Klub Haus Buku

14 Mei 2008

Tintin, Album Dokumentasi Abad Ke-20

Filed under: Penggemar Tintin — opungregar @ 10:17
Tags:

Minggu, 11 Mei 2008 | 01:23 WIBBE Satrio

Kebetulan yang tepat jika Gramedia Pustaka Utama menerbitkan kembali kisah Tintin 25 tahun setelah meninggalnya Hergé (wafat 3 Mei 1983). Ini cukup jadi pertanda, Tintin layak disebut karya klasik yang tidak ikut terkubur bersama penciptanya, sejajar dengan kisah Tom Sawyer (Mark Twain) atau Winnetou (Karl May).

Bagi yang baru mengenal Tintin, kesan yang timbul ini komik untuk anak-anak. Di berbagai toko buku, setidaknya di Indonesia, Tintin dipajang di antara deretan komik atau fiksi anak-anak. Padahal, Tintin boleh dibilang salah satu perintis genre novel grafis yang punya segmen pembaca dewasa.

Dari sisi keluasannya, Tintin mengangkat kolonialisasi Eropa di Afrika (Tintin di Congo), berperang dengan jaringan kriminal di Amerika Serikat (Tintin di Amerika), berada di tengah perlawanan bangsa China melawan invasi Jepang (Lotus Biru), atau berada di antara pergolakan politik Amerika Selatan (Kuping Belah).

Di sisi petualangan, Tintin jadi orang pertama yang berjalan di bulan (Petualangan di Bulan), menyelam di dasar samudra (Rahasia Unicorn), ke Himalaya (Tintin di Tibet), hingga berada di pesawat UFO (Penerbangan 714 ke Sydney). Tak pelak, Tintin adalah kisah mengenai abad ke-20. Tidak ada dokumentasi sejarah abad ke-20 yang bisa ditampilkan lebih menarik lagi daripada kisah Tintin. Alasan inilah yang membuat Tintin layak jadi ikon klasik abad ke-20.

Secara teknik, keunggulan Hergé menjadikan Tintin karya berkelas klasik adalah pada penggambaran karakter tokoh yang kuat. Kapten Haddock yang pemabuk dan gemar memaki, Profesor Calculus yang budek, dan detektif kembar yang dogol. Tarikan grafis Hergé berciri garis tegas (clear line). Gambar yang dibuat Hergé kaya dengan detail yang didasarkan riset. Detail berbagai kendaraan, interior kapal, dan suasana pelabuhan, misalnya, didasarkan pada kenyataan yang sebenarnya. Begitu pula banyak gambar gedung dan bangunan yang dalam kenyataannya benar-benar ada, bukan cuma rekayasa Hergé.

Sindiran pada berbagai ideologi dituturkan dalam simbol-simbol cerdas, yang ketika dipahami, lebih akan membuat kita tertawa daripada mengerutkan dahi. Inilah kekuatan Hergé yang membuat Tintin pun disukai anak-anak. Keunggulan kelas maestro seperti itulah yang kini sukar dicari tandingannya.

Totor

Hergé sebetulnya adalah nama alias dari Georges Remi, kelahiran Brussels, 22 Mei 1907. Nama Hergé adalah kebalikan dari inisial namanya G-R menjadi R-G. Ketika Georges Remi duduk di bangku sekolah, ia ikut kegiatan kepanduan. Kelompok pandu ini kerap mengadakan perjalanan ke Spanyol, Austria, hingga Italia.

Dari sinilah hasrat petualangan Georges Remi lahir (Jean Marc dan Lofficier, 2002). Ketika Perang Dunia Pertama pecah, seniman muda ini menumpahkan kegalauannya dengan memenuhi pinggiran buku sekolahnya dengan gambar-gambar mengenai bocah kecil yang melawan tentara Jerman.

Di usia 19 tahun, Hergé muda mulai membuat Les Aventures De Totor (Petualangan Totor, seorang bocah pandu) di Le Boy-Scout Belge, sebuah publikasi gerakan kepanduan Belgia. Tiga tahun kemudian, pada 10 Januari 1929 di Le Petit Vingtieme, halaman sisipan anak-anak dari koran Le Vingtieme Siecle, Hergé meluncurkan Tintin di Sovyet sebagai reinkarnasi dari Totor. Bedanya, Totor adalah seorang bocah pandu, sedangkan Tintin seorang wartawan muda. Dari sinilah kisah Tintin bermula dan tanggal tersebut diproklamirkan sebagai hari kelahiran Tintin oleh kalangan fans Tintin di penjuru dunia.

Enam judul pertama Tintin yang diterbitkan GPU merupakan karya awal Hergé yang punya bobot kuat sebagai potret sosial politik di eranya. Salah satunya adalah Lotus Biru, kelanjutan dari Cerutu Sang Firaun yang mengangkat peredaran ganja dan opium di Asia.

Di kisah ini, Tchang Tchong-Jen (1905-1998), seorang mahasiswa asal China yang studi di Belgia, mulai mempengaruhi karya Hergé, terutama dalam pewarnaan menggunakan teknik air-brush. Teknik ini kemudian digunakan Hergé ketika mereproduksi Tintin dari hitam putih menjadi berwarna pada tahun 1940-an. Persahabatan Hergé-Tchang sedemikian kental hingga Tchang menjadi salah satu nama tokoh di Lotus Biru. Bahkan, Tintin di Tibet (1958) tak lain adalah manifestasi persahabatan mereka.

Menuai kecaman

Di Lotus Biru tampak sekali keberpihakan Hergé kepada bangsa China, terutama menyikapi invasi Jepang ke China, yang kemudian menuai protes dari konsul Jepang di Belgia. Ketika di dekade 1940-an Hergé menggambar ulang dan memberi warna kisah judul-judul awal Tintin, ia memutuskan tidak menggambar ulang Tintin di Sovyet. Alasannya, kisah Tintin pertama ini kasar dan tampak jelas sikap Hergé yang antikomunis dan anti-Rusia. Pengalamannya dengan Pemerintah Jepang membuat Hergé lebih hati-hati.

Namun, Tintin di Congo toh menuai kecaman di Eropa karena menggambarkan stereotip kolonial bangsa Eropa di Afrika. Tintin di Congo dianggap sama sekali tidak menggambarkan Afrika saat itu, melainkan lebih bagaimana orang Belgia memandang Afrika. Tak hanya itu, dalam aksinya di Afrika, kekasaran perilaku Tintin—menyiksa dan memburu binatang—pun masih mendominasi cerita. Ciri kekasaran di kedua kisah pertama Tintin ini sangat menonjol dibandingkan kisah-kisah berikutnya yang lebih menampakkan kecerdasan Hergé menyusun konspirasi alur dan plot cerita.

Tintin di Sovyet versi asli (hitam putih) baru diluncurkan kembali akhir tahun 1960-an karena rasa penasaran fans Tintin terhadap kisah pertama Tintin ini. Demikian pula, Tintin di Congo yang sempat ditolak oleh sejumlah penerbit di negara-negara lain, terjemahan bahasa Inggris untuk versi berwarnanya baru terbit resmi tahun 2005, itu pun diterbitkan sebagai Collector Edition.

Tintin In The Congo versi bahasa Inggris ini memuat pengantar pendek dari penerbit yang menjelaskan konteks latar belakang kisahnya. Sayangnya, Tintin terbitan GPU tidak memuat penjelasan atau pengantar yang bisa membantu orang mengapresiasi Tintin. Ketiadaan penjelasan ini bisa jadi akan menimbulkan pertanyaan pembaca yang masih ”awam” Tintin, seperti mengapa Tintin di Sovyet terbit hitam putih, apakah Tintin di Congo adalah karya terbaru Hergé, dan sebagainya.

Dari bahasa Perancis

Di Indonesia, serial ini bukan barang baru. Pada dekade 70 hingga 80-an, lewat penerbit Indira, Tintin sudah dikenal dan menjadi salah satu ”komik” yang digemari sebelum gempuran komik-komik Jepang. Dialog-dialognya pun populer, terutama makian Kapten Haddock.

Namun, justru makian itulah yang mungkin tidak akan sama pada terbitan GPU ini. Sebabnya, Tintin GPU memakai sumber asli berbahasa Perancis, sementara Tintin Indira bersumber pada terjemahan bahasa Inggris. Nama-nama tokoh pun ikut berubah. Detektif kembar Thompson dan Thomson yang berasal dari terjemahan bahasa Inggris kembali ke ”nama Perancis” mereka, Dupond dan Dupont.

Demikian pula, Snowy kembali menjadi Milou (diindonesiakan jadi Milo). Namun, nama Profesor Calculus tidak dikembalikan ke nama Perancisnya, Tryphon Tournesol, melainkan diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi Lakmus (tournesol dalam bahasa Perancis berarti kertas lakmus—kertas untuk percobaan kimia). Tidak hanya harus mengakrabkan diri dengan nama-nama baru, pembaca Tintin kini pun harus ”berjuang” membiasakan diri membaca huruf-huruf yang kecil.

Terlepas dari kekurangan teknis yang ada, keputusan GPU untuk menerbitkan Tintin di tengah arus komik Jepang kini perlu diberi apresiasi. Tidak hanya karena GPU menerbitkan Tintin sesuai dengan urutan yang ”benar” menurut Hergé, tetapi juga pada terbitan GPU inilah Tintin di Congo (versi berwarna) yang kontroversial itu terbit pertama kalinya dalam bahasa Indonesia. Selain itu, sebagai penutup seri ini, pembaca Indonesia akan bisa menyimak Tintin dan Alpha-Art yang merupakan dokumentasi sketsa kisah terakhir Tintin yang tidak sempat diselesaikan Hergé.

(BE Satrio, Penggemar Tintin)

16 Komentar »

  1. Maaf saya koreksi sedikit untuk paragraf kedua dari bawah
    Tintin bertemu Kapten Haddock dlm Kepiting Bercapit Emas, Bianca Castafiore dlm Tongkat Raja Ottokar dan Prof. Calculus dalam Harta Karun Rackham Merah (semua judul dlm versi Indira) terlepas dari kekeliruan tersebut, saya berterima kasih atas informasi yang diberikan  
    terima kasih
    heri
    http://www.herispica. multiply. com

    Komentar oleh Heriawan Lawadihardja — 17 Juni 2008 @ 22:09 | Balas

  2. Wartawan legendaris Tintin, kembali hadir di Indonesia. Aneka kisah petualangan yang seru tapi lucu dan penuh kebetulan itu, bisa Anda temukan lagi di rak-rak toko buku terkemuka.
    Sejak penerbit Indira gulung tikar, Tintin terpaksa harus ‘meninggalkan’ Indonesia. Baru pada Mei lalu wartawan berambut jambul itu datang setelah penerbit Gramedia menguruskannya ‘izin tinggal’ di Indonesia.
    Tintin tetap mengajak anjing kecil dan teman-teman serta lawan-lawan lamanya yang konyol. Yakni duo detektif kembar sok jago, pensiunan kapten pelaut yang pemabuk dan gemar memaki, ilmuwan pikun, biduanita top dan jutawan kaya bandar mafia internasional.
    Tapi mereka sekarang punya nama baru. Misalnya saja Dupont dan Dupond adalah
    nama baru detektif kembar Thomson dan Thompson, sedangkan Calculus si professor berganti nama menjadi Lakmus. Snowy si anjing berganti jadi Milo.
    Perubahan nama ini karena perbedaan rujukan komik yang diterjemahkan penerbit. Bila Indira menerjemahkan dari edisi Belgia, pihak Gramedia menerjemahkannya dari edisi Perancis.
    Perbedaan versi rujukan ini sedikit berpengaruh pada judul komik. Seperti ‘Tawanan Dewa Matahari’ menjadi ‘Di Kuil Matahari’, lalu ‘Misteri Bintang Jatuh’ jadi ” ‘Bintang Misterius’ dan ‘Cerutu Sang Firaun’ untuk ‘Cerutu Sang Pharaoh’.
    Bedanya tipis saja kan? Sama sekali tidak berpengaruh pada kenikmatan membaca. Hanya perlu pembiasaan sedikit bagi Anda yang terlanjur cinta dengan Tintin terbitan Indira.

    Komentar oleh Heriawan Lawadihardja — 17 Juni 2008 @ 22:12 | Balas

  3. Perbedaan mencolok antara Titin terbitan Gramedia dan Indira adalah ukuran fisik buku komik yang hanya 15 cm x 22 cm. Meski demikian susunan strip komik di setiap lembar halamannya tidak ada perubahan.
    Terus terang, justru ini yang paling mengganggu. Ukuran teks yang dengan sendirinya ikut mengecil hingga sedikit sulit dibaca bila kalimatnya panjang Tiba di halaman pertengahan mata mulai terasa lelah, apalagi bila Anda membacanya sambil tiduran.
    Sebagai ‘kompensasi’ pihak Gramedia melengkapi jumlah seri Tintin yang mereka akan terbitkan, lebih banyak tiga seri dari 21 terbitan Indira. Di dalam line-up terdapat judul ‘Tintin di Congo’, ‘Tintin di Tanah Sovyet’ dan ‘Tintin dan Aplha-Art’.
    Tapi sejauh ini baru lima seri telah terbit yang berkisah saat Tintin masih bersolo karir. Melihat segala perubahannya maka seri paling bikin penasaran adalah ‘Rahasia Unicorn’ yang mengisahkan awal perkenalan Tintin dengan Kapten Haddock, Bianca Castafiore dan Profesor Calculus.
    Entah seperti apa bunyi sumpah serapah khas Kapten Haddock itu jadinya. Biang panu, sejuta topan badai, babon bulukan! ( lh / nwk )

    Komentar oleh Heriawan Lawadihardja — 17 Juni 2008 @ 22:17 | Balas

  4. Teman-teman penggemar Tintin, sekarang ini ada lagi buku baru yang menurut informasi dari teman penggemar lainnya, lebih murah dari harga toko. Silakan langsung kunjungi toko buku online di http://www.argentumbooks. com

    Komentar oleh opungregar — 22 Juni 2008 @ 19:47 | Balas

  5. Petualangan Tintin : Bintang Misterius. Mengisahkan petualangan Tintin dan kawan-kawannya ke Laut Arktik untuk mencari meteor yang mengandung Phostlite, logam baru yang menjadi rebutan.

    Komentar oleh Anastasia Mustika — 22 Juni 2008 @ 22:38 | Balas

  6. Petualangan Tintin : Kepiting Bercapit Emas.Tintin membongkar jaringan penyelundup narkoba sampai ke Gurun Sahara. Seperti biasa ia ditemani Milo yang setia, dan teman barunya Kapten Haddock, yang muncul untuk pertama kalinya di buku ini

    Komentar oleh Anastasia Mustika — 23 Juni 2008 @ 00:55 | Balas

  7. Ada yang jual TIN TIN dari nomor peratama sampai nomor terakhir. Bila ada hubungi saya di sukarja2000@yahoo.com atau ada gak situsnya

    Komentar oleh sukarja — 2 Juli 2008 @ 11:55 | Balas

  8. Buku baru Terbitan Gramedia : Buku Anak-Anak\Buku Cerita Bergambar. Tintin mengungkapkan misteri perkamen yang tersembunyi dalam miniatur kapal peninggalan nenek moyang Kapten Haddock. Tetapi ternyata ia harus berhadapan dulu dengan Robin Bersaudara, yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh keinginan mereka. Untuk penggemar tintin, silakan tularkan kegemaran it kepada teman lain.

    Komentar oleh opungregar — 19 Juli 2008 @ 12:41 | Balas

  9. Petualangan Tintin yang bermula dari penemuan kaleng minuman bergambar
    kepiting, berlanjut sampai pencarian karaboujan (nama sebuah kapal)
    dan menunuju sahara, silahkan download di:
    http://rapidshare.com/files/134922644/The_Crab_with_the_Golden_Claws.pdf

    Komentar oleh Yoyo Krahayu Basuki — 6 Agustus 2008 @ 07:53 | Balas

  10. Apa ada temen2 yang tahu ttg alamat pos penerbit INDIRA??? Saya sangat menyukai komik2nya spt si janggut merah dan chevalier ardent.
    Untuk Penerbit Gramedia kenapa komik Winnetou tidak dicetak ulang?? Thx

    Komentar oleh Vindo — 6 Agustus 2008 @ 14:33 | Balas

  11. Halo, salam kenal
    bagi yang mau bernostalgia dengan komik komik tahun 80 an
    silakan lihat fotonya di radjakomikbekas.blogspot.com
    terima kasih

    Komentar oleh martin — 26 Agustus 2008 @ 11:38 | Balas

  12. Tintin: Duet Steven Spielberg dan Peter Jackson, Gemar dengan komik Tintin? Serial ciptaan Georges Remi yang menggunakan nama pena Herge ini popular di seluruh dunia, juga di Indonesia. Semenjak tahun lalu seluruh seri Tintin
    diterbitkan ulang oleh penerbitan terbesar di Indonesia.

    Komentar oleh Dini Pandia — 16 September 2008 @ 09:37 | Balas

  13. Karakter utama Tintin adalah seorang wartawan muda dari Belgia, yang berpetualang ke seluruh dunia memecahkan berbagai misteri, dengan ditemani anjingnya yang berwarna putih, Snowy. Semenjak bulan April lalu terdengar kabar bahwa Amblin Entertainment hendak membuat film live-actionnya dalam bentuk
    film layar lebar berseri. Kini sudah ditetapkan bahwa untuk film pertama, Steven Spielberg akan menjadi sutradaranya, sedangkan untuk film lanjutannya peran sutradara akan diambil alih oleh Peter Jackson. Jackson menyelipkan proyek Tintin ini di antara jadwal pembuatan The Hobbit.

    Komentar oleh Dini Pandia — 16 September 2008 @ 09:40 | Balas

  14. Tokoh Tintin yang legendaris akan diperankan oleh pendatang baru Thomas Sangster yang baru berusia 18 tahun. Aktor kesayangan Peter Jackson, Andy Serkis juga ikut bermain dalam film ini, sebagai Kapten Haddock. Serkis dalam proyek-proyek terdahulunya dengan Peter Jackson selalu memerankan karakter
    animasi, pertama Gollum lalu kemudian Kingkong. Dalam sebuah wawancara, Serkis mengatakan, ?Bahwa banyak orang mengira [saya akan diminta Peter Jackson untuk berperan sebagai Snowy si anjing], aneh sekali rasanya.?

    Komentar oleh Dini Pandia — 16 September 2008 @ 09:42 | Balas

  15. WTB…
    -tintin indira yg lama ato indira terbitan terakhir (lebar bukan kecil)
    -utuh, blom di stempel sewaan apalage rt/rw

    list:
    – bintang jatuh WANTED <====
    – tintin di kongo WANTED <====
    – tintin di danau hiu WANTED <====

    cepi_esp@yahoo.com

    Komentar oleh che — 19 November 2008 @ 21:39 | Balas

  16. VCD tentang petualangan tintin (kartun) belum lengkap, baru ada 21 judul, kebetulan kt br punya 21 judul itu ; VCD Kisah Tintin di Congo dan Soviet belum ada; kapan ya.. nyusul diterbitkan? Kisah Tintin di danau hiu juga belum punya.
    Walaupun lihat VCD dengan baca buku komiknya tidak sama nikmatnya; tapi bisa untuk pembanding aja.

    d_godex@yahoo.com

    Komentar oleh godex — 18 Desember 2008 @ 08:20 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: