Klub Haus Buku

Juni 20, 2008

Pemilu 2009 Peluang Besar Kaum Muda Jadi Presiden

Diarsipkan di bawah: Politik Internasional — opungregar @ 1:52 am
Tags:
Kamis, 19 Juni 2008 | 20:38 WIB
JAKARTA, KAMIS - Barack Obama, tokoh muda yang maju jadi calon presiden (capres) Amerika Serikat (AS), terbukti telah menyemangati kaum muda di Indonesia. Pemilihan umum presiden dan wakil presiden (Pilpres) tahun 2009, diyakini akan ada kejutan.
Walau sekarang belum disebut-sebut namanya, akan ada kaum muda yang maju mencalonkan diri dan peluang untuk terpilih begitu besar. Kaum muda yang layak jadi pemimpin bangsa itu, tak sekadar muda usia (bawah lima puluh tahun), melainkan harus memenuhi beberapa persyaratan.
Prediksi yang lebih merupakan harapan itu terungkap dalam diskusi politik yang mengusung tema “PKS dan Kepemimpinan Kaum Muda” pada peluncuran majalah Biografi Politik edisi khusus Satu Abad Kebangkitan Nasional, Kamis (19/6) di Jakarta. Acara tersebut menampilkan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Mennegpora) Adhyaksa Dault, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring, tokoh muda PDI Perjuangan Budiman Sudjatmiko, Pemimpin Redaksi Biografi Politik Yudi Latif, dan Pengamat Politik Khudori.
Adhyaksa Dault, yang menjadi Tokoh Muda Terpopuler hasil survei Reform Institute mengatakan, jika di berbagai kota/kabupaten dan provinsi di Indonesia kaum muda dipercaya masyarakat jadi wali kota/wakil wali kota, bupati/wakil bupati, serta gubernur/wakil gubernur, maka pada Pilpres 2009, kaum muda harus berani maju. Peluang terpilihnya pun cukup besar.
“Kaum muda harus berani melakukan perubahan. Berani berbuat, menyongsong Indonesia yang lebih baik. Jangan mau dan membiarkan reformasi ekonomi, reformasi hukum, dan reformasi sosial-budaya menjadi slogan-slogan yang membusuk. Jangan mau hukum menjadi alat kejahatan yang terorganisir dan sistematis. Jangan mau birokrasi jadi penyandera, beban bagi kemajuan, ” kata Adhyaksa.
Menurut Menegpora, kondisi Indonesia yang lebih baik itu ditandai antara lain dengan hadirnya lembaga-lembaga hukum tidak kehilangan kredibilitas, lembaga-lembaga negara tidak kehilangan kepercayaan. “Dinamika dan dialog tentang persoalan bangsa harus dibangun, sebagaimana dulu dilakukan Natsir, Soekarno, Hatta, Sudjatmoko. Namun, yang terpenting NKRI adalah harga mati bagi kita,” tegasnya.

Tifatul Sembiring mengatakan, pemimpin masa depan yang diharapkan tidak hanya sekadar muda usia, melainkan juga harus segar pemikirannya dan mendalami betul persoalan bangsa. Saat ini masalah utama yang dihadapi bangsa kita ialah kemiskinan, kebodohan, orang sakit tak bisa berobat, dan pesimisme.

“Persoalan bangsa tidak bisa diatasi dengan mengiklankan diri kita. Persoalan bangsa tidak bisa diatasi dengan tebar pesona, tak bisa diatasi dengan nyanyi-nyanyian. Juga tak bisa diatasi, misalnya, dengan main film,” paparnya.

Menurut Presiden PKS ini, kaum muda yang layak jadi pemimpin bangsa itu harus mempunyai kredibilitas moral, visioner, spirit, dan kemampuan berkomunikasi. “Asal mememuhi persyaratan itu, siapa pun yang maju, walau bukan dari kaum muda PKS, kita akan dukung. Akan tetapi, antara persoalan bangsa dan pemimpin dari kaum muda yang dipilih itu harus nyambung. Ibarat ujian, jawabannya A, harus benar-benar ada kaitan, ” tandasnya.

Budiman Sudjatmiko, yang sempat mengomentari figur calon presiden AS, Barack Obama, mengatakan, untuk bisa menjadi pemimpin bangsa ke depan, siapa pun harus mampu membangun dan merawat institusional building. Sebab, katanya, persoalan bangsa Indonesia saat ini adalah telah terjadinya kebangkrutan bangsa.

“Ini akibat kita terlalu percaya dengan pemimpin yang kaya, sementara kekayaan itu hasil dari pencurian. Dan lebih tragis lagi, ia itu pencuri kawakan. Kaum muda harus menghindari hal ini,” ujarnya.

Sementara Khudori dalam paparannya mengatakan, kalau melihat sosok kaum muda, bayangan orang pasti PKS. “Kaum muda ke depan harus mengambil peran sesuai proporsinya. PKS adalah partai fenomenal, yang banyak diteliti,” ujarnya. (NAL)

Sumber : KOMPAS

5 Komentar »

  1. Setuju, sudah saatnya negeri ini dipimpin oleh kaum muda, yang mempunyai kredibilitas, komitmen yang teguh terhadap pendidikan (terutama), pembangunan infrastruktur (jalan)dan pertanian. Mereka harus dapat melihat jauh kedepan. Oleh karena itu, yang dipertandingkan adalah visinya, dan komitmennya. Bukan figur atau orangnya.

    Komentar oleh Singal — Juni 20, 2008 @ 8:36 pm

  2. Sebentar lagi PESTA POLITIK INDONESIA alias PEMILIHAN UMUM 2009 sudah
    didepan mata, apa yang akan anda harapkan pada negara ini kedepan ? Tentu saja dengan memilih wakil rakyat dan memilih pimpinan negara dengan mengikuti PEMILU 2009 atau menjadi GOLPUT ?
    Untuk itu, kami mengundang anda untuk bergabung dan berdiskusi pada ForumPEMILU. com
    Mari kita amati, singkapi dan mengkaji serta berpartisipasi dalam PEMILIHAN UMUM 2009 melalui ForumPEMILU. com sebagai wadah dan aspirasi anak bangsa dalam mengikuti dan mengawasi pesta politik terbesar di Indonesia.
    http://www.ForumPEM ILU.com turut mewarnai pesta politik indonesia

    Komentar oleh Miling List — Juni 24, 2008 @ 10:19 pm

  3. Kaum muda mesti punya keberanian untuk tampil. Karena kalau dilihat kembali ke masa-masa awal sejarah pergerakan mahasiswa misalnya, kaum muda justru lebih banyak tampil dan berperan ketimbang kaum tua. Selain itu kaum muda punya idealisme dan konsep berpikir untuk berubah, maka wajar sajalah kalu kaum muda sekarang ini tampil dan memperlihatkan kesungguhan dan kemauannya memperbaiki pola pikir bangsa Indonesia. Menurut Anda bagaimana?

    Komentar oleh opungregar — Juni 30, 2008 @ 10:59 am

  4. Sobat muda…
    Sebuah artikel menarik menjadi perenungan kita bersama,…..ketika sebuah kteladanan menjadi langka dinegeri kita tercinta…ketika pribadi santun, bersih,toleran,konsisten,teguh pendirian bukanlah dongeng belaka,perjalanan pengukir sejarah negeri,panutan bangsa indonesia :)
    Salam cinta tanah air
    Tiada kata akhir untuk belajar seperti juga tiada kata akhir untuk kehidupan,
    Annemarie Schimmel)

    Komentar oleh Dwi Irwanti — Juli 16, 2008 @ 12:03 pm

  5. Otonomi menjadi semakin menarik, ketika dilihat secara esensial dari
    konteks budaya lokal. Sebab budaya lokal … selain sebagai mediasi,
    juga menjadi sumber inspirasi sekaligus sebagai kontrol sosial dalam
    masyarakat modern dan yang ingin memodernisir dirinya.
    Dengan demikian pelaksanaan otonomi daerah hendaklah dikatakan sebagai
    proses yang ikut ambil bagian membuka bidang-bidang baru bagi
    pemberdayaan ekonomi rakyat. Lalu peran serta kelompok swadaya
    masyarakat diharapkan dapat menciptakan sejumlah sektor jasa ekonomi.
    Kemudian sektor jasa profesi menjadi bidang primadona dalam konteks
    pelayanan publik.

    Komentar oleh opungregar — Juli 30, 2008 @ 12:26 am

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.