Klub Haus Buku

16 Mei 2008

Gus Dur, Presiden Suara Langit

Filed under: Gus Dur,Politik Nasional — opungregar @ 19:25
Tags:

Sumber : Harian Media Indonesia

Kayaknya, Gus Dur tanpa gelar keserjanaan, tapi menyandang banyak sebutan serta jabatan, mulai dari sebagai kolumnis, budayawan kiai Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Ketua Umum PB NU dan sekarang presiden RI

Dalam sebuah acara seminar, pengamat politik Eep Saefulloh patah pernah berkelakar menurutnya ada tiga hal yang menjadi misteri dalam hidup ini pertama, kapan kita akan meninggal dunia? Kedua, siapa yang akan menjadi jodoh kita dan yang ke tiga Gus Dur maunya apa? Kontan ratusan hadirin tertawa lepas mendengar ? Eep tersebut.

Pernyataan itu kedengarannya nyeleneh tapi sedikit banyak memang bisa menggambarkan karakter Gus Dur panggilan akrab Abdurrahman Wahid, yang sebenarnya. Ibaratnya, bila ingin mengetahui apa yang dilakukan Gus Dur sama sulitnya seperti menerka jumlah bintang dilangit. Salahuddin Wahid, adik kandung Gus Dur , membenarkan hal tersebut “Gus Dur itu cara berfikirnya tidak seperti kita yang cenderung linear”,tandas Ketua Umum Partai Kebangkitan Ummat (PKU) itu.

Meneliti sosok Gus Dur Salahuddin mencatat dua karakter yang menonjol yaitu adanya suara “langit” yang sangat dipercayai Gus Dur-seperti umumnya kalangan NU-dan sikap dan tidak konsisten dalam hal banyak hal, terutama dalam pergulatan intelektual dan politiknya, memang merepleksikan kedua karakter tersebut.

Salah satu bukti ke konsistenan Gus Dur ketika sejumlah kiai NU menyambangi kiai Ciganjur itu pada tahun 1996, untuk menanyakan kesiapannya menjadi presiden tapi apa jawaban yang mereka terima? “Wong pakai sepatu saja ndak bisa, kok jadi presiden kaki saya bubulen (bisulan-red) kalau pakai sepatu makanya kemana-mana saya pakai sandal”, jawab Gus Dur ketika itu.

Atau ketika terlibat sebuah perbincangan dengan beberapa tokoh reformasi, termasuk Amien Rais, belum lama ini, Gus Dur pernah melontarkan statemen yang cukup mengagetkan waktu itu ia mengatakan bahwa hanya orang gila yang mau menjadi presiden saat ini. Kontan pertanyaan itu menambah daftar ke-mbeling-an Gus Dur dimata masyarakat.

Tapi apa yang kemudian terjadi, sangat bertolak belakang dengan apa yang dia ucapkan selama ini. Terbukti seminggu lalu tepatnya 20 oktober 1999, Gus Dur secara meyakinkan berhasil “membungkam” Megawati dan melenggang menuju Istana Negara padahal, semua orang tahu bahwa sebelumnya Gus Dur paling ngotot menjagokan putri Bung Karno “saya hanya menjagokan Mbak Mega menjadi calon presiden bukan mendukung dia maju sebagai presiden” tangkis Gus Dur ketika ia dicalonkan sebagai capres Poros Tengah.

Sosok kontropersial dan “berwarna”

Sosok Gus Dur memang sosok kontroversial, walaupun tidak sedikit juga kalangan yang menyebutnya monumenya. Seperti ketika ia menganjurkan agar “assalamu`alaikum” diganti saja dengan “apa kabar” ,kontan membuat umat Islam menghujani ayah empat putri itu dengan hujatan. Atau ketika Soeharto dihujat sana-sini setelah lengser, pria kelahiran Jombang itu justru beberapa kali mengunjungi Eyang Soeharto di kediaman Cendana.

Demikian juga ketika pada awal 1990-an dibentuk Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang diketuai B.J habibie, Gus Dur menolaknya dengan mendirikan Forum Demokarasi (Fordem) yang diawaki berbagai tokoh dengan beragam latar belakang. Tetapi setelah Habibie “mewarisi” jabatan presiden, Gus Dur justru rajin bersilaturahmi ke Sparta Kuningan.

Dibesarkan dalam lingkungan berlatar pesantren dan sempat mondok di beberapa pesantren, namun sebenarnya warna kosmopolitan lebih mengalir deras dalam tubuh cucu pendiri Nahdhatul Ulama, K.H Hasyim asy`ari itu. Gus Dur menghabiskan masa kecilnya di kawasan elit, menteng, karena ayahnya (alm) K.H Wahid Hasyim pernah menjabat menteri agama. Wilayah itu sejak dulu memang terkenal sebagai kawasan tempat tinggal keluarga pejabat, sehingga tidak heran Gus Dur banyak berinteraksi dengan anak-anak pejabat.

Gus Dur juga terkenal sebagai kutu buku. Makanya ketika menghabiskan masa remaja di Yogyakarta, minat baca Gus Dur semakin menggila, terutama Nasioanl setelah ia belajar bahasa Inggris. Karya-karya sastrawan kelas dunia seperti Hemingway, Steinbeck dan sebagainya dilahap habis. Terlebih setelah ia bergumul dengan buku-buku Marxis-leninis, yang disuplai Sumantri, gurunya yang menjadi anggota PKI. Sejak remaja Gus Dur sudah “Khatam” Das Kapita-nya kari Marx maupun What is to be done-nya Lenin, yang menjelaskan bagaimana melakukan revolusi.

Namun sebenarnya, kematangan intelektualnya dibentuk ketika ia “berkelana” di luar negeri, mulai dari Mesir, Irak maupun negara-negara Eropa. kuliahnya selama tujuh tahun di Department of Higher Islamic and arabic Studies Univsersitas Al Azhar, Kairo, Mesir ternyata tidak menghasilkan gelar akademis, karena terlalu banyak membaca buku sendiri daripada kuliah formal.

Kemudian Gus Dur pindah ke Department of religion Universitas Baghdad, Irak. Di sana lagi-lagi ia tidak serius kuliah, tetapi justru lebih banyak mempelajari sosialisme dan kebudayaan yang memang saat itu sedang merebak, seiring naiknya saddam Husein sebagai presiden dari Parta Sosialis Bath. Dengna segudang pengetahuan tersebut, Amien Rais sampai mengatakan, “Gus Dur itu berdiskusi dengan profesor dari Harvard, sama santainya seperti ngobrol bareng kiai-kiai NU, “ungkap ketua MPR tersebut.

Keluwesan bergaul, plus sense of humor-nya yang tinggi, membuat Gus Dur dapat diterima banyak kalangan. Tetapi yang agak mengherankan, Gus Dur yang berlatar belakang pesantren, justru lebih akrab dengan kalangan non muslim. Gus Dur misalnya, pernah menjabat Wakil ketua Kelompok tiga Agama Yaitu Islam, kristen dan Yahudi yang dibentuk di Universitas Al kala.Spanyol.

Atau yang lebih mencengangkan lagi ketika dengan santainya Gus Dur duduk dalam Yayasan Yitzak Rabin, dan menyarankan Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Kontan pernyataan itu menyulut kemarahan pemerintah dan kalangan Islam di Indonesia.

Akomodatif Sekaligus Otoriter

Setelah terpilih menjadi persiden, banyak pihak berharap banyak pada Gus Dur unutk segera menuntaskan berbagai krisis. Politik akomodasi Gus Dur yang tercermin dalam kabinet yang baru saja di umumkan, mungkin bisa menjadi harapan bagi rakyat. Namun yang jelas, kabinet “pelangi” itu memanggul tugas maha berat dalam mengentaskan krisis multi dimensi.

Kabinet persatuan Nasional yang baru saja di umumkan, memang terkesan mengakomodasi segala kepentingan dan kelompok yang ada. Hal itu pula yang menjadi kebahagian fungsionaris PPP, Zarkasih Nur, sebelum ia terpilih menjadi mentri koperasi dan PKM. “saya yakin, Gus Dur akan secara adil dan bijaksana membagi kekuasaan di kabinet tampa harus melupakan profesionalitas dan keahlian,”tandas Zarkasih Ketika Gus Dur terpilih menjadi Presiden.

Banyak harapan yang di sandangkan pada Gus Dur secara pribadi, namun ada juga yang agak mengkhawatirkan profil Gus Dur. Pengamat Eep Saifullah Fatah misalnya, agak mengkhawatirkan sosok Gus Dur yang menurutnya terlalu di manjakan oleh kultur dan sruktur – terutama dikalangan NU – yang menempatkan dirinya dalam sangat khusus. “makanya hampir tidak ada istilah keliru untuk Gus Dur, “jelas pengamat politik dari FISIP UI itu.

Kemudian lanjut Eep, Gus Dur juga terbiasa di manjakan oleh ketiadaan pertanggung jawaban publik, sehingga di khawatirkan Gus Dur cenderung akan berbuat sesukanya, tanpa harus merasa bersalah. Misalnya, sehari setelah terpilih menjadi Presiden Gus Dur menempatkan Soebijakto Tjakrawardaya sebagai Ketua Dewan Ekonomi Nasional. Konon Subijakto di pilih karena banyak berjasa pada PKB, pada hal Subijakto di anggap memiliki track Record yang buruk.

Ada juga kekhawatiran pada umat Islam ketika Gus Dur menerima delegasi duta duta besar negara Islam. Gus Dur menyatakan bahwa pemerintah Indonesia, tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel, hingga negara yahudi itu mengakui berdirinya negara Palestina yang beribu kota Yerussalem. Tetapi Gus Dur ternyata “membuka pintu” hubungan dagang dengan negara imperialis itu. Perlu di ingat Gus Dur memang membingungkan.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: