Klub Haus Buku

17 Mei 2008

MODUS BARU MENJARING CALEG

Filed under: Politik Lokal — opungregar @ 21:13

Oleh Aminuddin Siregar

Inul Daratista, –yang sempat mengundang kontroversi di kalangan masyarakat Indonesia, — mem\ang belum ada kedengaran diminati parpol untuk dijadikan sebagai caleg. Inul, tak diragukan lagi popularitasnya di belantika musik dangdut dengan sebutan goyang ngebornya, hingga nama Inul mencuat dan ramai dibicarakan orang. Tak kurang dari mantan presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberi komentar bernada pembelaan terhadap sikap berkesenian Inul Daratista. Lantaran protes keras H. Rhoma Irama, kurang berkenan lagunya yang dilantunkan Inul dijadikan pengiring goyang ngebornya.

Meski saat ini sepi-sepi saja, dan belum ada partai politik nekad melakukan pendekatan, tapi tidak tertutup kemungkinan kalau Inul juga akan digaet jadi caleg. Walaupun cerita pro dan kontara tentang goyang ngebornya yang sempat menghebohkan itu, belum mereda. Namun dapat diperkirakan bila Inul tampail sebagai caleg akan sangat potenbsial mengumpulkan perolehan suara.

Nama Inul, memang tidak ramai dibicarakan untuk dijadikan caleg, seperti ketika Partai Demokrasi Indonesia (PDIP), menjaring caleg dari kalangan artis dan selebriti, seperti Dessy Ratnasari, Marissa Haque, Evi Tamala, Sofia Latjuba, dan sederet nama lainnya yang sudah sangat akrab di telinga masyarakat khususnya para penggemar mereka. Yang kemudian menyatakan siap untuk tampil sebagai caleg.

Meminang Inul Daratista, sebagai caleg akan sangat mungkin dilakukan oleh partai mana pun saja. Terlebihlagi bila partai politik itu menggunakan modus baru menjaring caleg dari kalangan figur dan tokoh luar partai. Tentu saja, kalaupun ada partai politik yang melobi Inul, mestinya tidak serta merta dilihat sebagai upaya meramaikan belaka. Langkah mencari figur andalan untuk dijadikan caleg, merupakan langkah strategis dalam setiap politik dan sebenarnya ini bukan hal baru terjadi di pentas perpolitikan nasional.

Para artis yang sudah lama populer di kalangan masyarakat, atau telah sedemikian terkenal. Di masa lalu, memang tidak dapat dipungkiri, bahwa mereka itu seringkali dijadikan sebagai penggembira belaka saat kampanye berlangsung. Kemungkinan untuk meraup suara sebanyak akan terbuka lebar, meskipun banyak kalangan yang barangkali kurang setuju. Atau sama seperti ketika terjadi pro dan kontra terhadap penampilan Inul Daratista yang dianggap terlalu erotis dan tidak layak dipertontonkan.

Terhadap sejumlah partai politik yang telah melakukan penjaringan calon legislatif yang berasal dari luar partai, hendaklah memperhatikan unsur pendidikan politik rakyat dan kearifan demokrasi. Para tokoh yang berasal dari luar partai itu misalnya kalangan artis, para dosen, tokoh LSM, termasuk melobi para kiai –meski ada juga beberapa di antara artis itu aktivis partai– dan sederet kalangan profesional lainnya, telah menjadi incaran partai politik. Partai Demokrasi Indnesia Perjuangan (PDIP) misalnya, telah berhasil menggaet sejumlah artis yang dijadikan caleg.

Persoalannya sekarang, apakah modus baru menjaring caleg ini merupakan sukses perpolitikan dalam meningkatkan mutu pendidikan politik rakyat ? Kalau memang ini merupakan sukses perpolitikan kita dan menjadikannya sebagai modus baru peningkatan mutu politik rakyat. Maka problem yang kembali perlu dicermati ialah penetapan caleg yang tidak asal comot, lantaran cara seperti itu akan merusak tatanan demokrasi. Bahwa saat ini memang belum kelihatan adanya unsur penekanan. Tapi akan sangat mungkin terjadi kekuatanmemaksa dalam politik.

Tokoh Luar

Merekrut tokoh luar partai, seperti para artis tetnu saja sah-sah saja adanya, asalkan tidak sampai merusak tatanan demokrasi itu sendiri. Kalau upaya menjaring caleg dilakukan sebagai modus baru untuk semata-mata meraup suara sebanyak-banyaknya atau muncul niatan mempraktekkan kembali model pemilihan umum masa lalu, maka rakyat banyak ini, hendaklah tidak dirugikan secara moral politik. Itu artinya pemilu kita jangan sampai terancam tidak fair, tidak jujur, termasuk tidak berkeadilan.

Apalagi jika hal itu dipaksakan jelas menimbulkan berbagai masalah yang walau bagaimanapun problem itu menjadi problem politik nasional. Salah satu akibatnya ialah proses pendidikan politik rakyat bisa menjadi tidak sehat. Begitu juga proses pendewasaan politik di kalangan rakyat akan mengalami ketidak seimbangan. Jika tidak dikatakan terjadi proses pengkerdilan politik rakyat. Padahal rakyat banyak ini tidak suka lagi dibonsai terus menerus.

Dapat diperkirakan bahwa, munculnya para artis dipentas politik sebagai caleg akan bisa mendorong kesadaran politik rakyat untuk ikut secara aktif berpartisipasi dan menghindari godaan untuk jadi golput. Apalagi kalau caleg yang akan dipilih tersebut adalah artis yang aktivis partai politik dan mencalonkan dirinya sebagai caleg jadi. Bahkan kalau kehadiran mereka cuma sekedar vote getter belaka. Maka tidak akan ada yang bisa menghalangi. Sebeb hal itu merupakan hak setiap orang.

Jadi kehadiran para artis itu dipentas perpolitikan kita adalah wajar apalagi dengan alasan demokrasi dan adanya kesepakatan bahwa porsi untuk caleg kaum perempuan dialokasikan sebanyak tiga puluh posen dari total jumlah anggota legislatif secara keseluruhan. Suasana kehidupan demokrasi memang sangat mendukung kaum perempuan untuk tampil di pentas perpolitikan kita.

Sebaliknya, bila modus baru menjaring caleg ini berubah arah dan kemudian ternyata lembaga legislatif itu dijadikan sebagai bursa money politic, politik uang seperti yang diasumsikan anggota MPR Abdul Qodir Djaelani beberapa waktu lalu misalnya, jelas akan merusak citra lembaga terhormat itu. Bahwa mereka yang duduk di sana justru tidak memikirkan masalah yang dihadapi rakyat, tetapi akan muncul kecenderungan mementingkan diri pribadi sendiri, dan meninggalkan kepentingan khalayak publik dan kepentingan orang banyak. Karena itu mesti dicermati dengan lebih seksama, hingga tidak menyimpang dari apa yang digariskan secara konstitusional.

Dengan demikian, siapa pun saja yang terpilih sebagai anggota legislatif, apakah itu berasal dari artis dan selebriti, kaum profesianal atau bukan, pendatang baru dipentas perpolitikan atau tidak, pembangkang atau bukan, yang penting bagi rakyat banyak ini ialah agar mereka lebih serius mengatasi persoalan ekonomi rakyat yang kian merosot dan terus terpuruk. Termasuk bagaimana mberi contoh pendidikan politik yang baik dan benar itu.

Kesan ketidak siapan anggota dewan untuk lebih terbuka kepada rakyat, akan berakibat ketidak sungguhan anggota masyarakat memberi kepercayaan kepada mereka yang terpilih dan menjadi wakil rakyat. Kecenderungan itu akan terjadi, karenanya wakil rakyat baik di pusat maupun di daerah mesti lebih siap mengakomodir semua aspirasi dari bawah dan yang berkembang di tengah masyarakat

Aspirasi Politik

Kepercayaan yang kita berikan kepada para wakil kita yang duduk di lembaga legislatif itu sepenuhnya adalah amanat rakyat. Mestinya hal ini disadari betul, agar aspirasi politik rakyat tersalurkan. Bahwa rakyat bisa menyatakan kehendak mereka. Itu sebabnya mengapa perlu menyadari realitas yang dihadapi oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Termasuk menyadari arti pentingnya artikulasi kepentingan politik rakyat. Dengan mengetahui kondisi sesungghnya, diharapkan para anggota dewan terhormat punya kepedulian terhadap nasib rakyat banyak.

Kehawatiran kita muncul tatkala aspirasi dari bawah tidak tersalurkan. Padahal dilihat dari proses demokrasi yang berlangsung, sudah selayaknya aspirasi dari bawah mendapat prioritas dan menjadi agenda bagi para wakil rakyat. Tidak peduli, apakah aspirasi itu kita salurkan lewat legislatif pusat atau legislatif lokal, yang jelas para wakil rakyat yang duduk di parlemen itulah nanti akan mengartikulasikan kepentingan politik rakyat dan menampung semua aspirasi rakyat.

Anggota legislatif yang tidak akomodatif. Karena secara perlahan dan lema-kelamaan pasti akan ditinggalkan oleh rakyat. Bila perlu rakyat mesti bisa menurunkannya dari kursi parlemen bila mereka yang menjadi wakil rakyat di gedung parlemen yang megah itu lebih mementingkan diri pribadi mereka sendiri-sendiri atau kepentingan kelompok, dan mengutamakan kepentingan partai. Sementara kepentingan rakyat seringkali terabaikan. Sebenarnya kepada para wakil rakyat itulah kita sampaikan harapan-harapan kita, kemungkinan-kemungkinan kita meraih masa depan yang lebih berkeadilan dan sejahtera.

Fenomena kemunculan artis dipanggung perpolitikan kita, bukan sesuatu yang baru. Namun persoalannya menjadi lain, apabila kehadiran mereka justru dikhawatirkan akting dan peran mereka tidak muncul secara signifikan untuk membela kepentingan rakyat. Dengan kata lain mereka mesti memperlihatkan keinginan dan kesungguhan mereka dan secara aktif melibatkan diri mengurusi kepentingan rakyat banyak. Itu saja.

Penulis Bekerja pada Pusdiklat Depdagri Regional Bukittinggi

Terbit di Harian Pagi Analisa Medan, 26-01-1004

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: