Minggu, 11 Mei 2008 | 01:23 WIBBE Satrio
Kebetulan yang tepat jika Gramedia Pustaka Utama menerbitkan kembali kisah Tintin 25 tahun setelah meninggalnya Hergé (wafat 3 Mei 1983). Ini cukup jadi pertanda, Tintin layak disebut karya klasik yang tidak ikut terkubur bersama penciptanya, sejajar dengan kisah Tom Sawyer (Mark Twain) atau Winnetou (Karl May).
Bagi yang baru mengenal Tintin, kesan yang timbul ini komik untuk anak-anak. Di berbagai toko buku, setidaknya di Indonesia, Tintin dipajang di antara deretan komik atau fiksi anak-anak. Padahal, Tintin boleh dibilang salah satu perintis genre novel grafis yang punya segmen pembaca dewasa. (lagi…)













