Klub Haus Buku

15 Mei 2008

KEGELISAHAN MAO TSE-TUNG

Filed under: Resensi Buku — opungregar @ 13:43
Tags: , , , ,

Oleh Aminuddin Siregar

Apa yang terjadi pada diri Mao Tse-Tung, bukan sekedar mimpi menguasai seluruh daratan China, melainkan ambisinya mengasai dunia. Hempir seluruh siasat dan strateginya dilakukan dengan taktik tipuan. Baik untuk melemahkan lawan-lawan politiknya maupun untuk memperkuat basis pertahanannya merangkul orang-orang yang dipercaya seratus persen. Tak ada sedikit keraguan dalam dalam setiap keputusan yang diambilnya, meski itu untuk mengorbankan rakyat tidak berdosa.

Kegelgelisahan yang menerpa sepanjang hari-hari terakhir yang dilauinya. Meski tidak diakuinya, tetapi menjadi beban psikologis sangat berat. Dia adalah salah seorang paling berambisi untuk menjadi pimpinan dunia. Ia juga adalah salah satu yang punya mimpi untuk menjadi tokoh dunia dalam meminpin Komunis. Sekurang-kurangnya menjadi pemimpin komunis untuk Asia. Hingga suatu ketika ia memimpikan agar ajaran-ajarannya dihafalkan oleh seluruh rakyat.

Ambisi Luar biasa

Ambisi Mao Tse-Tung, untuk menguasai dunia ditunjukkan dalam segala sepak terjang yang diterapkannya selama 27 tahun menjadi penguasa totaliter. Ia ingin sekali agar ajaran-ajarannya disebarkan dan dipelajari oleh setiap orang. Karena itu ia terus melancarkan serangan-serang ke seluruh wilayah-wilayah cina hingga ke Mansuria.

Peristiwa Gerakan 30 September pada tahun 1965 di Indonesia adalah contoh lain yang juga erat kaitannya dengan upaya membangun komunis di seluruh daratan Asia. Menurut penulis buku ini, sebenarnya Mao Tse-Tung, bisa dipersalahkan atas peristiwa yang menelan ribuan korban jiwa manusia. Ambisinya untuk menguasai dunia tidak tanggung-tanggung. Ia rela dan bahkan tega menyengsarakan dan melukai hati seluruh rakyat Cina.

Mao Tse-Tung, memang menyukai perang, meski ia sendiri selalu bersembunyi di tempat-tempat yang dirahasiakan di sejumlah bungker yang dibangunnya semata untuk keamanan dirinya sendiri. Ia juga sangat menyukai kekerasan. Sehingga tidaklah terlalu mengherankan kalau selama masa kepemimpinannya, sekitar 70 juta rakyat Cina mati terbunuh. Apakah itu krena alasan mati di medan tempur, bunuh diri massal, atau karena kelaparan dan alasan lain demi rencana pembersihan untuk menghilangkan setiap jejak yang dianggapnya merongrong kekuasaannya atau melawan pemerintahan dan dirinya sendiri

Ia juga tidak segan membantai dan mengeksekusi orang di depan publik, yang dianggap musuh pemerintahannya. Bahkan ada yang sengaja dikirim ke medan tempur untuk dijadikan umpan dan mati begitu saja. Mereka yang mendapat tugas seperti ini, sebenarnya dengan maksud untuk menyingkirkan mereka dari muka bumi. Mereka itu kebanyakan adalah pasukan nasionalis binaan Chiang Kai-Sek.

Mao Tse-Tung, kelihatannya tidak saja haus darah tetapi juga haus buku. Kegemarannya membaca buku tercermin dari ruang kamar tidurnya yang didisain sedemian rupa. Di mana buku-buku berserekan di sekeliling ranjang yang durancang khusus agar ia leluasa menaruh buku di mana-mana. Ia adalah termasuk sedikit orang yang doyan baca buku. strategi perang. Tetapi oleh ambisi yang meletup-letup, nafsunya untuk berkuasa sepanjang hayatnya, membuat seluruh rakyat Cina menanggung akibat yang diterapkannya.

Kalau kita membaca dengan cermat sepak terjang Mao Tse-Ting, maka akan nampak seluruh pesan etis dan moral Sun Zi, justru yang diterapkan ialah kebalikan pesan moral yang disampaikan Sun Zi.

Itulah sebabnya mengapa Mao tak henti-hentinya menyanjung Rusia, agar ia tetap mendapat dukungan dan bantuan financial dalam upayanya membangun nuklir menurut cara dan kemauannya sendiri. Tidak lain karena ia ingin menjadi satu-satunya kekuatan di seluruh dunia.

Sebenarnya bantuan yang dikucurkan oleh Rusia, adalah merupakan utang Negara yang harus dibayar. Untuk membayar itulah hingga semua produksi pertanian harus diberikan kepada Negara. Petani sendiri tidak dapat menikmati hasil pertaniannya. Rakyat menjadi sangat menderita kelaparan di hampir seluruh wilayah cina sepanjang tahun-tahun ambisinya untuk membuat nuklir tercanggih di dunia.

Meskipun pada akhirnya semua rencana itu gagal dan ia harus mengakui kekalahannya. Bahkan mimpinya untuk mengabadikan ajaran-ajarannya juga kandas hingga menjadi mimpi paling buruk sepanjang sejarah hidupnya.

Membaca biogarafi orang-orang besar, tidak saja mengasikkan, tetapi juga banyak manfaat yang bisa dipetik. Seperti halnya buku biografi Mao Tse-Tung, karangan Jung Chang ini, memberi warna baru terhadap sepak terjang Mao di sepanjang hidupnya. Jung Chang tidak saja menulisnya dengan bahasa yang sangat santun, tetapi juga mudah dipahami, sehingga kita tidak perlu mengernyitkan kening ketika membacanya hingga selesai.

Jung Chang, berhasil memikat pembaca dengan gaya bahasa tulis kesasteraan Cina yang dipadukan dengan model investigasi dan penceritaan fakta sejarah. Hingga pembaca dapat diperkirakan akan berusaha untuk menamatkanya. Meski halaman buku ini hampir delapan ratusan halaman termasuk lampiran.

Buku ini tidak saja bicara tentang sisi suram dari kehidupan Mao, tetapi juga kegemilangan memainkan taktik menguasai medan dan permainan, yang mungkin juga sangat vulgar. Long March merupakan salah satu puncak kejayaa Mao dalam meminpin Cina, selama dua puluh tujuh tahun.

Perensi Staf Pengajar PUSDIKLAT DEPDAGRI

Regional Bukittinggi

5 Komentar »

  1. Saya mau mengutip komentar Simon Sebag Montefiore, Sunday Times, tentang buku Mao : Kisah-kisah yang tak diketahui. “Karya monumental! Ini adalah potret mencengangkan tentang tirani, pembunuhan massal, korupsi kebejatan moral, dan pandangan-pandangan radikal kaum revisionis–sebuah hasil riset yang sangat bermutu. Inilah biografi pertama paling mendalam yang pernah ditulis tentang sang tokoh politik terkejam”. Jung Chang dan Jon Halliday berhasil mengungkapnya dan menuturkannya secara lugas.

    Komentar oleh opungregar — 18 Mei 2008 @ 19:54 | Balas

  2. Sebanyak orang yang tidak menyukai perilaku Mao, sebanyak itu pula yang juga punya kesetiaan terhadap pemikiran-pemikirannya, termasuk kesetiaan terhadap ajaran-ajarannya. Tapi memang kejadian selam 27 tahun Mao berkuasa, sungguh menyedihkan membuat hati kita tersayat sebagaimana diungkap Jung Chang dalam buku berjudul Mao Kisah-kisah Tak Diketahui, suatu investigasi luar biasa dan kesungguhan penulisnya untuk mengungkap kisah-kisah Mao dalam buku yang tak kurang dari 600 halaman setelah di Indonesia. Eanak di baca luar biasa.(Shohibul Azmi Rivai) Payakumbuh.

    Komentar oleh shohibulazmi — 21 Mei 2008 @ 13:35 | Balas

  3. Ada semacam kelelahan bagi diri Mao bila kita membaca buku Mao : Kisah-kisah Tak Diketahui yang di tulis oleh Jung Chang. Tetapi Mao sendiri mengelak mengakui depresi yang dialaminya pada hari-hari terahir masa kekuasaannya memimpin di China. Buku memang menarik untuk dibaca hingga membuat kita lebih banyak mengetahui bagaimana sesungguhnya kebangkitan China hingga masa sekarang ini, yang oleh banyak orang berpendapat bahwa China memang akan menjadi raksasa Asia dalam bidang perekonomian, apalagi sesudah kita membaca buku Mao dan buku Rahasia Kebangkitan Ekonomi China, yang juga dilakukan denga cermat.

    Komentar oleh Titi Murni — 21 Mei 2008 @ 13:44 | Balas

  4. Bagi saya buku setebal 958 halaman plus xiii halaman index berjudul :Mao : Kisah-kisah yang Tak Diketahui” karangan Jung Chang dan Jon Hallyday ini adalah buku hebat sekaligus luar biasa. Ia hebat bukan saja karena buku ini sebuah hasil riset yang bermutu. Tetapi juga lantaran gaya litesinya yang betul-betul menunjukkan kepiawaian dan ketekunan penulisnya mengungkap kisah Mao yang berkuasa selama 72 tahun. Seperti diungkap oleh penulisnya: “Di paruh kedua abad kesembilan belas, China mengalami transformasi sosial yang dramatis. Dinasti Manchu yang telah memerintah sejak tahun 1644 sedang bergerak dari zaman kuno ke zaman modern. Peralihan itu didorong oleh serangkaian kekalahan amat buruk di tangan sejumlah kekuatan Eropa dan Jepang, dimulai dari kekalahan dari Inggris dalam Perang Candu antara tahun 1819-1842, yaitu ketika banyak kekuatan asing berusaha mendobrak China yang tertutup”.
    Jadi tidak mengherankan kalau banyak orang yang sekarang ini tercengang melihat kemajuan China. Lantaran pada waktu itu hampir semua kalangan setuju bahwa China harus berubah, termasuk kalangan Cendikiawan. Saat itulah menurut penulisnya sejumlah reformasi diperkenalkan.

    Komentar oleh Alvin Surur — 17 Juni 2008 @ 06:30 | Balas

  5. Membaca perlakuan Mao Tse-tung yang keji terhadap istri-istrinya, pacar-pacarnya dan anak-anaknya bukan saja sangat memilukan tetapi sekaligus melukai perasaan kaum wanita. Latar belakang Mao Tse-tung sebagai petani justru tidak mengilhaminya untuk memperbaiki nasib kaum petani China, sepanjang puluhan tahun berkuasa penuh. Banyak hal yang memang sangat mengejutkan dalam buku berjudul “Mao : Kisah-kisah yang tak Diketahui” karya Jung Chang dan Jon Halliday ini patas diberi acungan jempol pada penulisnya, yang luar biasa cermat dan sangat detail tentang sepak terjang Mao Tse-tung.

    Komentar oleh Neni Emilda — 29 Juli 2008 @ 01:05 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: