Klub Haus Buku

15 Mei 2008

MENGADOPSI STRATEGI SUN ZI

Filed under: Resensi Buku — opungregar @ 13:59
Tags: ,

Oleh Aminuddin Siregar

Resensi Buku, Judul Buku : The Art of Sun Zi : (Strategi Perang Sun Zi), Pengarang : Chou Hou Wee, Penerbit : Bhuana Ilmu Populer (BIP),Tahun : 2006, Tebal : xxviii + 587 halaman

M

embaca Sun Zi membawa kita ke masa lampau, ke ribuan tahun silam, mirip semacam petualangan mengerikan, sekaligus menikmati masa kini. Mengerikan ketika suatu pertempuran mesti disertai tipuan. Sebaliknya amat menyenangkan apabila pesan-pesam moralnya dapat ditularkan pada setiap orang, setiap individu manusia, kepada setiap kelompok manapun saja.

Pesan moralnya mirip sebuah cambuk dari masa lalu. Tetapi tetap hangat dan aktual dalam konteks kekinian kita sehari-hari. Negeri Cina memang penuh dengan muatan filosofi. Sehingga tidak mengherankan kalau muncul ungkapan, “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”, merupakan ungkapan yang tetap relevan hingga masa kini.

Cina membangun peradaban lewat pertarungan maha dahsyat. Melalui pertatungan itu impian harus dibangun dan kekuatan mesti ditegakkan. Segala upaya dilakukan dan semua taktik mesti diterapkan, Bila yang diinginkan adalah memenangkan pertarungan.

Strategi seni berperang Sun Zi kelihatannya punya karakter sendiri dalam mencapai impiannya. Seperti juga Napoleon, Raja Sulaiman yang kaya raya, hingga ke generasi kepemempinan dan keuatan raksasa berikutnya, semisal Jeff Bezoss dengan Amazoncomnya, semuanya memiliki karakter, cirri khas, kekuatan dan gaya dalam memberi penekanan pada kesuksesan mereka. Mereka sepertinya melawan kekerasan dengan kekerasan. Hingga apa yang diinginkan tercapai, meski dengan berbagai resiko yang mereka hadapi.

Pesan utama Sun Zi, menerapkan segala sesuatu yang positif. Adalah kunci utama strategi kesuksesani, meskipun ia mengakui bahwa tidak terhindari munculnya taktik-taktik tipuan untuk melemahkan pesaing. Tetapi tindakan tipuan atau tindakan negatif itu ternyata merupakan kelemahan yang justru akan menghantam diri sendiri.

Tindakan negatif hanya dilakukan bila tindakan positif tidak menemukan jalan lain dan bentuknya yang memungkinkan untuk diselesaikan secara damai. Itu artinya hanya diterapkan dalam keterpaksaan dan situasi sulit untuk membela diri semata. Atau untuk mempertahankan keberadaan prajurit dan seluruh pasukan dari ancaman bahaya serangan musuh, atau serangan balik dari musuh.

Membangun Peradaban

Buku ini memang tidak sekedar bercerita tentang sebuah ambisi atau mimpi, kemashuran. Tetapi juga bicara tentang kemanusiaan, membangun peradaban, sekaligus kehormatan. Meski kemudian banyak juga disalah tafsirkan banyak orang tentang pesan sesungguhnya yang disampaikan lewat buku kuno ini.

Tentu saja, setiap orang pastilah punya impian, punya cita-cita, harapan dan bahkan kemakmuran. Punya jaminan masa depan, agar tetap survive. Tidak terkecuali seorang pemimpin, pastilah punya impian. Lepas dari apakah impian itu besar atau kecil.

Tetapi yang pasti impian itu tidaklah diraih semudah yang dibayangkan dan seperti ketika seseorang menikmati datangnya mimpi dalam tidur, indah atau mengerikan, sesaat kemudian terlupakan. Meski terkadang orang bisa menuangkan dan menceritakan kembali mimpi-mimpi itu. Mimpi memang bisa menakutkan, juga menyeramkan, bisa membuat bulu kuduk berdiri.

Impian para pemimpin dunia juga tidak terbebas dari kedua sisi itu. Mimpi indah merupakan sesuatu yang senantiasa disukai dan disenangi setiap orang. Tidak saja lantaran mimpi itu merupakan gambaran masa depan, penuh gairah dan kebebasan, baik dalam bentuk sosial ekonomi maupun bentuk lain keseharian hidup menjadi begitu sangat manis, menyenangkan, penuh kegembiraan dan keceriaan.

Sebaliknya bisa amat menyeramkan dan sangat menakutkan. Betapa tidak, sebuah mimpi bisa berupa gambaran buruk tentang kegagalan masa depan. Tidak saja karena kekalahan melawan diri sendiri, tetapi juga lantaran kalah bersaing dengan cara-cara legal. Bisa juga karena alasan lain yang tidak diperhitungkan sebelumnya, yang kemudian jadi hambatan.

Seni perang Sun Zi, menggambarkan semua itu, dalam buku yang dutafsir ulang dan ditulis oleh Chow-Hou-Wee. Semua petuah di dalamnya bisa ditiru dan diterapkan oleh siapa saja dalam bentuk kehidupan organisasi hingga kehidupan sehari-hari sekalipun. Ia bisa mencerahkan, bila pesan-pesan moral dan etis yang terkandung di dalamnya tidak diabaikan. Begitu pula strategi-strategi pencapaian kesuksesan yang dibuat sedemikian rinci, meski naskah aslinya hanya puluhan halaman.

Membaca Sun Zi, memperlihatkan bahwa dua sisi positif dan negatif tetap punya resiko, punya tantangan, punya hambatan dan banyak kendala ketika orang hendak mewujudkan sebuah cita-cita, memperkuat pasukan, memperkuat pendirian dalam mengambil keuputusan. Jika salah menerapkan, salah mengartikulasikan, keliru menerjemahkan, dan bias memaknai pesan-pesan etis dan moral yang terkandung di dalamnya. Maka orang bisa celaka, Apa lagi kalau kita tidak punya keteguhan hati. Tidak punya prinsip. Atau terus menampilkan sifat-sifat negatif potensi diri kita. Sifat-sifat negatif potensi diri inilah yang justru membuat kekalahan terbesar dalam setiap persaingan.

Strategi Sun Zi

Salah satu strategi perang Sun Zi adalah perhatian yang sangat mendasar terhadap semua pertempuran. Apakah dalam bentuk pertempuran di medan perang, atau pertempuran melawan pesaing dalam kehidupan bisnis, pertempuran mehadapi pesaing. Justru perhatian mendasar itu ialah, menghindari taktipuan dalam setiap pertempuran pertempuran.

Penguasa diktator otoriter dalam sistem pemerintahan otoritarian. Seringkali menerapkan ini katakana misalnya Bokssa, Idi Amin, Caligula, Hitler, Maozedong, dan dikatur lainnya disepanjang sejarah kehidupan umat manusia. Termasuk oleh para pengusaha korporat hitam untuk memenangkan persaingan produksi dan pasar. Strategi tipuan dianggap sesuatu yang lazim. Padahal justru menjadi mesin penghancur kekuatan itu sendiri.

Sebenarnya Sun Zi berpesan prinsip tipuan dalam perang hanya digunakan bila cara legal dan baik-baik tidak bisa ditempuh sama sekali. Di kemudian hari justru banyak sekali orang yang menyukai strategi ini, bahkan menipu dirinya sendiri. Strategi inilah kelihatannya yang sangat disukai para diktatur otoritarian, untuk mengukuhkan kekuasaannya.

Menurut Sun Zi, ada beberapa faktor yang perlu dipelajari dan dicermati dalam setiap kehidupan apa pun bentuknya. Apakah itu dalam organisasi pemerintahan Negara, atau dalam oragnisasi perusahaan korporat swasta, bahkan dalam kehidupan berkelompok unit terkecil, yakni : Pertama. mempelajari pengaruh dimensi moral terhadap setiap kondisi kehidupan, dan atau keadaan yang berkembang, agar tidak salah mengambil keputusan.

Kedua, pengaruh cuaca, cuaca menurut Sun Zi masuk dalam konstelasi pilitik, di mana kekuatan pasukan (pegawai) dalam jumlah memadai, menjadi dimensi yang memengaruhi. Ini termasuk peningkatan kualitas pasukan (pegawai) yang mesti terinci dan menyuluruh. Cuaca diartikan sebagai kondisi menyeluruh. Secara filosofi, wujud dan bentuk gunung dan formasi alam sangat berpengaruh terhadap kesuksesan oragnisasi.

Ketiga, pengaruh geografis terhadap lingkungan keseharian, juga ikut menentukan dalam membangun strategi; Ini menynangkut dengan keberhasilan dalam berbagai persaingan, antara satu korporasi dengan korporasi lain atau lebih tepat dengan pesaing. Kalau orang-orang yang hidup disepanjang pantai lebih suka kekebasan dan kemerdekaan, maka orang dipegunungan menyukai demokrasi, seperti itulah kira-kira penampakan pengaruh geografis terhadap kehidupan suatu organisasi.

Keempat, pengaruh pemimpin itu sendiri dalam mensikapi para perajurit; yang menyangkut dengan penghargaan dan hukuman. Bagaimana menciptakan hukuman itu berkeadilan. Ini memang memerlukan perenungan sebelum keputusan diambil, Oleh karena itu, setiap mengambil keputusan, perlu menghindari tindakan tergesa-gesa. Bila pun harus melakukan pengambilan keputusan cepat, maka intuisi digunakan secara seksama, agar setiap perajurut tidak dirugikan.

Kelima, pengaruh doktrin dan hukum yang diterapkan. Dengan kata lain ketika sang jenderal menanamkan sebuah doktrin, lebih dulu mencermati dimensi kebiasaan dan tingkah laku setiap anggota pasukan (pegawai). Termasuk bahasa tubuh, agar pasukan tidak steres dan merasa takut ketika menerapkan doktrin atau menjalankan perintah. Sehingga setiap perajurit dapat lebih fokus, penuh konsentrasi, loyal terhadap tugas dan fungsi.

Lima faktor inilah yang menurut Sunzi yang memengaruhi rakyat dalam mencapai kemakmuran. Dengan kata lain ikut memengaruhi kesejahteraan pasukan. Selain itu ada pula lima kualitas, menurut Sun Zi yang perlu dipunyai oleh stiap pemimpin secara positif diterapkan, berkaitan dengan dimensi di atas yakni, kualitas dalam menilai dan menganalisis setiap kemungkinan yang melemahkan pasukan; kualitas membedakan tindakan yang positif dengan tindakan yang negatif; kualitas membuat strategi yang jujur dan berkemanusiaan; kualitas merencanakan kesejahteraan rakyat untuk mencapai kemakmuran; kualitas kebijaksanaan yang berani, dapat dipercaya semua pihak, simpatik, tetapi tegas.

Buku ini memang layak dibaca oleh para pemimpin, karena bisa dijadikan sebagai pembanding. Untuk kalangan birokrasi buku ini juga bisa diadopsi, tetapi perlu disimak secermat mungkin, lantaran kehidupan masa kekaisaran ribuan tahun lampau kondisi kehipan dan cara manusia berinteraksi tentu berbeda. Sehingga kurang relevan kalau dijadikan sebagai pedoman seratus persen. Tapi sangat bermanfaat sebagai pembanding.

Bagi kalangan korporat, mungkin buku ini menjadi penting, setidaknya untuk mengetahu, bagaimana strategi korporasi hitam bersaing dan mengejar keuntungan belaka demi menggelembungkan pundit-pundi para pemegang saham. Mengadopsi strategi Sun Zi, merupakan sebuah cambuk dari masa lalu, yang rasa sakitnya tidak seberapa, tetapi kesan dari sebuah cambuk itulah yang tetap terpatri memacu orang untuk menumbuhkan kreatifitas dan menciptakan karya besar. Wallahu”alam.

 

Perensi Staf Pengajar PUSDIKLAT DEPDAGRI

Regional Bukittinggi

1 Komentar »

  1. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Senin, 16 Juni 2008)
    Strategi (R)Evolusi Ilmu Sosial Milenium III (Kadaluarsa Ilmu: Re-Imagining Sociology)

    FEELING IS BELIEVING. MULANYA teori baru diserang dikatakan tidak masuk akal. Kemudian teori tersebut itu diakui benar, tetapi dianggap remeh. Akhirnya, ketika teori itu sangat penting, para penentang akan segera mengklaim merekalah yang menemukannya (William James).

    Komentar oleh Qinimain Zain — 15 Agustus 2008 @ 16:47 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: