Klub Haus Buku

23 Mei 2008

Indonesia Bisa Atasi Krisis

Filed under: Uncategorized — opungregar @ 17:47
Perasaan Ragu Harus Diganti Sikap Optimistis

KOMPAS/AGUS SUSANTO / Kompas Images
Ratusan penari membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam perayaan 100 Tahun Kebangkitan Nasional di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (20/5). Peringatan Kebangkitan Nasional ini dihadiri Presiden dan Ny Ani Susilo Bambang Yudhoyono serta Wakil Presiden dan Ny Mufidah Jusuf Kalla.

Rabu, 21 Mei 2008 | 03:00 WIBJakarta, Kompas – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, dengan bekal sejarah selama 100 tahun terakhir, Indonesia akan bisa mengatasi imbas krisis energi dan krisis pangan dunia yang mengancam perekonomian nasional. Ia menilai arah perjalanan Indonesia sudah benar dan Indonesia akan bisa menjadi negara maju pada abad ke-21.

Keyakinan dan optimisme itu disampaikan Presiden dalam pidato Hari Kebangkitan Nasional yang disiarkan serentak oleh semua stasiun televisi di Indonesia, Selasa (20/5) petang.

”Krisis energi dan pangan dunia akan bisa kita atasi karena sejak 100 tahun yang lalu, sejak bangsa kita bangkit, kita telah menjadi bangsa yang berkemampuan, bangsa yang bisa. Bisa mengubah nasib, bisa bersatu, bisa mengusir penjajah, bisa meraih dan mempertahankan kemerdekaan,” ujarnya.

Dengan bekal kebisaan yang telah teruji sejarah itu, Presiden minta agar perasaan gamang, ragu, dan tidak percaya diri dijauhi dan diganti sikap optimistis. Dasarnya, selama ini, Indonesia dapat terus berdiri tegak menghadapi cobaan dan tantangan, sementara banyak negara lain terpecah belah, runtuh, dan gagal.

Agar dapat menjadi negara maju dan berhasil, Presiden menyebut tiga syarat fundamental yang harus dimiliki, yakni menjaga dan memperkuat kemandirian, mempertinggi daya saing, dan membangun peradaban bangsa.

Malamnya, lebih dari 100.000 penonton dan 30.000 pengisi acara peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional memadati Stadion Gelora Bung Karno, Senayan. Selain Presiden dan Ny Ani Yudhoyono, juga hadir Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ny Mufidah Jusuf Kalla serta sebagian besar pejabat negara.

Acara kolosal lebih dari dua jam itu menampilkan hal-hal yang serba besar untuk menumbuhkan kebanggaan, seperti paduan suara, tarian saman, tabuhan perkusi, atraksi TNI dan Polri, atraksi pencak silat, reog, dan bentangan merah putih.

Hal-hal terbesar itu ditampilkan sebagai simbolisasi kekuatan Indonesia menghadapi berbagai tantangan. Di puncak acara, pukul 21.00, Presiden menyerahkan obor kepada generasi muda berprestasi di tingkat internasional sebagai simbol regenerasi.

Aneka aktivitas

Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional dilaksanakan di berbagai wilayah di Indonesia dengan beragam aktivitas.

Di Gedung STOVIA Jakarta, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengajak warga bangsa untuk berani berkorban demi kepentingan bangsa.

Ia mengatakan, saat ini keadilan dan kesejahteraan yang diidam- idamkan belum kunjung tiba. Untuk itu, semua pihak diajak bersama-sama membangun Indonesia.

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Pramono Anung dalam perayaan yang diadakan PDI-P dan organisasi sayapnya, Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem), Selasa malam, menyebutkan, keterpurukan bangsa Indonesia selama ini antara lain akibat kurangnya konsistensi menegakkan nilai-nilai Pancasila, seperti kebhinnekaan, musyawarah, dan persatuan.

”Kita harus menjadikan Pancasila sebagai pedoman dan dasar pembangunan bangsa ke depan,” kata Anung.

Ketua Umum Repdem Budiman Sudjatmiko menilai pemerintah gagal melindungi kebhinnekaan bangsa. Ada sejumlah anggota masyarakat yang saat ini tidak dapat hidup layak.

Di Pontianak, Kalimantan Barat, ribuan warga tumpah ruah berpawai di jalan protokol.

Kabut asap tipis yang menyelimuti Kota Pontianak tidak menyurutkan semangat warga yang berpakaian bernuansa merah-putih. Acara ini dipelopori Badan Pemuda Olahraga dan Pemberdayaan Perempuan Kalbar.

Di Yogyakarta, ratusan orang melakukan aksi spiritual jalan malam untuk menyongsong datangnya nur Ilahi dalam rangka mengembangkan keluhuran negara Indonesia terkait peringatan seabad Kebangkitan Nasional.

Jalan malam itu diprakarsai Forum Persaudaraan Umat Beragama dan Komite Kemanusiaan Yogyakarta, dimulai dari Monumen Jogja Kembali pada Senin malam dan berakhir di Alun-alun Utara, Selasa dini hari. (INU/JOS/WHY/A06/NWO)

2 Komentar »

  1. Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 31 Mei 2008

    Matinya Ilmu Administrasi dan Manajemen
    (Satu Sebab Krisis Indonesia)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. C(OMPETENCY) = I(nstrument) . s(cience). m(otivation of Maslow-Zain) (Hukum XV Total Qinimain Zain).

    INDONESIA, sejak ambruk krisis Mei 1998 kehidupan ekonomi masyarakat terasa tetap buruk saja. Lalu, mengapa demikian sulit memahami dan mengatasi krisis ini?

    Sebab suatu masalah selalu kompleks, namun selalu ada beberapa akar masalah utamanya. Dan, saya merumuskan (2000) bahwa kemampuan usaha seseorang dan organisasi (juga perusahaan, departemen, dan sebuah negara) memahami dan mengatasi krisis apa pun adalah paduan kualitas nilai relatif dari motivasi, alat (teknologi) dan (sistem) ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Di sini, hanya menyoroti salah satunya, yaitu ilmu pengetahuan, system ilmu pengetahuan. Pokok bahasan itu demikian penting, yang dapat diketahui dalam pembicaraan apa pun, selalu dikatakan dan ditekankan dalam berbagai forum atau kesempatan membahas apa pun bahwa untuk mengelola apa pun agar baik dan obyektif harus berdasar pada sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan. Baik untuk usaha khusus bidang pertanian, manufaktur, teknik, keuangan, pemasaran, pelayanan, komputerisasi, penelitian, sumber daya manusia dan kreativitas, atau lebih luas bidang hukum, ekonomi, politik, budaya, pertahanan, keamanan dan pendidikan. Kemudian, apa definisi sesungguhnya sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan itu? Menjawabnya mau tidak mau menelusur arti ilmu pengetahuan itu sendiri.

    Ilmu pengetahuan atau science berasal dari kata Latin scientia berarti pengetahuan, berasal dari kata kerja scire artinya mempelajari atau mengetahui (to learn, to know). Sampai abad XVII, kata science diartikan sebagai apa saja yang harus dipelajari oleh seseorang misalnya menjahit atau menunggang kuda. Kemudian, setelah abad XVII, pengertian diperhalus mengacu pada segenap pengetahuan yang teratur (systematic knowledge). Kemudian dari pengertian science sebagai segenap pengetahuan yang teratur lahir cakupan sebagai ilmu eksakta atau alami (natural science) (The Liang Gie, 2001), sedang (ilmu) pengetahuan sosial paradigma lama krisis karena belum memenuhi syarat ilmiah sebuah ilmu pengetahuan. Dan, bukti nyata masalah, ini kutipan beberapa buku pegangan belajar dan mengajar universitas besar (yang malah dicetak berulang-ulang):

    Contoh, “umumnya dan terutama dalam ilmu-ilmu eksakta dianggap bahwa ilmu pengetahuan disusun dan diatur sekitar hukum-hukum umum yang telah dibuktikan kebenarannya secara empiris (berdasarkan pengalaman). Menemukan hukum-hukum ilmiah inilah yang merupakan tujuan dari penelitian ilmiah. Kalau definisi yang tersebut di atas dipakai sebagai patokan, maka ilmu politik serta ilmu-ilmu sosial lainnya tidak atau belum memenuhi syarat, oleh karena sampai sekarang belum menemukan hukum-hukum ilmiah itu” (Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 1982:4, PT Gramedia, cetakan VII, Jakarta). Juga, “diskusi secara tertulis dalam bidang manajemen, baru dimulai tahun 1900. Sebelumnya, hampir dapat dikatakan belum ada kupasan-kupasan secara tertulis dibidang manajemen. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa manajemen sebagai bidang ilmu pengetahuan, merupakan suatu ilmu pengetahuan yang masih muda. Keadaan demikian ini menyebabkan masih ada orang yang segan mengakuinya sebagai ilmu pengetahuan” (M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, 2005:19, Gajah Mada University Press, cetakan kedelapan belas, Yogyakarta).
    Kemudian, “ilmu pengetahuan memiliki beberapa tahap perkembangannya yaitu tahap klasifikasi, lalu tahap komparasi dan kemudian tahap kuantifikasi. Tahap Kuantifikasi, yaitu tahap di mana ilmu pengetahuan tersebut dalam tahap memperhitungkan kematangannya. Dalam tahap ini sudah dapat diukur keberadaannya baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Hanya saja ilmu-ilmu sosial umumnya terbelakang relatif dan sulit diukur dibanding dengan ilmu-ilmu eksakta, karena sampai saat ini baru sosiologi yang mengukuhkan keberadaannya ada tahap ini” (Inu Kencana Syafiie, Pengantar Ilmu Pemerintahan, 2005:18-19, PT Refika Aditama, cetakan ketiga, Bandung).

    Lebih jauh, Sondang P. Siagian dalam Filsafat Administrasi (1990:23-25, cetakan ke-21, Jakarta), sangat jelas menggambarkan fenomena ini dalam tahap perkembangan (pertama sampai empat) ilmu administrasi dan manajemen, yang disempurnakan dengan (r)evolusi paradigma TOTAL QINIMAIN ZAINn (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority, TQZ Administration and Management Scientific System of Science (2000): Pertama, TQO Tahap Survival (1886-1930). Lahirnya ilmu administrasi dan manajemen karena tahun itu lahir gerakan manajemen ilmiah. Para ahli menspesialisasikan diri bidang ini berjuang diakui sebagai cabang ilmu pengetahuan. Kedua, TQC Tahap Consolidation (1930-1945). Tahap ini dilakukan penyempurnaan prinsip sehingga kebenarannya tidak terbantah. Gelar sarjana bidang ini diberikan lembaga pendidikan tinggi. Ketiga, TQS Tahap Human Relation (1945-1959). Tahap ini dirumuskan prinsip yang teruji kebenarannya, perhatian beralih pada faktor manusia serta hubungan formal dan informal di tingkat organisasi. Keempat, TQI Tahap Behavioral (1959-2000). Tahap ini peran tingkah-laku manusia mencapai tujuan menentukan dan penelitian dipusatkan dalam hal kerja. Kemudian, Sondang P. Siagian menduga, tahap ini berakhir dan ilmu administrasi dan manajemen akan memasuki tahap matematika, didasarkan gejala penemuan alat modern komputer dalam pengolahan data. (Yang ternyata benar dan saya penuhi, meski penekanan pada sistem ilmiah ilmu pengetahuan, bukan komputer). Kelima, TQT Tahap Scientific System (2000-Sekarang). Tahap setelah tercapai ilmu sosial (tercakup pula administrasi dan manajemen) secara sistem ilmiah dengan ditetapkan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukumnya, (sehingga ilmu pengetahuan sosial sejajar dengan ilmu pengetahuan eksakta). (Contoh, dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru milenium III, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas dan D(ay) atau Hari Kerja – sistem ZQD, padanan m(eter), k(ilogram) dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta – sistem mks. Paradigma (ilmu) pengetahuan sosial lama hanya ada skala Rensis A Likert, itu pun tanpa satuan). (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    Bandingkan, fenomena serupa juga terjadi saat (ilmu) pengetahuan eksakta krisis paradigma. Lihat keluhan Nicolas Copernicus dalam The Copernican Revolution (1957:138), Albert Einstein dalam Albert Einstein: Philosopher-Scientist (1949:45), atau Wolfgang Pauli dalam A Memorial Volume to Wolfgang Pauli (1960:22, 25-26).
    Inilah salah satu akar masalah krisis Indonesia (juga seluruh manusia untuk memahami kehidupan dan semesta). Paradigma lama (ilmu) pengetahuan sosial mengalami krisis (matinya ilmu administrasi dan manajemen). Artiya, adalah tidak mungkin seseorang dan organisasi (termasuk perusahaan, departemen, dan sebuah negara) pun mampu memahami, mengatasi, dan menjelaskan sebuah fenomena krisis usaha apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistem-(ilmu pengetahuan)nya.

    PEKERJAAN dengan tangan telanjang maupun dengan nalar, jika dibiarkan tanpa alat bantu, membuat manusia tidak bisa berbuat banyak (Francis Bacon).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Ahli strategi, tinggal di Banjarbaru, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

    THANK you very much for Dr Heidi Prozesky – SASA (South African Sociological Association) secretary about Total Qinimain Zain: The New Paradigm – The (R)Evolution of Social Science for the Higher Education and Science Studies sessions of the SASA Conference 2008.

    Komentar oleh Qinimain Zain — 31 Mei 2008 @ 16:48 | Balas

  2. George Soros, dalam pendahuluan bukunya,”Open Society : Reforming Global Capitalism” mengaku bahwa, dengan serta merta menerima konsep masyaralkat terbuka Karl R. Popper. Dikotomi Popper antara masyarakat tertutup dan masyarakat terbuka menjadi sangat penting bagi Soros, dan dari filsafat Popper itulah membimbing George Soros membentuk jaringan kerja Open Society Foundation.
    Karl R. Poper dalam bukunya, Open Society and Its Enemies, mengatakan bahwa masyarakat terbuka terancam oleh ideologi-ideologi universal yang bersikukuh bahwa merekalah pemilik kebenaran hakiki (ultimate Truth). Popper memberikan landasan epiustimologi universal kepada masyarakat terbuka –secara inheren tidak sempurna– lantaran ideologi-ideologi yang mengklaim hak kebenaran hakiki yang hanya dapat dilakukan dengan paksaan.
    Berdasarkan pengalaman George Soros, maka Ia membuat tesis yang cukup menarik tentang saham. Soros mendalilkan bahwa pasar saham melakukan adaptasi teori Popper tentang medtode ilmiah, yang banyak persamaannya yang dilakukan oleh Soros. Dengan kata lain Soros mengadopsi sebuah tesis dan mengujinya. Tesis inilah yang menggiring Soros ke hipotesis kerja, yang menurutnya pasar-pasar tidak berada dalam disekuilibrium konstan. Meskipun Ia tidak meniadakan ekuiblirium, tetapi ia menganggapnya sebagai kasus yang membatasi.
    Krisis moneter 1997-1999, adalah krisis Asia, meurut Soros terjadi lebih cepat daripada yang diperkirakan, runtuhnya nilai tukar mata uang secra cepat, Tak pelak lagi, pasar uang berpewrilaku seperti bola perusak yang berayun dari negara ke negara, merobohkan lembaga-lembaga yang paling lemah dan mengubah fundamental ekonomi.
    Ketika Indonesia menempatkan bank-bank Korea dan Jepang dalam keadaan defensif, serta merta menggerogoti kepercayaan para pemberi pinjaman internasional. Indonesia terus terpuruk. Inilah yang oleh George Soros disebut sebagai suatu rebound, yakni suatu kerusakan pasar yang parah.

    Komentar oleh opungregar — 4 Juli 2008 @ 22:24 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: