Klub Haus Buku

6 Mei 2009

Sastra Sebagai Investasi Moral

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — opungregar @ 02:56

Oleh : Ghanya Paong

“Sastra berperan besar menanamkan nilai-nilai dan semacam investasi moral masa depan mengingat sastra berbicara tentang manusia dan kemanusiaan”.

Tepat membidik sasaran, itulah yang terjadi kini di Indonesia, selain mengalami krisis ekonomi, kita juga mengalami krisis moral. Dan suatu kesalahpahaman besar yang berlanjut dimana pengajaran Bahasa Indonesia selalu dikaitkan dengan sastra. Dan dampak buruk dari itu semua terhadap perkembangan sastra Indonesia telah nyata terjadi apabila kita menyadarinya. Kita coba paparkan satu per satu.

Krisis moral,
Tidak dapat dipungkiri bahwa kita seharusnya bangga atas prestasi yang telah diukir oleh putra-putri Indonesia yang telah berhasil mengharumkan nama bangsa dipentas Olimpiade, terutama dalam bidang ilmu eksakta. Itu menunjukkan bahwa kita mengalami perkembangan terhadap ilmu tersebut dan membuktikan bahwa kini di Indonesia sudah terlahir lebih banyak lagi generasi-generasi yang lebih pintar.
Tapi di sisi lain coba kita perhatikan secara realistis, banyak orang pintar yang “pintar” menyalahi etika/moral (baik dalam lisan maupun tindakan) dalam kehidupannya. Memang harus diakui bahwa itu berpengaruh dari kurangnya pendidikan terhadap ilmu bahasa, sosial ataupun humaniora. Ambil contoh, ada seseorang yang pintar dan berkedudukan, ia juga mengerti tentang ilmu humaniora lainnya tentu kata-kata “Bodoh kamu, mengerjakan begini saja tidak becus!!” hanya akan menjadi cerita langka dan akan naik daun kata-kata “Yang kamu kerjakan ini kurang benar, tolong kerjakan lagi lebih teliti.”.
Sayangnya kalimat yang terakhirlah yang kini menjadi sesuatu yang langka didengar oleh telinga kita semua.

Kesalahpahamahan besar,
Bahasa Indonesia adalah bahasa negara dan menjadi bahasa pemersatu bangsa. Itu saja! Dan tentu ditiap-tiap bahasa memiliki “rumus-rumus” tersendiri agar terangkai menjadi satu kalimat dan susunan bahasa yang benar. Tapi itu jangan dipaksa untuk dikaitkan dengan ilmu sastra yang jelas berbeda. Sastra adalah bentuk indah dari rangkaian bahasa yang ada. Apapun itu bahasanya, bukan begitu?
Masalahnya disini, entah pemerintah bidang pendidikan, entah orang-orang malas untuk mengoreksi tentang sastra dalam dunia pendidikan. Yang pasti disini terjadi adalah pemaksaan untuk sesuatu yang tidak tepat bahkan sangat tidak tepat untuk perkembangan pendidikan bagi suatu bangsa.
Memang untuk bahasa Indonesia dan sastra untuk lebih detail dapat kita pelajari di bangku universitas, tapi pendidikan etika/moral itu baiknya ditanamkan sejak dini, bung!!!!! Ditambah lagi dengan harga pendidikan yang sangat mahal dibumi yang sudah merdeka selama 63 tahun ini. Sangat mahal dan tidak sebanding dengan pendapatan sebagian orang di bangsa ini.

<a href=”http://glitterbux.com/register.php?r=opungregar”><img src=”http://glitterbux.com/images/header8.jpg” width=”400″ height=”60″></a>


Belum Ada Tanggapan »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.

Blog pada WordPress.com.