Klub Haus Buku

21 Mei 2008

Renungan dan Seremonial Kebangkitan Nasional

Filed under: Politik Nasional — opungregar @ 17:11
Tags: ,

Rabu, 21 Mei 2008 Generasi muda Indonesia menghadapi ancaman penyakit kronis ‘lupa terhadap sejarah’. Sejarah yang dimaksud adalah pergerakan kaum muda di masa lalu yang melahirkan berbagai peristiwa besar bagi negara. Sejatinya, peristiwa masa lalu itu terus menginspirasi pergerakan pemuda masa kini.

Demikian sambutan Menkominfo, M Nuh, dalam Malam Renungan 100 Tahun Hari Kebangkitan Nasional: Ode Kebangkitan, di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan, Senin (19/5) malam. ”Kebangkitan kaum muda sudah terlihat. Ini harus disikapi positif. Jangan sampai generasi Indonesia menjadi generasi ahistoris,” kata Nuh.

Menurut dia, tahun ini menjadi tahun yang penting bagi pergerakan kaum muda. Tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Rusia baru saja menahbiskan Dmitri Medvedev (43 tahun) sebagai presiden menggantikan Vladimir Putin. Sementara AS menunggu Barack Obama (46) masuk ke Gedung Putih.

Di Indonesia, lanjut Nuh, pergerakan kaum muda makin menancapkan tajinya saat Pilkada Jawa Barat. Pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf perolehan suaranya melejit meninggalkan calon gubernur senior dan keluar sebagai pemenang.

Mantan rektor ITS ini lantas menggarisbawahi tiga peristiwa sejarah penting yang digerakkan kaum muda, yaitu lahirnya Budi Utomo, Sumpah Pemuda, hingga Proklamasi 17 Agustus 1945. ”Kepeloporan pemuda dalam lika-liku sejarah harus jadi contoh pemuda sekarang,” katanya mengingatkan.

Dalam konteks masa kini, Nuh meminta pemuda tetap menjadi pelopor di segala bidang. Pemuda harus jadi yang terdepan dalam menanggulangi kemiskinan, berwirausaha, memerangi narkoba, pornografi, pembajakan, korupsi, dan budaya hedonisme.

Pemuda masa kini menjadi penting, sambung Nuh, karena situasi dunia membuatnya demikian. Perubahan di berbagai bidang selalu berjalan dengan cepat, silih berganti, sehingga perlu disikapi dengan cepat pula. ”Perubahan itu hanya bisa direspons dengan cepat oleh pemuda. Mereka adalah kelompok yang paling dinamis dan cepat melihat situasi. Sejarah sudah membuktikan hal itu,” katanya.

Pengangguran terdidik
Secara terpisah, Presiden Direktur Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I), Isral Nurdin, mengatakan peringatan Kebangkitan Bangsa harus jadi momentum melihat wajah pendidikan Indonesia.

Ia mengutip data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2007, jumlah sarjana yang menganggur mencapai 409 ribu orang lebih, lulusan diploma III yang belum dapat kerja 179 ribu orang, ditambah lulusan diploma I dan III yang juga belum bekerja 151 ribu orang. Total pengangguran yang berpendidikan tinggi sudah mencapai 740.206 orang.

”Hanya dengan pendidikan yang berkualitas dan terukur, bangsa ini bisa keluar dari persoalan yang tak kunjung henti, yaitu kemiskinan dan pengangguran,” kata Isral, yang Ahad lalu mengerahkan sekitar 7.500 mahasiswa dan alumni LP3I untuk gerak jalan dan jalan sehat Kebangkitan Nasional dari silang Monas ke Bundaran HI, Jakarta.

Seremonial
Sementara itu, pemerintah lebih memilih merayakan 100 Tahun Hari Kebangkitan Bangsa dengan kegiatan seremonial di Gelanggang Olah Raga Bung Karno. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla, serta para menteri Kabinet Indonesia Bersatu duduk manis di kursi Gelora menyaksikan pesta itu.

Perayaan yang diberi tajuk ‘Indonesia Bisa’ itu menghadirkan ribuan pendukung yang menyajikan berbagai atraksi kebudayaan Nusantara. Mensesneg Hatta Radjasa duduk sebagai ketua panitia perayaan, sementara pemilik stasiun televisi swasta, Chairul Tandjung, ditunjuk sebagai ketua hariannya.

Perayaan mewah itu juga menampilkan atraksi lampu dan cahaya yang menyedot listrik cukup besar. Kondisi ini menjadi ironis mengingat pemerintah sedang berkampanye hemat energi listrik karena lonjakan harga minyak internasional. Makin tragis karena dalam waktu dekat pemerintah juga berencana menaikkan harga BBM.

Ketua Umum Forum Bangkit Indonesia, Chavchay Syaifullah, mengkritisi seremonial pemerintah itu. Menurutnya, Indonesia tak butuh penghargaan seremonial untuk menjadikan dirinya negara kuat dan kokoh.

”Sangat disayangkan bangsa ini selalu terjebak dalam selubung seremonial ketimbang menghayati dan memahami betul makna Kebangkitan Nasional. Semangat dasar yang dilupakan bangsa ini setelah sekian lama merdeka,” kata sastrawan yang ‘mendalangi’ acara Ode Kebangkitan di Warung Apresiasi, bersama sejumlah penyair dan seniman jalanan itu.

(evy /djo )

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: