Sumber : Kompas, Senin, 18 Agustus 2008 | 00:06 WIB
OLEH KHAERUDIN
Sudah empat tahun terakhir warga yang tinggal di ujung Jalan Pukat II atau yang dulu dikenal dengan nama Jalan Sejati tak jauh dari Jalan Mandala By Pass, Kelurahan Bantan Timur, Kecamatan Medan Tembung, menyimpan geram. Pasalnya, parit atau selokan di sisi Jalan Pukat II tak mampu lagi menampung air, sementara aliran air selokan ke parit yang lebih besar di sisi Jalan Mandala By Pass mampet karena sudah lama tak dikeruk. Alhasil, limpahan air parit itu membuat Jalan Pukat II yang rusak bertambah parah karena terus-menerus dialiri air selokan.
Bukan hanya ujung Jalan Pukat II yang dibanjiri air selokan setinggi hampir lutut orang dewasa, tetapi rumah-rumah warga di sekitarnya juga jadi korban luapannya. Bila hujan turun, bisa dipastikan rumah warga kebagian limpahan air.
”Kami jadi tak punya tempat untuk sembahyang dan tidur,” ujar Nur’aini (48), warga yang tinggal di Gang Seniman Lingkungan 17, Kelurahan Bantan Timur.
Gang Seniman terletak melintang di ujung Jalan Pukat II. Untuk masuk Gang Seniman, warga harus melewati jalan yang dibanjiri air selokan—untuk tak mengatakan air comberan—berwarna coklat kehijauan dengan bau menyengat
Kedua sisi Jalan Pukat II memang terdapat parit dengan kedalaman lebih kurang 50 sentimeter. Setahun terakhir warga menambah ketinggian parit hingga 30 sentimeter dengan harapan, air parit tak lagi meluap ke Jalan Pukat II.
Namun apa mau dikata, upaya warga meninggikan parit tak berhasil menahan limpahan air ke Jalan Pukat II karena air selokan yang mestinya mengalir ke parit di sisi Jalan Mandala By Pass terhalang. Parit di sisi Jalan Mandala By Pass praktis tak bisa mengalirkan air karena lama tak dikeruk dam penuh tumpukan sampah serta lumpur.
Tanggal 17 Agustus 2008, tepat 63 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, warga tak lagi bisa menahan geram. Bertepatan dengan hajatan warga memperingati kemerdekaan, ujung Jalan Pukat II sepanjang 50 meter yang berkubang air selokan jadi arena mereka menggelar berbagai perlombaan. Kubangan air sedalam hampir selutut orang dewasa tersebut dibendung mirip sebuah kolam. Papan kayu dan tumpukan pasir dijadikan pembatas.
Oleh warga, jalan yang telah diubah menjadi kolam tersebut diisi ratusan ikan lele dan belut. Warga menggelar lomba menangkap ikan lele dan belut bagi anak-anak. Tak kurang 100 anak berpartisipasi dalam lomba ini. Mereka memperebutkan hadiah uang sebesar Rp 5.000 untuk setiap ekor ikan lele atau belut yang ditangkap.
Jalan Pukat II kemarin sore tak ubah seperti sungai kecil yang tengah diserbu anak-anak untuk mencari ikan. Zulfan yang juga ketua panitia peringatan hari kemerdekaan itu mengatakan, sudah lama keluhan masyarakat tak pernah ditanggapi pejabat Pemkot Medan.
”Lomba seperti ini lantaran keluhan kami tak pernah ditanggapi. Pas kebetulan peringatan 17 Agustus, kami adakan kegiatan ini agar pejabat Pemkot Medan terketuk pintu hatinya,” kata Zulfan.
Muhammad Nasir, yang rumahnya pas di depan kubangan jalan, mengungkapkan lomba yang diadakan warga sudah membuat malu lurah dan camat setempat. ”Buktinya mereka tak berani datang ke sini,” katanya.



