Klub Haus Buku

22 Mei 2008

China Undercover: “Rahasi” di Balik Kemajuan Cina

Filed under: Resensi Buku — opungregar @ 15:37
Tags:
Penulis: Chen Guidi & Wu Chuntao

Karya unik ini untuk kali pertama diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Versi aslinya yang berbahasa Cina telah terjual lebih dari 250.000 eksemplar sebelum dilarang dan edisi bajakannya terjual hingga nyaris sepuluh juta kopi di Cina.

Belakangan, kedua penulisnya ditekan selama masa persidangan, dipaksa meninggalkan pekerjaan mereka, dan rumah mereka dilempari batu oleh segerombolan orang. Semuanya karena mereka berani membeberkan ‘rahasia’ yang ada dalam buku ini.

Chen Guidi lahir pada tahun 1943 di Anhui. Istrinya, Wu Chuntao, lahir pada tahun 1963 di provinsi Hunan di Cina. Mereka sama-sama berasal dari keluarga rakyat jelata. Chen dan Wu menjadi anggota dan penulis terkemuka dalam asosiasi sastra Hefei. Guidi menerima Lu xun Literature Achievement Award, salah satu hadiah sastra paling penting di Cina. Kedua penulis telah menerima berbagai penghargaan dari jurnal Contemporary Age atas reportase yang inovatif.

10 Komentar »

  1. China Undercover seharusnya menjadi bacaan yang penting bagi siapa pun yang tertarik pada bagaimana sebenarnya kehidupan yang ada di Republik Rakyat Cina.
    —Washington Post

    Dituturkan dengan gaya berkisah yang memukau.
    —Publishers Weekly

    Komentar oleh opungregar — 22 Mei 2008 @ 15:40 | Balas

  2. 01.02.2008 Pengirim: opung
    Sebuah karya, memang tidak selalu mesti terikat dengan siapa penulisnya. Barangkali lebih tepat dikatakan, bagaimana sang penulis menuturkannya. Apalagi buku berjudul “China Undercaver” ini, yang ditulis oleh dua orang terkenal dalam karya sastra Cina dan telah mendapat berbagai penghargaan bergengsi. Pastilah banyak orang ingin tahu rahasia sesungguhnya yang terjkandung di dalamnya.
    Hari-hari belakangan ini memang, banyak orang membicarakan, mendiskusikan dan menulis sejumlah buku tentang kesuksesan Cina dan kebangkitannya negeri Cina sebagai kekuatan ekonomi dunia. Buku ini semakin kuat lagi ketika buku ini dilarang beredar. Termasuk ketika penekanan terhadap kedua penulisnya yang mengungkap berbagai persoalan yang dianggap membahayakan.
    Kalau kita ingin mengetahui lebih banyak tentang China buku ini akan bercerita banyak kepada siapa pun saja yang membacanya.
    Dengan alasan-alasan itulah antara lain, memperkuat kehadiran buku ini di tangan pembaca China khus…
    http://www.ufukpress.com
    http://www.klubhausbuku.WordPress.com

    Komentar oleh opungregar — 22 Mei 2008 @ 15:41 | Balas

  3. Ungkapan “tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina”, agaknya memang beralasan, ketika untuk pertama kalinya Nabi Muhammad SAW menyampaikannya kepada umatnya. Ungkapan ini menunjukkan bahwa kita perlu mendapatkan ilmu pengetahuan dari mana pun sumbernya. Negeri China memang punya gudang ilmu yang sangat luar biasa mulai dari sastra hingga ke pengetahuan filsafat. Pesan-pesan moral dalam banyak karya-karya penulis filusuf China dan penulis modern banyak sekali ditemukan. Baca misalnya Sun Zi, China Under Cover, dan mungkin juga dari buku Mao: Kisah-kisah yang tak terungkap: karya Kung Chang.

    Komentar oleh Muhammad Ikhsan — 11 Juni 2008 @ 14:00 | Balas

  4. Saya minta maaf kepada anggota klub haus buku dan pembaca komentar saya, karena saya salah menuliskan kesalahan penulisan nama penulis Buku Mao: Kisah-kisah Takterungkap” yang tertulis Kung Chang seharusnya Jung Chang. Dengan demimkian kesalahan diperbaiki. Selakali lagi mohon maaf. Terima kasih. Selamat Berdiskusi.

    Komentar oleh Muhammad Ikhsan — 11 Juni 2008 @ 14:10 | Balas

  5. Saya baru saja terima SMS dari seorang teman, bertanya tentang buku terbaru tentang China. Kemudian saya memberi beberapa alamat Website baik toko buku online maupun penerbit. Saran saya kepada Komunitas Klub Haus Buku agar dapat juga memberikan informasi tentang buku-buku baru terbitan Indonesia baik itu karya asli maupun terjemahan. Sehingga forum diskusi di klub ini dapat memilih atau mencari sendiri buku apa yang akan didiskusikan baik yang dilakukan secara reguler oleh anggota komunitas maupun yang dilakukan secara online. Terima kasih

    Komentar oleh Muhammad Ikhsan — 11 Juni 2008 @ 14:25 | Balas

  6. Kalau belakangan ini ada buku berjudul “China Undercover” yang diterjemahkan untuk pertama kalinya dalam Bahasa Inggris, kemudian Indonesia, maka buku berjudul “Tionghoa Dalam Pusaran Politik” mengungkap bagaimana orang Tionghoa mengalami proses pencinaan kembali di Indonesia.
    Tionghoa Dalam Pusaran Politik
    Benny G. Setiono, TransMedia, Juni 2008
    http://www.inibuku. com – “Buku istimewa ini ditulis oleh orang biasa nonsejarahwan) Dan, mungkin justru di situlah keistimewaan buku ini. Namun, meski bukan berlatar belakang sejarah, sang penulis dengan berbekal tumpukan dokumen berhasil merekonstruksi berbagai peristiwa sejarah. Khususnya nasib orang Tionghoa dalam berbagai perubahan besar politik di negeri ini. Tak banyak orang yang memotret setiap kejadian penting yang sebelumnya selalu meletakkan kembali orang Tionghoa
    Indonesia dalam kegamanan. Dalam setiap pergolakan politik,isyu anti-Tionghoa selalu jadi bahan politisasi dan ujungnya adalah terjadinya proses pen-Cina-an” kembali orang Tionghoa. Buku ini kaya akan informasi. Termasuk informasi yang selama ini disembunyikan oleh rezim Orde Baru. Politik kesengajaan yang di kemudian hari menggiring orang Tionghoa untuk dinamai sebagai `binatang ekonomi'”
    – Staley—editor.
    “Selamat dengan WEIRTHEIM AWARD!!! Hebat sekali! Saya kira memang
    tepat Benny G. Setiono menerima penghargaan atas buku ini. Adalah hal
    yang jarang, buku yang baru beberapa tahun terus langsung bisa
    mendapatkan penghargaan jelas internasional. Sekali lagi, selamat!”
    – Mely G. Tan—Sosiolog dan Pengamat Masalah Tionghoa
    “Biasanya komunitas Tionghoa dibahas tersendiri. Kini, keunikan peran
    mereka digambarkan dalam sejarah panjang bangsa Indonesia. Buku yang
    merupakan perintis ini, ditulis dengan bersemangat. Tionghoa dilukis
    di atas kanvas raksasa.”
    – Dr. Asvi Warman Adam — Ahli Peneliti Utama LIPI
    “Untuk mengerti tempat, sikap, dan kedudukan suatu minoritas, tidak
    ada jalan lain kecuali mendalami pengertian tentang evolusi minoritas
    itu. Hal ini untuk membuat agar semakin jelas kompleksitas struktur,
    konflik dalam dan luar, hubungannya (dengan segala variasinya) dengan
    mayoritas (yang juga kompleks dan berbeda-beda) , permulaan dan
    konsekuensi dan perubahan definisinya sebagai minoritas. Tanpa
    pekerjaan yang berat tersebut, minorias (dan mayoritas juga) terus
    saja digambarkan secara simplistis, menurut dongeng-dongeng biasa dan
    kasar, yang sering penuh dengan kebencian, maki-makian, dan sebagainya
    yang dimaksudkan untuk mengisolasi minoritas itu dan menghilangkan
    kemanusiaannya. Suatu hal yang pada intinya adalah untuk membekukan
    terus status kelompok tersebut sebagai minoritas.”
    – Prof. Dr. Daniel S. Lev —guru besar Universitas Washington.Informasi lebih lengkap atas buku tersebut dan buku-buku lainnya tersedia di halaman depan situs http://www.inibuku. com. Jangan lupa klik [buku baru] di kiri atas halaman situs untuk mendapatkan info seluruh buku baru.
    Terima kasih

    Komentar oleh Toko Buku Online Indonesia — 24 Juni 2008 @ 21:39 | Balas

  7. Cina: Internet tetap disensor *Akses ke internet bagi wartawan yang meliput Olimpiade Beijing tidak akan bebas dari sensor, kata para pejabat

    Komentar oleh BBC Indonesia — 30 Juli 2008 @ 22:07 | Balas

  8. 05 Agustus, 2008 – Published 11:02 GMT* Cina jamin Olimpiade aman *Cina menekankan bahwa Olimpiade Beijing akan berlangsung dengan aman menyusul serangan yang menewaskan 16 polisi.

    Komentar oleh BBC Indonesia — 5 Agustus 2008 @ 21:27 | Balas

  9. Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa etnis China kini menguasai bisnis dan perdagangan di seluruh dunia. Boleh dikata, dalam bisnis dan perdagangan, orang China-lah rajanya. Berbagai bidang usaha mereka rambah dan kuasai, mulai dari toko kelontong di sudut pasar sampai pabrik manufaktur besar berskala internasional. Sepertinya mereka memang terlahir untuk sukses di dunia usaha.

    Komentar oleh Zahra Book Store — 18 Agustus 2008 @ 00:46 | Balas

  10. Nama baik bagi pebisnis China merupakan hal yang benar-benar perlu dijaga. Jika nama baik sudah tercemar, maka akan sulit bagi relasi atau konsumen untuk melakukan transaksi dengan perusahaan/orang yang bersangkutan. Pebisnis China sangat menjaga nama baik. Bahkan, pebisnis-pebisnis China yang telah sukses sangat menghindari popularitas dan pemberitaan di media massa.

    Komentar oleh Zahra Book Store — 18 Agustus 2008 @ 00:53 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: