan-kesatuan sel dan rentetan pase. Anak-anak belajar dengan membangun satuan-satuan ini dan rentetan-rentetan ini. Orang dewasa menghabiskan lebih banyak waktu dalam membuat tatanan-tatanan baru dari pada membentuk rentetan-rentetan yang baru. Pengalaman kita dan latar belakng kita membuat kita mampu untuk mempelajari konsep-konsep baru.

Pada tingkat syaraf, suatu ilmu yang terbentuk (dari pengalaman dan latar belakang) muncul dan terbentuk dari tatanan-tatanan yang sangat rumit sekali dari unsur-unsur sel, penguatan listrik, dan unsur-unsur kimia. Belajar membutuhkan energi, pembelajaran ulang bahkan membutuhkan lebih banyak energi lagi. Kita harus mengakses funsi otak yang lebih tinggi untuk melahirkan lebih banyak energi yang dibutuhkan dan melepaskan yang lama.

Diskusi kita disini memandang pembelajaran, dari sesuatu yang paling mendasar sampai pada sesuatu yang paling kompleks. Untuk menjadi: (1) adanya suatu peningkatan pada ilmu pengetahuan (2) menghafal informasi (3) mendapatkan ilmu pengetahuan untuk penggunaan yang praktis (4) mengabstrakkan arti dari apa yang kita lakukan (5) suatu proses yang membuat kita mampu untuk mengerti.

Suatu hal yang ajaib sekali, orang bisa belajar dari saat lahir. Pembelajaran dapat dan seharusnya merupakan suatu proses seumur hidup. Pembelajaran tidak seharusnya didefinisikan oleh apa saja yang terjadi di kehidupan awal di dalam hidup. Kita terus-menerus menjadikan setiap pengalaman menjadi sesuatu yang dapat diterima oleh akal sehat dan terus-menerus mencari arti. Kesimpulannya, kita terus belajar.

Pembelajaran yang bersifat menghafalkan, membuat kita frustasi karena otak menolak rangsangan yang tidak berarti. Ketika kita menuntut kapasitas alami otak untuk menyatukan informasi, bagaimanapun, kita dapat mengasimilasikan jumlah-jumlah yang tak berbatas atau tak terbatas.

Sesuatu yang anda senangi adalah, anda akan mengajarkan kata ‘Ah-ha’ ketika akhirnya anda mengetahui bahwa anda berhasil melewati suatu pembelajaran yang sulit.

Kita dapat belajar dari apa yang dapat ditangkap oleh pikiran pada usia kapanpun juga. Otak kita membangun dan memperkuat jalur syaraf, tak peduli dimanapun kita berada dan juga tidak peduli apa subjeknya atau konteksnya.

Dalam lingkungan bisnis dewasa ini, menemukan cara yang lebih baik untuk belajar akan mendorong organisasi jauh ke depan. Otak yang kuat akan menjadi bahan bakar terciptanya organisasi yang kuat. Kita harus mendayagunakan gaya alami kita kemudian membangun sistem untuk memuaskan kebutuhan. Hanya melalui proses pembelajaran secara individu kita dapat menciptakan kembali lingkungan kita dan diri kita sendiri.

REFERENSI

American heritage of the English language (1992 ed)

Harold D. Lasswell, The changing nature of human nature. American Journal of Psychoanalysis, 26 (2), p. 164. Quoted in Alvin Toffler (1970, Future Shock.

Robert M. Smith (1991, April) How people become effective learners. Adult Learning, p. 11

Robert L Steinbach (1993) The Adult Learner : Strategies for Success, Menlo Park, CA: Crisp Publications.

7 Komentar »

  1. Dalam pembelajaran orang dewasa ada yang dinamakan participant oriented, yakni berorientasi peserta. Metode inilah yang diterapkan oleh para fasilitator atau tenaga pengajar dalam berbagai pelatihan orang dewasa. Metodenya, umumnya menggunakan metode ceramah, diskusi, dan latihan. Seharusnya hal ini bisa juga diterapkan dalam ruang-ruang kelas semenjak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Namun kenyataannya belum banyak menggunakan proses pembelajaran seperti yang diterapkan pada orang dewasa.
    Kecenderungan yang dapat kita amati ialah model fasilitator oriented, di mana peserta didik berorientasi pada guru, fasilitator atau pendidik. Pemilihan metode ini pula yang perlu mendapat perhatian seluruh tenaga pendidik atau fasilitator. Apakah itu guru, dosen atau sebutan lainnya.

    Komentar oleh Aminuddin Siregar — 5 Juli 2008 @ 22:47 | Balas

  2. Assalamualaikum Tuan moderator,
    Saya ingin meminta tolong kawan-kawan… Saya sebenarnya telah lama tidak mengamalkan ajaran Islam. Tetapi di dalam hati sentiasa takut dengan kemurkaan ALLAH.
    Tolonglah wahai kawan-kawan.. Saya ingin sangat mendidik diri saya seperti dulu, tidak tinggalkan solat berpengetahuan dalam ajaran Islam dan yang paling penting dapat mendidik anak-anak saya yang masih kecil.Saya ingin sangat mendalami ilmu agama.
    Untuk pengetahuan kawan-kawan semua saya tinggal di Damansara Damai dan bekerja di Subang Jaya. Dimanakah tempat yang paling dekat untuk saya belajar mengaji dan sebagainya????. Sekiranya di Subang Jaya masa yang saya ada cumalah diwaktu rehat sahaja 1-2tengah hari. zamila_193@yahoo. com

    Komentar oleh Zamila — 15 Juli 2008 @ 17:45 | Balas

  3. Orang dewasa belajar memerlukan kemerdekaan dan kebebasan, agar mereka dapat mengembangkan pola pikir dan kemampuan analisis merek terhadap masalah yang mereka hadapi baik dalam situasi pekerjaan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu belajar orang dewasa diharapkan terjadinya perubahan perilaku. Barulah kemudian dapat dikatakan, bahwa proses belajar mengajar orang dewasa dikatakan berhasil.

    Komentar oleh Klub Haus Buku — 18 Juli 2008 @ 11:53 | Balas

  4. Diskusi kita disini memandang pembelajaran, dari sesuatu yang paling mendasar sampai pada sesuatu yang paling kompleks. Untuk menjadi: (1) adanya suatu peningkatan pada ilmu pengetahuan (2) menghafal informasi (3) mendapatkan ilmu pengetahuan untuk penggunaan yang praktis (4) mengabstrakkan arti dari apa yang kita lakukan (5) suatu proses yang membuat kita mampu untuk mengerti.

    Komentar oleh Aminuddin Siregar — 18 Juli 2008 @ 11:59 | Balas

  5. Supaya diskusi kita bermanfaat dan memberi sesuatu manfaat kepada banyak orang tidak saja anggota komunitas, tetapi juga masyarakat pada umumnya, memang diperlukan konsistensi pelaksanaan diskusi
    Dalam menyikapi masalah pendidikan orang dewasa, ada beberapa pendekatan yang lazim dilakukan seperti, 1.Pendekatan yang berpusat pada masalah,2.Pendekatan Proyektif, 3. Pendekatan Aktualisasi Diri. Umumnya ketiga pendekatan inilah yang dipakai oleh para fasilitator dalam pelatihan-pelatihan orang dewasa.

    Komentar oleh Ahmad Genta — 18 Juli 2008 @ 12:06 | Balas

  6. Mungkin akan lebih baik kalau pendekatan yang disebutkan oleh Pak Genta dijelaskan satu persatu agar semua peserta diskusi bisa lebih memahami makna dari setiap pendekatan. Misalnya pada saat manakah pendekatan aktualisasi diri diterapkan dalam proses belajar mengajar orang dewasa. Sekarang ini sudah sangat banyak buku tenatang belajar orang dewasa. Jadi tidak ada salahnya kalu kita juga dapat mengadopsi dari pendapat-pendapat pakar lain. Bagaimana menurut teman-teman lain?

    Komentar oleh Shohibul Azi Rivai, SE, M.Si — 18 Juli 2008 @ 12:10 | Balas

  7. Kenapa pelajar dewasa harus menyimpan jurnal ? Menurut Schneider (1994), tulisan jurnal sangat mendekati bahasa alami dan tulisan dapat mengalir tanpa disadari atau halangan. Ia mengungkapkan proses pikiran dan kebiasaan mental, ia membantu daya ingat, dan ia menyediakan suatu konteks untuk penyembuhan dan pertumbuhan. Jurnal tempat yang aman untuk mempraktekkan kegiatan menulis sehari-hari tanpa adanya pengekangan bentuk, para hadirin, dan evaluasi (Sommer, 1989),

    Komentar oleh Book Hunger Club — 30 Juli 2008 @ 16:11 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: