Klub Haus Buku

5 Juni 2008

Jakarta Under Kompor-Arham Kendari

Filed under: Komentar Buku,Peluncuran Buku,Resensi Buku,Underkompor — opungregar @ 22:52
Tags: ,

Oleh Eviwidi
Ini buku konyol entah ke berapa yang aku beli, tapi jujur aja ini gara-gara aku sering blog walking ke blog-nya si Arham ini, sebelumnya aku beli majalah Hai yang berisi Komik-komik horor jayus (Aduh edisinya lupa, mo bongkar-bongkar tumpukan buku kok malaysie..yaa. .:p). Trus beli Komiknya Benny & Mice yang Jakarta Luar Dalem. Yang terakhir ya..ini..Jakarta Under Kompor.

Set. dah, gambarnya Patung Pancoran versi Arham! pake kolor ijo..(kali.. ) soalnya gambarnya di greyscale-sih. Narsis plus-plus beneran nih anak..kirain dia mo pasang Siti Nurhaliza, atau Dian Sastro secara dia ngebet banget tuh sama teh Dian juga si Siti.wakakakkaa. .

Kalo boleh dibilang ini cerita sebenernya cerita keseharian, berhubung disampaikannya dengan cara konyol dan penuh rasa humor tinggi akhirnya jadi menariklah cerita ini. Emang sih, kayaknya sebuah cerita itu bisa hidup dan menarik itu tergantung bagaimana cara menyampaikannya.

Buku ini diambil dari Blog-nya si Arham sendiri. Jadi buku ini blog. Blog-nya juga buku ini. Bahasa timbuktu-nya Book from Blog.

Kalo kalian pengen baca yang ringan-ringan, yang lucu-lucu aku rekomen deh buku ini. Dijamin gak nyesel! kalo di kasih bintang-bintangan, aku kasih bintang 6 untuk buku ini. Ini salah satu puisi gak sopan yang ada di buku si Arham ini. Baru juga seminggu ku dapat kerjaan, teman-teman udah pada kreatif buat schedule traktiran dari Jakarta Utara sampai Jakarta Selatan. Namun apa daya, tak kuasa ku melawan,  bingung ku memikirkan, gimana dapatkan tambahan modal secara instan Apakah jadi preman Tanah Abang?
Ataukah jual diri di Taman Lawang?

Tanggal muda bulan depan Haruskah ku minta perlindungan ke Komnas HAM Mungkinkah ku mabur ke Pulau Nusakambangan? Ataukah invisible for everyone?

oh, Pak Sutiyoso yang ganteng dan rupawan. Mengapa kotamu begitu kejam Mengapa budaya merokok di tempat umum di larang? Tetapi budaya traktir gaji pertama dilestarikan?
Oh, Pak SBY yang macho nan jantan Tak bisakah kau buat kepres dan undang-undang? Yang melindungi keselamatan warga pendatang? Yang terbebaskan dari traktiran yang seolah jadi kewajiban?

Oh, teman-teman yang berperikemanusiaan dan berperikeadilan Mengertilah diriku yang hanya karyawan kecilan Kuharap gajian nanti gak minta macam-macam Kecuali satu diantara kalian bersedia kujadikan istri simpanan. Oh, Emak nun jauh di kampung halaman Maafkan jika bulan depan gak ada kiriman yang kujanjikan Terserahlah jika kau anggap anakmu ini Malin Kundang Asal jangan kau kutuk diriku jadi patung Pancoran.
Oh, para pembaca yang budiman\ Maafkan jika puisi ini gak sopan Karena aku bukanlah ponakan Kahlil Gibran  : Hanya anak perantauan yang konsisten mempertahankan ketampanan

13 Komentar »

  1. Evi Widi mengomentari buku Jakarta Underkompor, menurutnya ini adalah cerita keseharian dan bisa saja dialami oleh siapa saja. Lewat komentar buku Jakarta Underkompor ini Evi Widi menuliskan sepenggal puisi, sebagai maksud untuk memancing emosi pembaca. Sehingga lengkaplah sudah, bahwa pembaca turut melibatkan dan masuk dalam pertarungan dan kekonyolan buku ini.

    Komentar oleh opungregar — 19 Juli 2008 @ 12:33 | Balas

  2. Mantaaaaaaabbhhh. .. Kata pertama pas beres baca buku ini.
    ampe gw niat banget bikin reviewnya, padahal ini kaga pernah bikin kaya ginian.
    Ngakak abis nih… meskipun sebagian sudah pernah baca di blog-blognya dia.
    Settingan cerita di novelnya juga bener-benar merakyat, bener-benar real life, pake bawa odong-odong segala. Kadang setelah baca satu cerita, suka ujug-ujug pengen nanya “si Arham bener ngak yah ngelakuin hal ini?”. cerita2nya ringan tapi lucu, kaga lebay.

    Komentar oleh Fanny — 19 Juli 2008 @ 12:50 | Balas

  3. Terima kasih, telah mengunjungi blog Klub Haus Buku, informasi dan komentar yang Anda tinggalkan dan apa yang Anda harus sampaikan, apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, sangat bermanfaat bagi kami. Kami ingin terus berinteraksi dengan Anda dan menciptakan hubungan social melalui diskusi online lewat blog ini.
    Kami dari komunitas Klub Haus Buku mencoba membangkitkan kembali sprit Gemar-Membaca Mengasyikkan dan Membikin Hidup Lebih Bermakna. Komunitas ini juga mendiskusikan banyak hal tentang buku dan dunia perbukuan yang telah sedemikian maju dan berkembang pesat di Indonesia..
    Kunjungi terus blog ini dan tinggalkan pesan, saran dan apa pun saja komentar, demi kebaikan dan kebersamaan selalu bermanfaat bagi khalayak ramai pilih salah satu blog ini untuk posting komentar Anda, di alamat ini :
    Salam, Opung Regar

    Komentar oleh opungregar — 30 Juli 2008 @ 01:26 | Balas

  4. Dear Mods..
    Jakarta Under KOmpor..? Arham…? jujur saja, aku baru tahu kalo si Arham ini bikin buku, konyol lagi! karena selama ini aku pengunjung setia Blog dia di http://arhamkendari.multiply.com/yang emang komedis-abis,yang tak pake kudis dan kumis,sambil makan tumis.(Apaaan seehh..)waktu dia nulis menyinggung-nyinggung soal Jakarta Under KOmpor, aku bener-bener gak ngeh kalo itu judul buku dia..Wah kayaknya musti beli nih bukunya dia…
    Arham..I’m coming..cheerz -Evi-
    Blog of EVIWIDI http://eviwidiszone.blogspot.com

    Komentar oleh Eviwidi — 10 Agustus 2008 @ 23:04 | Balas

  5. Saya mampir di Gramedia Metropolitan Mall Bekasi. Wah, pandangan saya langsung jatuh
    pada buku”Jakarta Under Kompor” karya kawan kita, Arham Kendari yang bertengger rapi di rak buku best seller.Buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
    Saya langsung ambil satu dan bayar ke kasir. Luar biasa!. Bukunya sangat menghibur, kocak dan lucu. Saya sempat tertawa terpingkal-pingkal diatas bis. Yang membanggakan, Arham tak lupa menyampaikan ucapan terimakasih
    kepada para daengnya di kata pengantar (nassami termasuk Daeng Battala..hehehe) . Thanks dan Selamat buat
    Arham atas prestasi yang diraihnya ini. Terus berkarya cappo’!. Resensiku menyusul ya
    wassalam,ATG http://www.daengbattala.com

    Komentar oleh Ike — 10 Agustus 2008 @ 23:10 | Balas

  6. Selamat Memyambut dan Menunaikan Ibadah di Bulan Ramadhan Yang Penuh Barakah
    Semoga Ramadhan kita kali ini lebih baik dari tahun yang sebelumnya

    Komentar oleh Rosmal — 30 Agustus 2008 @ 00:01 | Balas

  7. KEISTIMEWAAN BULAN RAMADAHAN
    Kehadiran bulan ramadan merupakan satu rahmat daripada ALLAH. Ia merupakan bulan di mana ALLAH melimpahkan pelbagai ganjaran pahala kepada hamba-hamba- NYA. Oleh itu, tidak hairanlah sekiranya golongan yang benar-benar beriman dan bertakwa sentiasa menantikan kehadiran bulan Ramadan ini seraya menyambut kedatangannya dengan penuh kegembiraan dan menanggung perasaan yang amat sedih apabila berakhirnya bulan yang penuh berkat ini. Bulan Ramadan telah dimuliakan oleh ALLAH dengan pelbagai keistimewaan berbanding bulan-bulan ALLAH yang lain. Untuk mengetahui keistimewaan yang terdapat pada bulan Ramadan sila ke alamat ini

    Komentar oleh Rosmal — 30 Agustus 2008 @ 00:06 | Balas

  8. ” Do’a Malaikat Zibril Menjelang Ramadhan ”
    “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
    * Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
    * Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami istri;
    * Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.
    Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali. Dapat kita bayangkan, yang berdo’a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan para sahabat, dan dilakukan pada hari Jum’at.

    Komentar oleh Andri — 30 Agustus 2008 @ 00:17 | Balas

  9. Berdoalah agar Allah swt. memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan bulan Ramadan dalam keadaan sehat wal afiat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal di bulan itu, baik puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, ”Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadan.” Artinya, ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban; dan sampaikan kami ke bulan Ramadan. (HR. Ahmad dan Tabrani)

    Komentar oleh Irawan — 30 Agustus 2008 @ 00:30 | Balas

  10. sebagai karya sastra, Jakarta Under Kompor tentu memberi sesuatu. namun bagi saya, buku ini masuk dlam katagori “pop” yang sementara membanjiri pasar buku indonesia. saya terganggu dengan gaya bahasa yang digunakan. jakarta banget, gitu lo. settingnya kendari, bahkan ibu arham pun ikut serta dalam dialog-dialognya. tetapi juga menggunakan dialek jakarta. pertanyaannya, apakah di kemaraya dan kendari, menggunakan dialek jakarta? tidak! inilah persoalan utama yang dihadapi penulis. apakah ia percaya pada bahasa indoensia ragam kendari misalnya, menjadi medium ekspresinya? ataukah ia latah dengan nasionalisasi bahasa indonesia dialek jakarta. sebab percayalah, jika buku arham ini berdialek kendari, ia akan lebih bernilai bagi kendari dan bagi sastra indonesia. jangan takut dialek kendari menghadi pembaca yang beragam, karena pembaca itu cerdas dan tangkas! jakarta under kompor akhirnya ikut pula menandaskan novel ciklit dan tenlit indoensia. setuju?

    Komentar oleh Syaifuddin Gani — 27 Oktober 2008 @ 15:53 | Balas

  11. *SYAIFUDDIN GANI* sebagai karya sastra, Jakarta Under Kompor tentu memberi sesuatu. namun bagi saya, buku ini masuk dlam katagori “pop” yang sementara membanjiri pasar buku indonesia. saya terganggu dengan gaya bahasa yang digunakan. jakarta banget, gitu lo. settingnya kendari, bahkan ibu arham pun ikut serta dalam dialog-dialognya. tetapi juga menggunakan dialek jakarta. pertanyaannya, apakah di kemaraya dan kendari, menggunakan dialek jakarta? tidak! inilah persoalan utama yang dihadapi penulis. apakah ia percaya pada bahasa indonesia ragam kendari misalnya, menjadi medium ekspresinya? ataukah ia latah dengan nasionalisasi bahasa indonesia dialek jakarta. sebab percayalah, jika buku arham ini berdialek kendari, ia akan lebih bernilai bagi kendari dan bagi sastra indonesia. jangan takut dialek kendari menghadapi pembaca yang beragam, karena pembaca itu cerdas dan tangkas! penulis jangan cemas, dialek kendari tidak dimengerti pembacanya. karena kita telah disuguhi kartya sastra monumental, dengan ragam dialek yang kaya, tetapi justru kuat dan fenomenal. jakarta under kompor akhirnya ikut pula menandaskan novel ciklit dan tenlit indoensia. setuju?

    Komentar oleh Syaifuddin Gani — 27 Oktober 2008 @ 15:56 | Balas

  12. komentar saya kemarin sudah dihapus yah. pendapat saya soal Jakarta Under Kompor masih tetap seperti kemarin. buku ini telah mengabaikan potensi paling purbawi yaitu bahasa indoensia dialek kendari, tempat penulisnya lahir. bahasa indonesia dialek jakarta, biarlah digunakan penulis jakarta, karena memang mereka berkomunikasi dengan bahasa ini. penulis harus cerdas dan tangkas dalam soal ini.

    Komentar oleh Syaifuddin Gani — 28 Oktober 2008 @ 09:56 | Balas

  13. KOMENTAR UNTUK BUNG SYAIFUDDIN GANI:
    “jika buku arham ini berdialek kendari, ia akan lebih bernilai bagi kendari dan bagi sastra indonesia. jangan takut dialek kendari menghadapi pembaca yang beragam, karena pembaca itu cerdas dan tangkas!”

    Saya juga pembaca buku arham, dan saya tertawa membaca pendapat anda yang saya kutip di atas itu.
    Anda sungguh subyektif. Apakah anda merasa mewakili sastra Indonesia? mewakili masyarakat kendari pun saya rasa tidak!
    Apa parameter anda mengatakan semua pembaca cerdas dan tangkas?
    Pembaca dan segmen buku beragam, Bung!
    Kalau anda punya idealisme dengan sastra, silahkan bikin buku juga, gunakan idealisme anda yang mungkin itu adalah egoisme kedaerahan, tapi jangan harap anda dilirik oleh penerbit sekelas gramedia!
    Gramedia cari untung, dan Arham dapat peluang untuk itu. Simbiosis mutualisme istilahnya.
    Kalau gramedia punyanya orang Kendari sih silahkan saja bikin buku logat kendari. Hehehe..
    Tidak sembarang orang yang bisa menembus penerbit raksasa gramedia. Penerbit bernama besar, tentu sangat selektif.
    Tak bisa dinafikan bahwa Arham telah mengangkat nama Kendari di bidang penulisan yang sebelumnya tak ada apa-apanya. Jadi jangan egois lah.
    Arham mengabaikan potensi paling purbawi? kalaulah iya, lantas kenapa bukunya best seller dan cetak ulang?
    Kalau memang anda orang Kendari, mestinya anda bangga kepada Arham. Bukan protes dengan pendapat yang seolah-olah mewakili seluruh pembaca.
    Saya juga orang Kendari, kenal dan tahu yang namanya arham. Dan maaf saja, saya sama sekali tak merasa terwakili oleh anda. Saya merasa sangat-sangat terhibur kok bukunya Arham. Saya dapat gratisan, lagi. Hahaha.
    Memang sih terlalu kejakartaan, tapi saya rasa itu cuma soal teknis yang tidak terlalu mempengaruhi content buku yang lucu, dan banyak pesan moral.
    Saran saya, kalau Bung Syaifudin mau bernilai, berbuatlah untuk Kendari. Dengan karya nyata, bukan dengan komentar. Kalau dengan komentar, semua juga bisa!. Hehehe. Peace!

    Komentar oleh Babol Akhbar — 23 November 2008 @ 20:28 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: